Konspirasi Dalam Sejarah

5 Februari 2010 wardoyo 7 komentar

Kata konspirasi mudah dicari dalam kamus. Artinya kurang lebih persekongkolan atau berkomplot. Konspirasi sering dikonotasikan negatif mengingat yang sering ditonjolkan adalah situasi yang melibatkan banyak proses lain seperti manipulasi, agitasi, kamuflase, reduksi informasi dan sebagainya.

Catatan sejarah dunia penuh dengan peristiwa yang disebut-sebut sebagai sebuah konspirasi. Perbuatan jahat warga Mekkah saat hendak membunuh Muhammad di malam Hijrah disebut sebagai konspirasi. Pembunuhan Presiden AS – John F. Kennedy – 1963, ditengarai akibat suatu konspirasi. Di Indonesia, hancurnya PKI pasca G 30 S dinilai oleh beberapa pihak sebagai suatu tindakan konspirasi. Bahkan, peristiwa krisis ekonomi global 1998 – disebut-sebut sebagai perbuatan konspirasi global yang dilakukan oleh Soros dkk. Dalam bidang hukum kasus Bibit/Chandra serta kasus mantan Ketua KPK Antasari Azhar – disinyalir kuat beraroma konspirasi. (Sekedar catatan : dalam dokumen polisi dan kejaksaan selalu digunakan istilah “persekongkolan” bukan konspirasi, meski menurut kamus artinya tidak berbeda).

Maka, lengkaplah sudah stempel buruk yang dilekatkan pada kata konspirasi.

Padahal, setidaknya ada satu peristiwa dalam sejarah Indonesia yang menurut saya sebuah konspirasi, tetapi tidak berkonotasi negatif. Peristiwa itu adalah PRRI / Permesta. Sekali lagi, ini menurut saya pribadi – yang barangkali sedikit berbeda dengan versi sejarah resmi.

Diawali dengan hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag yang mengharuskan Belanda menyerahkan Tanah Papua kepada Indonesia dalam 10 tahun. Namun pembicaraan mengenai Papua selalu dihindari oleh Belanda. Semua cara-cara diplomasi telah dilakukan pihak Indonesia, tak satupun berhasil. Pihak Belanda mengulur-ulur waktu, bahkan memperkuat armada laut dan daratnya di tanah Papua.

Tentu saja hal ini membuat Soekarno gerah, begitu juga dengan para diplomat Indonesia dan bapak bangsa yang lain. Papua adalah harga mati, bagian dari wilayah Republik Indonesia! Maka Soekarno memberi nama baru pada pulau tersebut yaitu – Irian Barat. Semangat yang merebak di era 50-an adalah “merebut kembali Irian Barat” dan mengusir kolonialis Belanda selama-lamanya dari Asia Tenggara. Dengan cara apapun!? Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke, tak cukup hanya sampai Kupang dan Ternate.

Pilihan lain setelah proses diplomatik gagal adalah dengan kekerasan – perang!

Sayangnya, semua pemimpin negeri ini sadar betul bahwa TNI saat itu hanya memiliki modal semangat, bukan senjata. Ini masalah besar. Tak mungkin berperang dengan senjata peninggalan PD II sisa rampasan dari Jepang atau sisa Agresi II Belanda yang dibantu Sekutu.

Dan republik ini saat itu terlalu miskin untuk membeli persenjataan dalam jumlah yang memadai, apalagi ada hambatan diplomatis dengan pihak AS dan Inggris yang bersikap melindungi kepentingan Belanda, sehingga kita tidak bisa berhutang membeli senjata dari mereka untuk digunakan melawan sekutu mereka sendiri.

Berlakulah hukum politik : musuh dari musuhmu adalah kawanmu.

Kemana lagi Soekarno mencari persenjataan selain kepada musuh laten AS yaitu Uni Sovyet? Walaupun dengan konsekuensi di dalam negeri sendiri PKI menjadi lebih subur dan kuat, namun demi sebuah cita-cita besar hal itu tetap dilakukan. Itupun terbatas juga, senjata yang diperoleh masih jauh dari mencukupi.

Demi sebuah Pulau yang menjadi obsesi saat itu – maka terjadilah kronologis berikut ini :

20 Desember 1956 : Pembentukan Dewan Banteng di Sumatera, dipimpin oleh Letkol Ahmad Hussein. Gerakan ini disusul oleh Dewan Gajah di Sumatera Utara yang dipimpin Kolonel M. Simbolon. Selanjutnya muncul Dewan Garuda di Sumatera Selatan yang dikomdani Letkol Barlian dan Dewan Manghuni di Sulawesi Utara oleh Letkol Vence Samuel. Yang digembar-gemborkan oleh gerakan ini adalah permintaan hak otonomi dan pemerataan.

Gerakan ini memperoleh banyak simpati. Namun belum cukup mampu menggerakkan Amerika untuk membantu. Maka Soekarno semakin mendekat ke kubu kiri, hingga situasi semakin memanas karena Amerika mulai merasa cemas. Telinga agen-agen CIA yang terus memantau kondisi RI mulai tegak berdiri.

18 November 1957 : diadakanlah Rapat Umum Pembebasan Irian Barat di Jakarta. Soekarno kembali menggertak Belanda untuk hengkang dari tanah Papua. Dibantu dengan kekuatan PKI saat itu maka, pada 22 Desember 1957 terjadilah Pemogokan Buruh di seluruh perusahaan Belanda di Indonesia.

Museum Bank Mandiri - dahulu Gedung Escompto

Belum puas dengan hal ini, Soekarno pada awal tahun 1958 menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia, diantaranya percetakan de Unie, Bank Escompto (N.I.Escompto Mij ) yang merupakan Bank yang dipercayai para pengusaha perkebunan sejak 1857, dan berbagai perusahaan pertambangan dan perkebunan milik Belanda lainnya.

Genting!! Itulah yang dilaporkan di berita-berita dan disiarkan kemana-mana. Apalagi setelah  pada tanggal 10 February 1958 dibentuk Front Pembebasan Irian Barat.

Dalam waktu seminggu setelah Front terbentuk ada 2 peristiwa penting yang mengiringinya, yaitu deklarasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat pada 15 February 1958, serta proklamasi Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta)17 February 1958 – di Sulawesi Utara. Semua deklarator menyatakan melepaskan diri dari pemerintah pusat Jakarta.

Saya termenung kalau membaca episode ini. Saat itu posisi CIA di Indonesia ibarat kucing lapar yang telah lama menunggu mangsa, kemudian tiba-tiba ada umpan gurih melintas di depan mata. Bagaimana kucing CIA bisa tahan menghadapi?. Maka Amerika segera mengirimkan Armada Ke-7 mendekati perairan Indonesia, dan agen-agennya gesit mencari kontak. Tak tanggung-tanggung, Amerika mensuplai banyak persenjataan untuk mengimbangi langkah Soekarno yang kembali meminta bantuan Sovyet melengkapi persenjataan TNI menghadapi “pemberontakan” di berbagai daerah di Indonesia.

Dan – menurut saya – bukanlah kebetulan jika barisan PRRI disokong oleh Mr. Syafrudin, Moh. Natsir, Syahrir dan bahkan Bung Hatta. Nama-nama yang jelas bersebrangan dengan PKI yang didukung penuh Sovyet.

Jadilah saat itu (dalam tempo satu bulan saja) Indonesia kebanjiran senjata. Itulah kenyataannya!!

Pesawat B-26 TNI AU siap 'menumpas' PRRI (dok. TNI AU)

Operasi militer memang digelar sungguh-sungguh oleh Jendral Ahmad Yani, Maret 1958. Tetapi, apa yang terjadi?

CIA mencatat, pasukan PRRI sepertinya “ogah-ogahan” melawan TNI!

Dan dalam tempo tidak sampai setengah bulan, pergerakan PRRI / Permesta berhasil “ditumpas”.

Itulah yang disebut dengan pepatah : Sekali merengkuh gayung, dua tiga pulau dilampaui.

Jadi, siapa yang berkonspirasi? Apakah CIA berkonspirasi dengan Vence Samuel, Barlian atau Ahmad Hussein untuk melakukan kudeta? Ataukah sebenarnya telah disusun “konspirasi tingkat tinggi” antara Panglima Tertinggi – Presiden Soekarno – dengan para perwira menengah dan bapak-bapak pendiri bangsa ini ??

Apakah Amerika mengira, seorang Kolonel atau Letnan Kolonel yang telah makan asam garam perjuangan kemerdekaan di era ‘45 – ‘50 mau mengkhianati negara? Apakah mungkin seorang Hatta, Natsir, Syafrudin benar-benar akan makar?

Itulah pengorbanan yang dilakukan bapak-bapak pendahulu kita. Demi sebuah tujuan yang disepakati, mereka telah berkorban apa saja. Sejarah takkan ditulis ulang, walaupun Soekarno telah memberi amnesti kepada para “pemberontak” PRRI/Permesta, tetapi sepanjang sejarah bapak-bapak pejuang itu akan tetap dicap pernah memberontak, dan itu suatu cela yang luar biasa.

Pengorbanan pahlawan sejati. Demi mempersenjatai TNI, para perwira itu telah mengorbankan nama baik – selamanya. Beberapa penduduk menjadi korban “pertempuran” dan penjarahan, jalan dan jembatan menjadi korban “pemboman” pasukan Ahmad Yani. Usulan agar Dr, Mohammad Natsir dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional” bahkan sempat terganjal karena beliau pernah terlibat pemberontakan PRRI.

Akhirnya – 2 January 1962 – Operasi Mandala digelar. Operasi Pembebasan Irian Barat. Dengan 11 kapal selam kiriman Uni Sovyet, sejumlah pesawat dan fregat, serta ribuan pucuk senjata campur aduk made in USSR dan made in USA. Indonesia tidak kekurangan bahan bakar setelah nasionalisasi perusahaan minyak Belanda.

Justru Belanda di Papua menciut nyalinya. Mereka tidak mempunyai dukungan logistik untuk perang jangka panjang. Sedangkan Indonesia punya segalanya saat itu : senjata dan semangat mengusir kolonial.

Dan yang paling merah wajahnya adalah kucing CIA. Mereka tertipu mentah-mentah di tahun 1958, namun malu untuk mengakui… CIA hanya mencatatnya sebagai “percobaan kudeta yang gagal di tahun 1958!”. Konspirasi mereka termakan konspirasi yang lebih luhur.

Di balik sebuah "Peristiwa Besar" biasanya tersembunyi sebuah konspirasi.

Jadi, rasa hormat dan salut sepenuhnya saya persembahkan kepada para pimpinan pejuang PRRI / Permesta yang telah rela mengorbankan diri demi sebuah cita-cita Kemerdekaan Indonesia – dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya sampai Ternate.

_____________________

Catatan tambahan :
1. Letkol (Purn.) Vence Samuel pernah diwawancara secara terbuka di stasiun TVRI di akhir 80-an. Saya bersyukur mengikuti acara yang bagi sebagian orang tentu tidak dipandang menarik. Banyak kisah dan fakta sejarah yang diungkap dalam acara di malam hari itu.
2. Bapak saya (Letkol. alm.) dahulu sewaktu muda adalah salah satu pelaku sejarah yang mengikuti perang “penumpasan” PRRI di bawah komando Jendral Ahmad Yani. Banyak keanehan yang tidak dimengertinya – seperti yang diceritakan beliau kepada saya – diantaranya perintah “1 peluru untuk 1 nyawa”. Setelah tua bapak baru sadar kalau perintah itu berarti “jangan buang-buang peluru” – sebuah pernyataan eksplisit bahwa perang saat itu bagaikan sebuah “permainan atau konspirasi”. Adalah kenyataan bahwa dalam operasi Mandala – 1962 – persenjataan Indonesia campur aduk – karena bapak saya ikut juga dalam operasi itu.
Categories: Catatan Sejarah, Opini

Sempurna atau Jumud

25 Januari 2010 wardoyo 18 komentar

Sesuatu yang manusiawi adalah sesuatu yang wajar dan alami. Karena manusia itu tidak sempurna, maka kesempurnaan itu menjadi tidak manusiawi, tidak wajar dan tidak alami.

Tidak ada yang sempurna. Dalam konsep pengikutnya – Islam adalah agama yang sempurna, namun – masih di dalam konsep – perbedaan pendapat dan keberagaman diijinkan sebagai sesuatu yang manusiawi, sesutu yang alamiah. Jadi – kesempurnaan itu ada dalam ketidaksempurnaan.

Secara naluriah, kita memuja kesempurnaan. Tetapi sekaligus tidak menyukai yang serba sempurna, dan memilih yang terbatas dan manusiawi.

Sejarah teknologi mencerminkan hal ini, yaitu saat Microsoft memenangkan persaingan di pasar dari pesaing utamanya – Apple – justru karena Microsoft memiliki segudang kelemahan. Apple mempromosikan produknya dengan embel-embel perfect, satu kali untuk seumur hidup, long life guarantee dsb. Sementara Microsoft hanya menyatakan produknya dapat membantu hidup kita dan membuatnya menjadi lebih indah. Apple menawarkan kesempurnaan, Microsoft menawarkan dunia perubahan tanpa batas. Apple menawarkan kemapanan, Microsoft justru menawarkan produk yang belum tuntas – selalu dalam proses penyempurnaan.

Masyarakat mapan dan pemuja kesempurnaan sangat menyukai Apple, tetapi jauh lebih banyak lagi orang yang menggunakan Microsoft. Produk Microsoft justru disukai karena tidak sempurna, mudah diserang hacker dan gampang dibajak, tetapi dijual mahal.

Bercerminlah pada sejarah. Ketika sesuatu dinyatakan sempurna, maka sesuatu itu menjadi statis, mandeg dan buntu. Dalam istilah agama disebut jumud. Pernah dalam satu sesi sejarah peradaban Islam, ketika para ulama dan masyarakat menyatakan bahwa pemikiran 4 madzhab fiqh adalah final dan perfect. Saat itulah peradaban Islam berada di jurang kebuntuan, titik kejumudan dalam rangkaian panjang kemajuan.

Kesempurnaan menjadi berkorelasi dengan kemandegan. Justru ketidaksempurnaan yang manusiawi itu identik dengan kemajuan dan sikap dinamis.

Skandal Bank Century memberikan pelajaran berharga tentang ketidaksempurnaan sistem, teori-teori ekonomi dan pemikiran para pakar dan pengamat perbankan di negeri ini. Justru karena menonton berbagai kekuarangan dalam orkestra di Gedung DPR itulah kini kita mengalami kemajuan mental yang luar biasa dalam berpikir dan bertindak.

Jika Anda seorang produsen, disarankan untuk sekali-sekali tidak mencantumkan kata perfect – sempurna – dalam produk Anda. Mie Sedaap yang sempat mengguncang pasar mie-instan yang selama ini dikuasai Indofood dahulu membuat langkah keliru ketika beriklan dengan tema “mie yang dibuat dengan sempurna”. Langkah ini sama dengan mengatakan, “kami berhenti di sini”. Karena itu, buatlah produk yang inovatif namun tidak sempurna.

Roti Boy berdiri karena konsep “satu cukup untuk semua”. Dengan satu resep, dijamin semua orang suka. Perfect – Sempurna! Harus diakui – Roti Boy – memang enak dan punya pangsa pasar besar. Tetapi pasar yang jauh lebih besar tidak membeli Roti Boy, mereka lebih memilih MD, dan Bread-bread yang lain. Orang banyak lebih menghargai ketidaksempurnaan.

Sejak kapan Indonesia mempunyai Presiden sempurna?? Tidak pernah! Namun para pemuja kesempurnaan menganggap, jika Presiden menyanyi dan membuat album lagu akan mengurangi kesempurnaan Sang Presiden. (Apa iya sih??)

Jadi, hargailah perbedaan. Karena kita memang tidak sempurna.

Jadi, apakah selingkuh itu manusiawi? Hasrat selingkuh adalah manusiawi, tetapi perbuatan selingkuh adalah dosa. Lebih baik poligami aja…

Categories: Opini

Hemat Pangkal Kaya

21 Januari 2010 wardoyo 12 komentar

RAJIN PANGKAL PANDAI

HEMAT PANGKAL KAYA

*

Para kaum cerdik-pandai dan penyair di masa lampau begitu getol menyebarkan pepatah ini di kalangan rakyat. Dalam buku, syair dan berbagai kitab pepatah ini dijadikan pegangan.

Mengapa rakyat mesti rajin ?
Karena memang rakyat harus rajin supaya bisa digunakan tenaganya dan mengabdi di istana raja-raja.

Mengapa pula rakyat harus hemat ?
Karena kalau tidak hemat pasti penghasilan rakyat takkan cukup untuk hidup.

Pepatah ini dalam sejarah kerajaan tidak berlaku untuk kalangan pejabat dan para pangeran. Seorang pangeran tidak  berhemat, karena semua telah tersedia dan dicukupi.
Rajin bukanlah syarat, karena pelayan dan pengawal berada di sekeliling siap menanti perintah. Tanpa syarat rajin dan hemat Putra Mahkota bisa menjadi Raja – kalau sudah waktunya.

Seperti kata pepatah : anak harimau adalah harimau juga.

