RSS

The Present is The Key to The Past

Untuk melihat apa yang terjadi di masa lalu, pelajarilah masa kini.
Dan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang, bercerminlah pada sejarah masa lalu.

Sebuah Cerita tentang Ilmu Geologi dan para geologist.

Pegunungan di wilayah Flores (Koleksi Pribadi)

Di masa lalu, para peneliti geologi telah memperhatikan alam, mengamati perilaku sungai – angin – es – lautan – gunungapi – badai – tanah longsor dan segala fenomena alam lainnya. Para geologist menjelajahi bumi dari gurun hingga ke kutub, melampaui semua benua dan tujuh samudra. Dicatatnya setiap butir batu di sungai, di tebing-tebing, di tepi kawah, di dasar laut atau di puncak gunung bersalju.

Para ahli geologi menghitung kecepatan gelombang tsunami, aliran banjir, kecepatan lahar, letupan gunung meletus, hingga pencairan es di lembah-lembah. Dibukukannya alam yang diam dan alam yang bergerak dinamis. Mereka menyelidiki pijaran lava dan magma di dalam perut gunung, mencatat suhu dan jenis materialnya, mengamati proses pembekuannya hingga menjadi batu.

Foto tentang salah satu keajaiban geologis, dicuplik dari salah satu blog

Ahli geologi menyelam menatap dasar laut, berjalan menantang arus sungai, menyabung nyawa di tepian kawah yang menggelegak, menjelajahi hutan dan gunung-gunung bahkan hingga ke sudut-sudutnya yang tergelap.

Para ahli geologi tak gentar dengan tsunami, caving ke gua-gua yang terdalam, tak mundur dalam banjir lahar, bahkan mendekat saat sebuah gunung batuk-batuk dan magma cair merah meleleh keluar dari sarangnya.

Semua yang tak masuk akal dan seluruh perilaku alam dicatat dan dikumpulkan. Karena semua orang yang mempelajari geologi berprinsip sama :

The Present is The Key to The Past.

Berbincang dengan Rusa di P Komodo Flores, NTT (Koleksi Pribadi)

Mereka berbicara kepada batu dan pasir, menyapa angin dan badai, merasakan simfoni banjir lahar dan tanah longsor sebagai kesatuan harmoni dalam hukum alam semesta, sesuatu yang berujung dan berpangkal.

Sesuatu yang terjadi di masa kini bisa menceritakan kejadian di masa lalu. Dan dari suatu kejadian di masa lalu bisa meramalkan masa depan.

Maka, para geologist selalu menambahkan dimensi waktu dalam setiap ulasannya. Batu bukanlah sekedar batu. Karena batu memiliki masa lalu. Tanah bukanlah sekedar tanah, karena tanah adalah akhir perjalanan sebuah batu yang melapuk.

Karena itulah para geologist berbicara dalam tiga dimensi waktu. Waktu di masa lalu, waktu sekarang ini, dan waktu di masa depan. Cakrawala waktu dibentang hingga milliaran tahun, sehingga waktu seribu tahun hanya sebuah garis tipis di atas catatan seorang geolog.

Lalu muncullah ilmu sedimentologi dan stratigrafi. Perbedaan keduanya ada dalam pengamatan dan bahasa kesimpulan.

Sedimentolog mengamati ‘proses saat ini’, dan berdasarkan sejarah yang sama di masa lalu akan  meramalkan ‘produk hasil proses’ di masa mendatang. Sementara Stratigrafi mengamati ‘produk saat ini’ yang merupakan hasil dari sebuah ‘proses di masa lalu’.

Sedimentologist biasanya mencatat : Setelah melakukan observasi terhadap lingkungan A, proses pengendapan B, kecepatan arus C, arah aliran D, kedalaman sungai E, material F, suspensi terlarut G, … bla..bla… berdasarkan teori M, N dan O di masa lalu, maka sangat dimungkinkan akan terbentuk endapan baru bertype X1, Y1 atau Z1 dengan struktur S tetap berperan di masa mendatang.

Sedangkan ahli stratigrafi akan menuliskan : Setelah melakukan observasi pada tebing T, urutan perlapisan serta ciri-ciri fisik batuan X, Y dan Z yang dikaitkan dengan struktur S yang ada, berdasarkan pada teori M, N, dan O, besar kemungkinan batuan ini terbentuk pada lingkungan A akibat proses B1, C1 dan D1 dengan persyaratan E1, F1, G1, bla…bla…. yang terjadi di masa lalu.

Jadi, bagaimana jika ada sedimentologist dan ahli stratigrafi kebetulan nyambi profesi menjadi pengamat politik, peramal nasib atau penulis sejarah amatiran?? Apa ya kira-kira pernyataan mereka?

 

4 responses to “The Present is The Key to The Past

  1. sedjatee

    4 Februari 2010 at 09:42

    cuma mau kasih komen fotonya… judul foto: berbincang dengan rusa, tapi gambarnya orang merokok… wah, ngobrol sama binatang ngomongin rokok ya… huehehehe… sukses…

    sedj

     
    • wardoyo

      5 Februari 2010 at 16:12

      terimakasih bung untuk intermezzonya… salam sukses.

       
  2. Kakaakin

    5 Februari 2010 at 02:13

    kira2 begini:
    lapisan2 yang terdiri dari banyaknya partai2 di masa lalu ditambah kondisi iklim politik yang buruk menimbulkan kerapuhan pada struktur tanah bangsa. Hal ini telah sangat terbukti dari penampang dinding sejarah yang kita belah.
    Bila saat ini lapisan yang ada masih berupa partai2 yang tidak stabil dan cenderung bergesekan ditambah lagi dengan suhu (politik) yang sangat panas, atau guyuran kitik yang begitu deras dan keras, tidak menutup kemungkinan akan terjadi longsoran tanah bangsa.
    Hehehe… jadi ngelantur🙂

     
    • wardoyo

      5 Februari 2010 at 16:25

      Bagus analisisnya @kakaakin.
      Tak perlu pakai bahasa geologist untuk menjadi peramal. Misalnya saja kasus Bank Century. Catatan seorang geologist setidaknya akan berbunyi : melihat perkembangan pansus hak angket (A) dan didukung hasil audit BPK (B), testimoni Susno (C), dan pergolakan mahasiswa dan demonstran (D), serta melihat kasus yang sama di masa lalu (BLBI) dan kasus serupa di Amerika dan Jerman (M, N, O), menurut hukum yang berlaku seharusnya akan terbentuk kristalisasi situasi yang berujung pada kemungkinan X, Y, dan Z. Semua akan ditentukan oleh faktor struktur S, dan T (maksudnya Sok Tahu gitu … he..he…).

      Semakin membingungkan ya… huaahaahaahaa…

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: