RSS

Arsip Tag: Indonesia

Belajar Sejarah Berarti Belajar Menghargai

Belajar sejarah adalah belajar menghargai.

Catatan kecil : Naskah artikel ini sudah cukup lama tersimpan dalam draft, nyaris terlupakan dalam tumpukan. Sayang jika dibuang ke tong sampah…. mudah-mudahan menjadi pelajaran yang berharga.

____________________

Beruntunglah bangsa Indonesia memiliki Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Tak peduli apapun kekurangan masing-masing, nyata-nyata kedua Presiden Indonesia tersebut mempunyai andil besar  dalam membentuk mental dan sikap bangsa ini untuk bersikap apik terhadap simbol-simbol dan lambang Negara Indonesia.

Soekarno dan Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang menghargai sejarah, meski dengan sudut pandang dan cara yang berbeda. Jika Soekarno dengan pidatonya yang terkenal Jas Merah dan membuat buku Di Bawah Bendera Revolusi sebagai bacaan wajib kaum terpelajar, maka Soeharto  membuat film Janur Kuning, dan memerintahkan penulisan Buku Putih Gerakan 30 September yang juga difilmkan.

Kedua Pemimpin Nasional RI itupun tersebut, termasuk orang yang sangat menghargai seremoni. Tradisi setiap tanggal 17 Agustus selalu disiapkan dengan cermat dan memukau. Merekapun tidak lupa menularkan kesukaan mereka itu kepada kita melalui serangkaian aturan, protokoler upacara, ceramah etika dan melalui buku-buku pelajaran sekolah di masa kedua pemimpin itu berkuasa.

Hasilnya, bisa dilihat di masa sekarang….

Apakah hal ini cukup membuat kita bangga sebagai bangsa??

______________


Warga Malaysia: Tirulah RI Hormat Bendera
By Elin Yunita Kristanti –  dikutip dari ViVA News edisi Jumat, 25 Juni 2010 –

Seorang warga Malaysia mengaku iri ketika pergi ke Bandung Jawa Barat. Dia melihat bagaimana orang Indonesia dengan hormat memperlakukan benderanya, Sang Saka Merah Putih.

Dalam laman New Straits Times, 24 Juni 2010, Norman Fernandez menuliskan curahan hatinya yang berjudul, ‘Perlakukan Bendera Kita Lebih Baik’.

“Baru-baru ini aku mengunjungi Bandung, Indonesia. Di sana aku mengamati penjaga keamanan di hotel yang kutinggali, mengibarkan bendera Indonesia di pagi hari,

Saat matahari terbenam, penjaga itu menurunkan benderanya — tak membiarkan bendera itu menyentuh tanah, lalu melipatnya dan menyerahkannya ke resepsionis. Hal itu juga kerap dilakukan di gedung-gedung pemerintah.

Aku juga diberi tahu, bahwa anak sekolah di Indonesia diajarkan tak hanya soal arti dari warna bendera — merah dan putih, tapi juga sejarahnya, protokol dan etika mengibarkan bendera.

Selama lima hari aku di Bandung, aku tak pernah melihat bendera Indonesia compang-camping dan pudar warnanya.

Di sini, di Malaysia, pernahkan Anda melihat petugas keamanan di gedung-gedung pemerintah mengibarkan bendera ‘Jalur Gemilang’ atau bendera negara bagian?

Jika lain kali Anda ke Johor Bahru, lihatlah bendera Malaysia dan bendera Johor Bahru yang pudar berkibar di tiang bendera.

Aku juga sering melihat anak-anak berpakaian dengan motif bendera, ‘Jalur Gemilang’ yang dibuat dari potongan bendera Malaysia. Atau penyanyi baru, Sudirman Arshad yang memakai baju seperti itu. Dapatkan kita menjahit bendera dan dijadikan baju?

Minggu lalu aku berkendara dari Johor Bahru ke Kulai. Saat melewati gedung-gedung pemerintah, aku melihat bendera yang compang-camping dan kotor.

Yang paling hina, menurutku, ada yang memakai bendera Johor untuk membungkus pepaya di pohon.

Untuk mengibarkan bendera, baik ‘Jalur Gemilang’ maupun bendera Johor, misalnya, sudah ada aturannya. Namun tak ada yang mengindahkannya.

Sudah saatnya pemerintah mendidik masyarakat soal etika dan protokol memperlakukan bendera, termasuk pada bendera yang telah usang…..



 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2011 in Cerita Miring, Opini

 

Tag: , , , , , , ,

Yang Benar-benar Berjasa

Kaca Benggala

Baru 55 tahun yang lalu bangsa ini menjadi Republik. Usia belumlah tua. Tetapi alangkah sulitnya mencari Pahlawan di negeri ini.

Siapa lagi yang berhak atas gelar “Yang Berjasa” memperjuangkan tegaknya Indonesia? Jika jasa berjuang itu melulu identik dengan mengangkat senjata, maka tentara dan polisi republik bakal memborong gelar Pahlawan duapuluh tahun dari sekarang.

Betapa menyedihkan jika seorang mantan pejabat negara – seperti mantan Presiden misalnya – diusulkan menjadi Pahlawan. Padahal sudah menjadi tugas Presiden memperjuangkan kemakmuran dan kedaulatan bangsa, dan untuk melaksanakan tugasnya itu diperolehnya gaji serta fasilitas negara….

Hmmm…. berandai-andai menatap Indonesia 30 tahun mendatang…

30 tahun lagi, jika diizinkan!

