RSS

Peradaban Dunia Dalam Sejarah Kemanusiaan

17 Jul
Sejarah Dunia – dari dahulu hingga sekarang – dipenuhi semangat chauvinis yang benar-benar memalukan. Selalu ada sisi gelap sebuah peradaban.
Peradaban Mesir kuno. Sangat terkenal dalam sejarah bagaimana para Fir’aun Mesir mengorbankan ribuan orang untuk membangun Monumen demi Monumen (baca : KUBURAN!). Perbudakan, timbunan mayat sekaligus kecerdasan suatu bangsa yang disertai sikap merendahkan bangsa lain, tercermin dalam kuburan yang sekarang disebut Pyramid.
Peradaban Maya. Kecerdasan dan ketinggian peradaban suku Maya tidak diragukan lagi oleh para arkelog. Namun semua berakhir dan meninggalkan ribuan catatan bisu yang mengerikan. Chauvinisme Suku Maya mengorbankan ribuan manusia untuk persembahan bagi para Dewa yang tidak masuk akal. (Film Apocalyps – Mel Gibson – menggambarkan secara jelas fenomena itu).
China. Peradaban China yang telah dibangun selama ribuan tahun tidak menyisakan satu ruangpun yang bebas dari genangan darah. Pergantian antar dinasti selalu disertai mengalirnya darah manusia yang jika dijumlahkan hingga kini pasti akan embuat kita merinding. Monumen yang dianggap sebagai warisan budaya dunia – The Great Wall – adalah saksi bisu ribuan nyawa yang dipaksa membangunnya selama beberapa dinasti. Ditambah lagi dengan pernyataan para arkeolog masa kini bahwa ribuan Terracotta – yang merupakan koleksi seni termahal – dibuat dengan ‘model prajurit asli’ yang setelah itu dibunuh. Hingga di masa modern-pun Cina masih merupakan negara yang ‘gemar’ menumpahkan darah. Kebangkitan Komunis 1949 ole Pemimpin Mao ditegakkan di atas nyawa jutaan orang.
Daftar ini masih bisa diperpanjang lagi. Peradaban masa lalu yang bisa disebut sebagai bangsa-bangsa yang menyukai amisnya darah misalnya Persia, Babylonia, Romawi, Viking, Normandia, Arya, Mongolia, Arab Semit. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan kebudayaan juga memiliki sejarah yang serupa, tetapi dengan skala berbeda. Darah yang tertumpah di negeri ini sejak abad ke-7 hingga abad ke-16 terlalu banyak untuk ditakar. Raja-raja di masa lalu telah membangun Monumen untuk dirinya yang sekaligus mencerminkn banyaknya keringat dan darah yang tertumpah.
Peradaban Dunia setelah abad ke-15 terlalu menyakitkan hati untuk disebutkan. Dosa sejarah mesti dilimpahkan kepada semua negara kolonial Eropa (Perancis, Belanda, Inggris, Italia, Spanyol, Portugis, Jerman, Jepang dan lain-lain). Setiap negara itu mempunyai andil terhadap setiap tetes darah yang tertumpah di masa lalu.
Di ujung lain dunia, Amerika telah membangun peradaban barunya di atas timbunan darah suku bangsa Indian yang tak terhitung jumlahnya. Pembantaian tak berperikemanusian adalah catatan sejarah masa lalu Amerika yang tidak bisa dihilangkan. Sikap chauvinis – sebagai bangsa – ditunjukkan tanpa rasa malu. Bahkan hingga sekarang. Dan sebagai pengalihan dari rasa malu dalam menatap sejarahnya sendiri, Amerika sangat sigap membuka borok kemanusian di seberang lautan.
Begitu juga semua bangsa – bangsa lain, termasuk kita sendiri – sebagai bangsa.
Malu rasanya membuka luka kemanusiaan di masa lalu.
Dan akhirnya kita cuma bisa mecaci Malaysia atau mengutuk Israel.

RENUNGAN PERADABAN

POHON KEHIDUPAN

POHON KEHIDUPAN

Sejarah Dunia – dari dahulu hingga sekarang – dipenuhi semangat chauvinis yang benar-benar memalukan.

Peradaban Mesir Kuno. Sangat terkenal dalam sejarah bagaimana para Fir’aun Mesir mengorbankan ribuan orang untuk membangun Monumen demi Monumen (baca : KUBURAN!). Perbudakan, timbunan mayat sekaligus kecerdasan suatu bangsa yang disertai sikap merendahkan bangsa lain, tercermin dalam kuburan yang sekarang disebut Pyramid.

Peradaban Maya. Kecerdasan dan ketinggian peradaban suku Maya tidak diragukan lagi oleh para arkelog. Namun semua berakhir dan meninggalkan catatan bisu yang mengerikan. Chauvinisme Suku Maya telah mengorbankan ribuan manusia untuk persembahan bagi para Dewa yang tidak masuk akal. (Didasarkan atas teori arkeologi yang bisa dipercaya, Film Apocalyps – Mel Gibson – menggambarkan secara jelas fenomena itu).

China. Peradaban China yang dibangun selama ribuan tahun tidak menyisakan satu ruangpun yang bebas dari genangan darah. Pergantian antar dinasti selalu disertai mengalirnya darah manusia yang jika dijumlahkan hingga kini pasti akan membuat kita merinding. Monumen yang dianggap sebagai warisan budaya dunia – The Great Wall – adalah saksi bisu ribuan nyawa yang dipaksa membangunnya selama beberapa dinasti. Ditambah lagi dengan pernyataan para arkeolog masa kini bahwa ribuan Terracotta – yang merupakan koleksi seni termahal – dibuat dengan ‘model prajurit asli’ yang setelah itu dibunuh. Hingga di masa modern-pun Cina masih merupakan negara yang ‘gemar’ menumpahkan darah. Kebangkitan Komunis 1949 oleh Pemimpin Mao ditegakkan di atas nyawa jutaan orang.

Daftar ini masih bisa diperpanjang lagi. Peradaban masa lalu yang bisa disebut sebagai percaturan bangsa-bangsa yang menyukai amisnya darah adalah Persia, Babylonia, Romawi, Viking, Normandia, Arya, Mongolia, Arab Semit. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan kebudayaan juga memiliki sejarah yang kurang lebih serupa, meski dengan skala berbeda. Darah yang tertumpah di negeri ini sejak abad ke-7 hingga abad ke-16 terlalu banyak untuk ditakar. Raja-raja di masa lalu telah membangun Monumen untuk dirinya yang sekaligus mencerminkn banyaknya keringat dan darah yang tertumpah.

Peradaban Dunia setelah abad ke-14 terlalu menyakitkan hati untuk disebutkan. Dosa sejarah tidak bisa tidak mesti dilimpahkan kepada semua negara kolonial Eropa (Perancis, Belanda, Inggris, Italia, Spanyol, Portugis, Jerman, dan lain-lain) ditambah lagi bangsa Jepang. Setiap negara/bangsa itu mempunyai andil terhadap setiap tetes darah yang tertumpah di masa lalu.

Di ujung lain dunia, Amerika telah membangun peradaban barunya di atas timbunan darah suku bangsa Indian yang tak terhitung jumlahnya. Pembantaian tak berperikemanusian adalah catatan sejarah masa lalu Amerika yang tidak bisa dihilangkan. Sikap chauvinis – menganggap bangsa dan kebudayaan sendiri sebagai yang terbaik – ditunjukkan tanpa rasa malu. Bahkan hingga sekarang. Dan sebagai pengalihan dari rasa malu dalam menatap sejarahnya sendiri, Amerika sangat sigap membuka borok kemanusian di seberang lautan.

Banyak luka kemanusiaan dalam perjalanan sebuah peradaban yang berpangkal dari sikap chauvinis yang berlebihan.

Begitu juga semua bangsa – bangsa lain, termasuk kita sendiri – yang sejak kecil dijejali dengan kebesaran sejarah bangsa. Malu rasanya membuka luka kemanusiaan di masa lalu. Dan sebagai penutup rasa malu, akhirnya kita cuma bisa mecaci Malaysia atau mengutuk Israel.

***

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Juli 2009 in Cerita Miring

 

Tag: , , , , , , , ,

7 responses to “Peradaban Dunia Dalam Sejarah Kemanusiaan

  1. Dangstars

    31 Juli 2009 at 17:59

    Artikel yang bermanfaat,,and blog tersusun rapi..Nice ..salam kenal

     
    • wardoyo

      4 Agustus 2009 at 09:43

      Salam kenal juga, dan terimakasih atas komentarnya.

       
      • Dangstars

        23 Agustus 2009 at 19:29

        Salam kenal kembali Pak Wardoyo…

jangan bosan menerima perkenalan ini

        ____________

        wardoyo : salam kenal juga… saya sudah mampir ke blognya mas Dadang…. ajiib deh.

         
  2. sedjatee

    3 Agustus 2009 at 09:03

    wah… bener-bener sejarah yang berlumuran darah… ataukah darah sebagai tumbal sejarah?… hehehe… tulisan panjenengan tentang sejarah bener-bener lengkap… kaya akan informasi… salam sukses…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

     
    • wardoyo

      4 Agustus 2009 at 09:45

      Salam sukses selalu untuk @sedjatee..
      Blog abang juga sudah saya kunjungi. Mantaap…

       
  3. bundadontworry

    24 Mei 2010 at 17:41

    tiap kali bertamu kesini, alhamdulillah, bunda selalu mendapat tambahan ilmu dan wawasan baru.
    terimakasih Mas krn telah berbagi.
    teruslah berbagi melalui tulisan yg bermanfaat ini.
    salam

     
    • wardoyo

      24 Mei 2010 at 21:52

      …. thank you, bunda.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: