RSS

My Diary : Kenangan 10 November

Setiap tanggal 10 November aku selalu tersenyum seorang diri. Teringat kepada ayahku, seorang perwira Angkatan ’45 yang kini telah tiada. Teringat pengabdiannya kepada Negara – sejak zaman Jepang.

Aku selalu mengenang kisah heroiknya di masa lalu: pertempuran melawan Agresi Belanda 1946-1947, melabrak komunis tahun 1948,operasi Mandala untuk pembebasan Papua, berkeliling Ambon, Seram, Halmahera, Manado, melawan RMS, PRRI, hingga pergolakan 1965.

Namun yang lebih kukenang adalah kisah ayahku dan kakakku.

Kakakku yang pertama, lahir 1 Juni 1949. Almarhum kakakku ini sekarang tidak bisa bercerita banyak mengapa ia dilahirkan pada “Hari Lahir Pancasila”.

Kakakku yang kedua, lahir 10 November 1951. Kakakku yang kedua inipun tidak bisa bercerita mengapa lahir bertepatan dengan “Hari Pahlawan”.

Sebagai anak kesepuluh, dua hal inilah yang membuatku tersenyum trenyuh, yaitu kesadaran tentang keprihatinan kondisi ayahku di masa dahulu. Ayahku seorang prajurit Kempetai di zaman pendudukan Jepang, dan diteruskan menjadi praurit TNI di masa kemerdekaan. Ayahku dididik secara kolot, memiliki semangat juang tempo doeloe – berjuang tanpa pamrih.

Berkeluarga mandiri bagi seorang prajurit tempo doeloe teramat beratnya. Tidak terkecuali ayahku. Untunglah ada ketetapan pemerintah di era itu. Yaitu adanya tunjangan pemerintah bagi mereka yang melahirkan pada saat hari besar nasional.

Pernah kutanyakan kepada ayahku dahulu. Dan dengan ringan ayahku membenarkan dugaanku – semua surat kelahiran kakakku telah DIREKAYASA – demi suatu tunjangan pemerintah.

Tunjangan itu berupa kain panjang yang bisa dipotong-potong untuk popok bayi, susu, dan sejumlah perlengkapan bayi lainnya.

Maka itulah yang terjadi di masa lalu. Sekarang nasi telah menjadi bubur. Kakakku yang pertama kini telah tiada. Tinggallah kakak kedua yang berulang tahun hari ini : 10 November 2009. Dan seperti biasa, aku mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk kakakku sambil tersenyum penuh arti. Secara legal kakakku terlahir di hari ini; semua surat-surat, ijazah dan dokumen apapun merujuk pada hari ini.

Tetapi, Ayahku-lah pahlawan sebenarnya. Karena keprihatinan di masa lalu membuatnya berbuat seperti itu – demi keluarga, demi bayi yang baru lahir dan demi Tuhan … aku bangga!!

 

 

 

2 responses to “My Diary : Kenangan 10 November

  1. sunflo

    10 November 2009 at 22:05

    dan saya juga salut dengan sosok2 pahlawan seperti ayah anda, pejuang2 kemerdekaan yg berjuang demi eksisnya indonesia…hanya saja saya prihatin dengan anak-nak bangsa masa kini, apakah kita, kami dan semuanya bisa mewarisi semangat juang beliau2 di masa lampau??

     
    • wardoyo

      10 November 2009 at 22:15

      Itulah tugas menjadi anak bangsa saat ini… membangkitkan kesadaran sesama untuk berbuat lebih baik.
      Terimakasih untuk kunjungan yang berharga.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: