RSS

Kantor Pos

Salam dari seberang lautan

Saat membaca kisah Baron van Imhoff dan menuliskannya dalam artikel yang lalu, tiba-tiba saja saya teringat kepada Kantor Pos.

Yaah… Kantor Pos! Password yang satu ini telah membuat ingatan saya kembali ke masa lalu… 8)

Sejak akhir milenium lalu, kebiasaan saya dan juga banyak orang lainnya di Indonesia sepertinya mulai berubah. Perubahan itu terutama sekali dalam cara berkomunikasi. Sejak telepon menjadi barang biasa dan tersedia di mana-mana, maka cara berkomunikasi dengan surat mulai ditinggalkan. Apalagi sejak telepon genggam mulai merambah pasar. Teknologi ini benar-benar mengubah cara kita berhubungan. 😉

Percaya atau tidak, memasuki awal millenium baru, perlahan tetapi pasti… saya mulai kehilangan kemampuan menulis surat, menyusun kata demi kata menjadi kalimat, menuangkan pikiran dengan tertib dan terarah 😛 , mendeskripsikan situasi dan bahkan memohon saran dan pendapat keluarga dan teman.

Ternyata, sudah lama saya tidak lagi mengunjungi Kantor Pos, dan memanfaatkan jasa tukang pos keliling! 😀

Jari-jari tangan saya tidak lagi trampil menulis huruf apik tebal tipis di atas kertas. Semua laporan dikerjakan dengan jari jemari menari di atas keyboard. Bercanda dengan istri dan saudara dilakukan via sms… yang nyata-nyata lebih ekspresif.

Perlahan tapi pasti, sejak memasuki abad-21, saya sudah lupa dengan istilah-istilah Sampul Hari Pertama, Sampul Peringatan, Seri Perangko, dan Kartu Ucapan.

Padahal istilah-istilah itu demikian akrab mengisi hidup saya sejak era 80 dan 90-an.

Souvenir sheet 1984 Philakorea

Saya teringat betul, di masa 20-30 tahun yang lalu, saya termasuk orang yang rajin berkorespondensi. Saya selalu menyempatkan waktu menjadi seorang philatelist amatiran. (Koleksi perangko saya memang tidak lebih dari 6 jilid. Tetapi saya selalu ingat kepuasan yang muncul saat teman koresponden mau tukar-menukar perangko koleksinya).

Aha. Tukar-menukar perangko! Budaya yang satu ini juga telah saya tinggalkan sejak mengenal SMS.

Tidak ada lagi debaran di dada mengharap surat balasan.

Kini, jadilah saya terpenjara oleh teknologi hape. Dan Kantor Pos menjadi bangunan berpagar orange yang termangu di sudut jalan.

Sampai akhirnya…..

PT. Pos Indonesia menurut kabar telah berbenah, berubah mengikuti arus zaman yang terus berkembang….

(bersambung).

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Desember 2010 in Cerita Miring

 

Tag: , , ,

Gustaaf Willem van Imhoff

Gustaaf  Willem, Baron van Imhoff (8 Agustus 1705 – 1 November 1750)

GW Baron van Imhoff

Nama ini termasuk amat lekat di benak para pemerhati sejarah kolonial. Baron van Imhoff dikenal dengan reputasinya saat menjadi gubernur Ceylon ( = Srilanka) dan Dutch East Indies untuk Dutch East India Company (sebutan Inggris untuk kompeni Belanda alias VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie).

Van Imhoff lahir di wilayah East Frisia. Ayahnya, Wilhelm Heinrich Freiherr von Imhoff berasal dari kota Leer di baratlaut Jerman. Freiherr dalam bahasa Jerman kurang lebih sama artinya dengan Baron dalam bahasa Inggris.

Van Imhoff muda pada usia 20-tahun telah bergabung dalam Dutch East India Company yang berkedudukan di Batavia. Setelah memperoleh promosi beberapa kali, van Imhoff dipercaya menjabat sebagai Gubernur Kolonial di Ceylon atau Sri Lanka, 23 July 1736.

Pada 12 Maret 1740 kedudukan Gubernur Ceylon yang dijabat van Imhoff harus diserahkan kepada Willem Mauritiz Bruininck. Sementara itu van Imhoff sendiri dikembalikan ke Batavia. Saat kembali ke Batavia itulah, van Imhoff mendapati situasi konflik memanas antara Gubernur Jendral Adriaan Valckenier dan komunitas Cina di seputar Batavia.

Van Imhoff menyatakan ketidaksetujuan dengan politik represif yang dijalankan Valckenier terhadap komunitas Cina Betawi sehingga van Imhoff ditangkap dan dikirim pulang ke Netherlands.

Memang sudah nasib baik van Imhoff, para penguasa VOC yang dikenal dengan sebutan Lords Seventeen justru mengirim van Imhoff kembali ke Batavia dengan surat perintah baru, sebagai Governor-General of the Dutch East Indies.

May 1743, van Imhoff memulai jabatannya di Batavia. Dalam masa jabatannya inilah van Imhoff menorehkan sejarah yang tetap hidup hingga sekarang, dua hal yang terpenting adalah :

  1. Membangun Kantor Pos pertama di wilayah Dutch East Indies, tepatnya di kota Batavia pada tanggal 26 Agustus 1746.
  2. Van Imhoff menyatukan perkampungan (sembilan perdikan) yang ada di “wilayah Pakuan” dan wilayah Istana Peristirahatan Gubernur dalam satu kesatuan administratif yang diberinya nama Buitenzorg, yang berarti “beyond care” atau “outside care”. Penyatuan sembilan perdikan dan Istana Peristirahatan Gubernur Jendral dalam satu wilayah itu terjadi pada tahun 1746. Nama Buitenzorg resmi dipakai sejak saat itu. Meski demikian, dalam sebuah catatan administratif resmi bertanggal 7 April 1752 (sepeninggal van Imhoff – 1750), muncul nama Bogor yang menunjuk kepada wilayah Buitenzorg di luar istana.

Di samping itu, van Imhoff juga membangun sekolah berbahasa Latin di Batavia, mendirikan suratkabar, rumah sakit. Dan dalam masa kekuasaanya berhasil menekan perdagangan candu yang marak berlangsung di bandar Batavia.

Setuju atau tidak, nama van Imhoff selalu dikenang sebagai pendiri kota Buitenzorg alias Bogor.

___________________

*Sumber artikel : om Wiki, portal Pos Indonesia dan lain-lain.
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , ,

Perubahan

Dalam setiap kesempatan, saya selalu ingat pameo lama yang selalu ditanamkan berulang-ulang ketika mempelajari ilmu kebumian beberapa tahun yang lalu : DI BUMI INI YANG TETAP ADALAH PERUBAHAN.

So, itulah salah satu  filosofi dasar yang memenuhi ruang kepala. Kesiapan untuk selalu berubah.

Perubahan itu perlu. Seperti juga berketetapan hati adalah wajib.

Yang Natural

walaupun tidak semua perubahan adalah baik

dan semua ketidakberubahan adalah bijak

tetapi mencoba suatu perubahan selalu pantas dihargai

karena pentas sejarah mencatat setiap perubahan

Yang Telah Berubah

Apakah Anda menyukai perubahan???

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Desember 2010 in Opini

 

Tag: ,

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH

Selamat Tahun Baru

1 Muharram 1432 Hijriyah

Waktunya berbenah…

Masa depan di bawah langit biru yang sama

 


 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2010 in Cerita Miring

 

Tag:

Message in the bottle

Saya memperkirakan judul tulisan ini akan membuat sebagian kita mengingat kembali masa lalu. Tepatnya saat group musik The Police merajai dunia musik generasi muda era 80-an. Lagu berjudul “Messages in the bottle” yang dibawakan band ini sama terkenalnya dengan lagu “Du du du da da da…”

Namun jangan menganggap remeh “Message In The Bottle”.

MESSAGE IN THE BOTTLE — PESAN DALAM BOTOL.

Message in the bottle adalah sakral.

sebuah harapan dari seorang yang barangkali sudah putus asa…

atau curahan rindu seorang pria kepada sang kekasih…

atau sebuah isyarat dan permintaan tolong dari seseorang yang terancam bahaya!

Meski umumnya demikian, tidak bagi Corey Swearingen (18 tahun) pesan dalam botol adalah sains. Ceritanya, remaja yang baru lulus SMU itu terkejut ketika mendengar bahwa “pesan dalam botol” yang dikirimnya telah ditemukan Adam Flanner (17 th) dan ayahnya yang sedang berjalan-jalan di Irlandia.

Pesan dalam botol Swearingen dibuat ketika Swearingen berusia 16 th dan menjadi siswa di Florida’s Melbourne Hihg School saat mengikuti pelajaran  ‘sains kelautan’. Isi pesan dalam botol Swearinger bukan SOS, tapi penjelasan bahwa surat itu adalah bagian dari percobaan saintifik.

Penemunya diharapkan tidak membuang pesan dan botolnya, dan sebisa mungkin mengontak guru sains – Ethan Hall – di sekolah Swearinger. (Sumber berita CNN)

Terus-terang sayapun jadi iri 😉 , ingin mengirim pesan – lewat botol juga. Mudah-mudahan gak kesasar ke negara tetangga; bahkan kalau mungkin sampai ke tangan orang baik yang akan mengantarkannya ke Istana Negara !! 😀 😀

Botol Pesan

Saya akan menulis sebuah pesan singkat :

Kepada siapapun yang menemukan pesan dalam botol ini : SOS !!
Tolong sampaikan pesan ini kepada YM Bapak Presiden RI : SOS !!
kami rakyat Indonesia tetap menunggu aksi nyata : SOS !!
Tolong berantas korupsi di negeri ini : SOS !!