Jadi, syarat rajin dan hemat adalah untuk rakyat jelata dan orang awam berdarah merah atau hitam. Syarat ini tidak berlaku untuk mereka yang berdarah biru.

Seiring dengan berlalunya masa, percayalah, bahwa di masa sekarang syarat untuk menjadi pandai dan kaya sudah berbeda sama sekali.

Pangkal pandai bukanlah rajin, tetapi mempunyai orang tua kaya yang bisa membiayai banyak fasilitas pendidikan yang serba mahal.

Pangkal kaya bukan lagi berhemat, tetapi mempekerjakan orang rajin, orang disiplin dan orang pandai sebagai bawahan dan karyawan.

Categories: Cerita Miring

Jepang di Mata Seorang Kubilai Khan

18 Januari 2010 wardoyo 13 komentar

Kepulauan Jepang di masa lalu beserta masyarakatnya dinilai sangat tinggi oleh Kaisar Mongol yang terkenal – Kubilai Khan.

Seperti yang diceritakan dalam sejarah, Dinasti Yuan (Kekaisaran Mongol Timur) yang dipimpin oleh Kubilai Khan telah dua kali melakukan invasi ke Jepang. Invasi pertama tahun 1274, sedangkan invasi kedua tahun 1281. Sementara invasi untuk menaklukkan Nusantara dilakukan pada tahun 1293.

Imperium Mongol saat itu telah terbagi dua. Kekaisaran Mongol Barat di bawah Hulagu Khan (sebagai Khan Kecil atau Ill Khan) dan Kekaisaran Mongol Timur di bawah Kubilai Khan (Khan Besar). Pada masa Kubilai inilah Mongol mencapai puncak kebesarannya, sekaligus awal dari kemunduran sebuah dinasti. Setelah kerajaan Sung Selatan berhasil ditaklukan (1279 M), Kubilai menamakan kekaisarannya dengan nama dynasti Yuan. Dynasti Goryeo (Koryo atau Korea) juga tunduk menjadi kerajaan satelit Mongol. Dinasti Yuan beribukota di Beijing dimana Kubilai menyebut ibukota kekaisaran dengan nama The Forbidden City – (Daidu atau Ta-tu, Marco Polo dalam bukunya The Travels mencatatnya Khanbalik), serta membangun sebuah  istana musim panas yang megah di Shangtu atau Xanadu – pada 1264 M.

Tahun 1266 M, Kubilai mengirimkan surat kepada penguasa Jepang Shikken Hojo Tokimune. Isi suratnya meminta agar Shogun mengakui kebesaran Mongol dan takluk di bawah naungan Bendera Srigala. Namun utusan Kubilai kembali dengan tangan hampa.

Tahun 1268 M, dikirimlah utusan kedua dengan maksud yang sama. Utusan kedua ini kembali pulang dengan jawaban kosong. Hojo Tokimune tidak memberikan jawaban. Tercatat dalam sejarah Jepang, Kubilai mengirim utusan berkali-kali yakni pada tanggal 7 Maret 1269, 17 September 1269, September 1271 dan May 1272. Seluruhnya ditolak tanpa jawaban. Read more…

Categories: Catatan Sejarah

Yang Kontroversial Yang Terkenal

11 Januari 2010 wardoyo 17 komentar

Semua Serba Kontroversial

Sepanjang sejarah manusia modern, kontroversi adalah kata ajaib yang selalu menarik perhatian. Marilyn Monroe dan Madonna pernah menjadi kontroversi dalam sejarah melalui penampilan dan atraksi panggungnya. Semakin kontroversial aksinya, maka mereka akan semakin terkenal.

Kita masih ingat, di awal era millenium aksi dan goyangan Inul Daratista menjadi sesuatu yang kontroversial. Di kala itu, kalau Inul sedang manggung – walau di tengah kontroversi – segala macam aksi gila-gilaan Britney Spears atau Shakira menjadi tidak ada artinya.

John Lennon di akhir era 70-an menuai kecaman karena bertindak kontroversial – menikahi Yoko Ono, seorang berdarah Jepang. Padahal sekarang ini perkawinan antar etnis bukan hal aneh. Bahkan menjadi trendsetter di kalangan selebritis jika bisa memperoleh pasangan dari etnis Eropa atawa Amrik.

Sewaktu saya menikmati masa remaja di SMA Negeri di tahun 1983-an, beberapa teman siswi menggunakan jilbab ke sekolah. Maka, jadilah jilbab sebagai isu panas yang kontroversial. Walaupun di era 90-an hal ini menjadi sesuatu yang biasa.

Buku “membongkar Gurita Cikeas” adalah sebuah kontroversial di penghujung tahun 2009. Karena saat ini – masyarakat Indonesia – sedang menikmati masa 100 hari kepemimpinan Presiden SBY dengan suguhan drama sinetron Bank Century.

Jadi, apa sih kontroversial itu??

Read more…

Categories: Cerita Miring

Sepenggal Kisah Mahabarata

7 Januari 2010 wardoyo 18 komentar

Alkisah, pada satu kesempatan Duryudana dan para Kurawa mengundang Pandawa Lima untuk berpesta di Hastinapura. Dalam pesta pora itulah Pandawa terkena rayuan Sengkuni, hingga mabuk dan ikut berjudi.

Inilah awalnya.

Akibat kalah berjudi, Pandawa Lima dan Dewi Drupadi harus menjalani pengasingan selama 12 tahun di hutan ditambah 1 tahun dalam penyamaran.

Setelah masa pengasingan 12 tahun di hutan Kamiaka, Pandawa keluar dan pergi ke negeri Wirata. Para penggemar wayang tentu paham mengenai Lakon Wiratapurwa, kisah tentang Pandawa yang tengah menyamar dan bersembunyi di Hutan Wirata.

Read more…

Categories: Opini

Ternyata, Semua Hanya Di Atas Kertas

4 Januari 2010 wardoyo 10 komentar

HAPPY NEW YEARS  alias  SELAMAT TAHUN BARU

Ucapan ini bersliweran sejak 4 hari yang lalu. Di Facebook, di berbagai blog, di Handphone dan di layar televisi.

Terus-terang, selama berhari-hari, pikiranku menerawang ke masa ribuan tahun yang lalu. Saat manusia dari berbagai bangsa mulai bergaul dan berinteraksi. Saat Raja-raja di berbagai belahan dunia memerintah. Saat sebagian kecil manusia memperhatikan langit dan bumi, siang dan malam, perjalanan bulan – matahari – dan bintang-bintang. Saat dimana hanya sedikit manusia yang disebut priest – bhiksu – pendeta – para pemikir – dan ilmuwan mulai mencatat dan merumuskan hari dan bulan. Sang Waktu mulai dituliskan.

Dalam bayangan imajiner saat ini, bumi bergerak mengelilingi matahari dengan sumbu menyudut terhadap lintasan, menyebabkan matahari ’seolah-olah’ bergerak dari 23,5 derajat Lintang Utara menuju equatorial dan terus ke selatan hingga posisi 23,5 derajat Lintang Selatan dan kembali lagi ke equator (posisi 0 derajat lintang). Karena itulah,  di negara ini – Indonesia, aku bisa melihat matahari sepanjang tahun,  dan hanya mengalami dua musim (panas-dingin, atau kemarau-penghujan).

Berbeda dengan negara dengan posisi lintang di atas 23,5 derajat. Mereka mengalami empat musim (semi-panas-gugur-dingin) yang posisinya berkebalikan antara belahan bumi utara dan selatan. Jadi, perayaan Natal di belahan Eropa/Amerika/Canada terjadi saat musim dingin dan salju turun. Sementara di Australia dan New Zealand masyarakat merayakan Natal di tengah musim panas.

Inilah misteri sang waktu. Di bawah matahari yang sama, waktu yang dituliskan menjadi berbeda-beda.

Sejarah Kalender

Kabarnya – sejarah kata kalender berasal dari masa imperium Romawi ketika para pendeta mereka menyebut hari pada awal New Moon dengan sebutan Kalendae atau Kalends.

Read more…

Categories: Catatan Sejarah

50 Tahun Pengakuan Kedaulatan RI 27-12-1949

27 Desember 2009 wardoyo 16 komentar

27-12-1949 : Pengakuan Kedaulatan atau Penyerahan Kekuasaan

Untuk lebih memahami latar belakang Peristiwa Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda 50 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 27 Desember 1949 berikut ini kronologis peristiwa dalam versi sejarah resmi :

(Foto Lubang Bundar, bukan Meja Bundar)

Antara tahun 1946 hingga 1948 Pemerintah Belanda yang tetap ingin kembali menikmati manisnya gula tebu Indonesia menggelar politik pecah-belah. Mereka mendirikan federasi – negara kecil berikut ini : Read more…

Categories: Catatan Sejarah