Maka saya akan mengusulkan agar para Relawan di barak pengungsian memperoleh gelar Pahlawan.
Mereka yang bergerak dengan kesadaran dan tanggungjawab kemanusiaan. Mereka itulah penerus generasi Bung Tomo dan Bung Hatta.
Mereka bergerilya seperti Soedirman.
Merekapun terkadang berpacu dengan maut, menyongsong bahaya tak kenal takut.
Mereka yang sigap dan tidak dibayar untuk meluangkan waktu dan keringatnya.
Mereka yang berjuang melawan kelelahan untuk tugas mulia menyelamatkan. Merekalah sepertinya yang benar-benar berjasa. Semoga sejarah mencatatnya.

Sayangnya, hingga kini saya tidak tahu siapa Mereka? …. Anda kenal Mereka?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 November 2010 in Opini

 

Tag: , , , , ,

Catatan Sejarah Yang Memalukan

APAKAH INI SEJARAH ??

Bukan main. Saat para politisi, pengacara dan hamba hukum lain, anggota Dewan yang terhormat serta publik tengah terlena dengan kasus Prita, Antasari atau Bank Century, diam-diam Negara Indonesia mencatatkan diri dalam Buku Sejarah Dunia.

Sayangnya catatan itu bukan catatan yang baik, bahkan akan menjadi CATATAN SEJARAH YANG MEMALUKAN.

Indonesia menjadi negara pada urutan ketiga penyumbang gas rumah kaca terbesar di dunia. Klaim ini muncul di berita situs geology.com pada 8 Desember yang lalu. Sumber tulisan adalah berita pada portal CNN World pada tanggal 6 Desember 2009.

Jika Anda mengunjungi situs geology.com berita tanggal 8/12,  saya jamin Anda akan terpaku dengan judul berita yang terbaca jelas dan mencolok mata
Indonesia : Ranks Third in CO2 Emissions. Read the rest of this entry »

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Desember 2009 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , ,

17 AGUSTUS 1945, SEBUAH RENUNGAN ABSURD DI HARI KEMERDEKAAN RI

RENUNGAN ABSURD DI HARI KEMERDEKAAN RI

64 tahun Indonesia Merdeka.

Dari Sabang sampai Merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia

Menunggu

Menunggu

Begitulah bait-bait syair lagu perjuangan yang sering dikumandangkan pada saat-saat seperti sekarang. Menggambarkan jiwa dan semangat kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang didasari persatuan dan kenyataan tentang keaneka-ragaman masyarakat Indonesia yang mendiami ribuan pulau.

Kesadaran atas keragaman ini merupakan modal dasar dalam mengembangkan sistem berbangsa dan bernegara. Indonesia bukan hanya Jawa. Indonesia Merdeka memiliki ratusan suku, budaya, bahasa, adat dan sistem yang berbeda. Semua disatukan dengan nama Indonesia.

Alangkah baiknya jika kita merenung sejenak, menatap sejarah masa lalu yang menghantarkan bangsa kita ke titik seperti sekarang ini. Rangkaian renungan merupakan suara hati nurani.

Mengapa kolonialisme begitu lama mencengkeram bangsa ini?

Karena bangsa ini mudah diadu domba dan dipecah-belah.

Mengapa bangsa ini begitu mudah diadu domba dengan politik “devide et impera”?

Karena bangsa ini miskin, sehingga dengan iming-iming harta dan kedudukan, banyak yang rela membantu lawan. Para pahlawan jatuh oleh rekan dan saudara sebangsa sendiri.

Mengapa bangsa ini miskin?Bukankah ada penguasa daerah/wilayah?

Karena para penguasa daerah tidak memikirkan kesejahteraan rakyat, saling berebut kekuasaan dan mengabaikan tanggung jawab menjaga keselamatan dan kemakmuran rakyat.

Mengapa penguasa wilayah demikian lalai dengan tanggung-jawabnya, bahkan saling berebut kekuasaan?

Karena pribadi penguasa daerah tenggelam dalam kenikmatan harta, tahta dan wanita.

Mengapa penguasa daerah bisa tenggelam dalam lingkaran setan harta, tahta dan wanita?

Karena mereka tidak mampu berpikir arif melihat perubahan dunia, tidak waspada terhadap musuh yang lebih serakah dari diri mereka sendiri.

Mengapa penguasa daerah tidak bisa berpikir arif, tidak menyadari keberadaan musuh yang mengancam?

Karena mereka tidak mendengarkan nasehat yang baik, lebih menyukai sanjungan daripada kritik.

Mengapa rakyat tidak mengajak penguasa bangkit melawan kolonialisme?

Rakyat luar Jawa sudah bangkit melawan kolonialisme sejak kemunculan awalnya. Penguasa di Jawa yang menentang kolonialisme sejak awal hanya Sultan Demak. Namun sejak Pajang berdiri, penguasa kerajaan tidak memikirkan ancaman kolonialisme, kecuali sedikit sekali. Sedangkan rakyat di jawa hanya menunggu titah raja.

Mengapa rakyat Jawa harus menunggu titah raja? Bukankah mereka bisa bergerak sendiri?

Karena unggah-ungguh Jawa melarang rakyat mendahului langkah raja. Sementara penguasa daerah di luar Jawa lebih terbuka mengambil keputusan, para penguasa Jawa menunggu wangsit.

Mengapa penguasa Jawa menunggu wangsit?

Karena menurut filsafat Jawa diri ini adalah jagad alit, sementara alam semesta adalah jagad gede. Wangsit datang dari jagad gede kepada jagad alit raja. Kalau ada wangsit, barulah raja bertindak dan rakyat ikut bersama.

Apakah melawan kolonialisme dan ketidakadilan harus menunggu wangsit?

Yang ini tidak bisa dijawab…. karena jawabanku juga menunggu wangsit… ha..ha…

*******

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Agustus 2009 in Opini

 

Tag: , , , , , , ,