Mudah-mudahan pesan ini tidak perlu menunggu dua tahun untuk sampai ke tangan yang berhak. 😉

Anda ingin titip pesan?? 😀 🙂

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2010 in Cerita Miring

 

Tag: , ,

Sang Pujangga dan Gayus Tambunan

Menyaksikan berita adalah sarapan paling enak di pagi hari. Ditemani secangkir kopi, rasa lapar informasi akan terpuaskan dalam setengah jam.

Hmm…. sayangnya terkadang tidak semua berita yang kita lihat dan kita dengar di layar kaca bermanfaat untuk kesehatan otak dan mental. Bahkan seringkali rasa lapar berubah menjadi mual… 🙂 😉

Setelah hampir dua minggu dijejali berita tentang letusan Merapi dan tsunami Mentawai, kini sajian sarapan, lunch dan menu makan malam dipenuhi seraut wajah berkacamata yang katanya “mirip Gayus”. Heyy… inikah berita nasional kita?

Sang Pujangga

Jyah… barangkali kita memang memerlukan berita tentang Gayus. Bukan karena seorang Gayus adalah pahlawan atau manusia berprestasi. Bukan! Gayus bukan publik figure, bukan pula contoh masyarakat teladan.

Cerita Gayus hanyalah kisah perilaku menyimpang. Seorang yang menonjol di dunia bisnis bawah tangan dan kongkalikong. Gayus adalah representasi dari kerendahan moralitas.

Bercermin pada karya sejarah Pujangga Keraton Kasunanan, Ronggowarsito, sepertinya Gayus itu indikator nyata dari ZAMAN EDAN…

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi
melu edan ora tahan
yen tan melu anglakoni boya kaduman melik
kaliren wekasanipun
Dilallah karsaning Allah
Sakbeja-bejaning wong kang lali
luwih beja wong kang eling lan waspodho
(Serat Kalatidha, bab 8; Sumber : http://www.karatonsurakarta.com/ronggowarsito.html )

Bukankah benar Gayus seorang terdakwa kasus korupsi dan penyuapan kelas kakap. Dari yang kita dengar dan lihat, Gayus adalah produk materialisme sejati. Kemunculannya telah menyeret banyak orang masuk dalam lingkaran setan zaman edan, berlomba mencari kekayaan materi, lupa nurani dan Tuhan…

Maka… waspadalah… waspadalah!! ( 😉 …. haa, mirip pesan bang Napi kayaknya)

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 12 November 2010 in Cerita Miring

 

Tag: , ,

Yang Benar-benar Berjasa

Kaca Benggala

Baru 55 tahun yang lalu bangsa ini menjadi Republik. Usia belumlah tua. Tetapi alangkah sulitnya mencari Pahlawan di negeri ini.

Siapa lagi yang berhak atas gelar “Yang Berjasa” memperjuangkan tegaknya Indonesia? Jika jasa berjuang itu melulu identik dengan mengangkat senjata, maka tentara dan polisi republik bakal memborong gelar Pahlawan duapuluh tahun dari sekarang.

Betapa menyedihkan jika seorang mantan pejabat negara – seperti mantan Presiden misalnya – diusulkan menjadi Pahlawan. Padahal sudah menjadi tugas Presiden memperjuangkan kemakmuran dan kedaulatan bangsa, dan untuk melaksanakan tugasnya itu diperolehnya gaji serta fasilitas negara….

Hmmm…. berandai-andai menatap Indonesia 30 tahun mendatang…

30 tahun lagi, jika diizinkan!

Maka saya akan mengusulkan agar para Relawan di barak pengungsian memperoleh gelar Pahlawan.
Mereka yang bergerak dengan kesadaran dan tanggungjawab kemanusiaan. Mereka itulah penerus generasi Bung Tomo dan Bung Hatta.
Mereka bergerilya seperti Soedirman.
Merekapun terkadang berpacu dengan maut, menyongsong bahaya tak kenal takut.
Mereka yang sigap dan tidak dibayar untuk meluangkan waktu dan keringatnya.
Mereka yang berjuang melawan kelelahan untuk tugas mulia menyelamatkan. Merekalah sepertinya yang benar-benar berjasa. Semoga sejarah mencatatnya.

Sayangnya, hingga kini saya tidak tahu siapa Mereka? …. Anda kenal Mereka?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 November 2010 in Opini

 

Tag: , , , , ,