RSS

Kantor Pos

11 Des

Salam dari seberang lautan

Saat membaca kisah Baron van Imhoff dan menuliskannya dalam artikel yang lalu, tiba-tiba saja saya teringat kepada Kantor Pos.

Yaah… Kantor Pos! Password yang satu ini telah membuat ingatan saya kembali ke masa lalu… 8)

Sejak akhir milenium lalu, kebiasaan saya dan juga banyak orang lainnya di Indonesia sepertinya mulai berubah. Perubahan itu terutama sekali dalam cara berkomunikasi. Sejak telepon menjadi barang biasa dan tersedia di mana-mana, maka cara berkomunikasi dengan surat mulai ditinggalkan. Apalagi sejak telepon genggam mulai merambah pasar. Teknologi ini benar-benar mengubah cara kita berhubungan.😉

Percaya atau tidak, memasuki awal millenium baru, perlahan tetapi pasti… saya mulai kehilangan kemampuan menulis surat, menyusun kata demi kata menjadi kalimat, menuangkan pikiran dengan tertib dan terarah😛 , mendeskripsikan situasi dan bahkan memohon saran dan pendapat keluarga dan teman.

Ternyata, sudah lama saya tidak lagi mengunjungi Kantor Pos, dan memanfaatkan jasa tukang pos keliling!😀

Jari-jari tangan saya tidak lagi trampil menulis huruf apik tebal tipis di atas kertas. Semua laporan dikerjakan dengan jari jemari menari di atas keyboard. Bercanda dengan istri dan saudara dilakukan via sms… yang nyata-nyata lebih ekspresif.

Perlahan tapi pasti, sejak memasuki abad-21, saya sudah lupa dengan istilah-istilah Sampul Hari Pertama, Sampul Peringatan, Seri Perangko, dan Kartu Ucapan.

Padahal istilah-istilah itu demikian akrab mengisi hidup saya sejak era 80 dan 90-an.

Souvenir sheet 1984 Philakorea

Saya teringat betul, di masa 20-30 tahun yang lalu, saya termasuk orang yang rajin berkorespondensi. Saya selalu menyempatkan waktu menjadi seorang philatelist amatiran. (Koleksi perangko saya memang tidak lebih dari 6 jilid. Tetapi saya selalu ingat kepuasan yang muncul saat teman koresponden mau tukar-menukar perangko koleksinya).

Aha. Tukar-menukar perangko! Budaya yang satu ini juga telah saya tinggalkan sejak mengenal SMS.

Tidak ada lagi debaran di dada mengharap surat balasan.

Kini, jadilah saya terpenjara oleh teknologi hape. Dan Kantor Pos menjadi bangunan berpagar orange yang termangu di sudut jalan.

Sampai akhirnya…..

PT. Pos Indonesia menurut kabar telah berbenah, berubah mengikuti arus zaman yang terus berkembang….

(bersambung).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Desember 2010 in Cerita Miring

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: