RSS

Arsip Kategori: Catatan Sejarah

Tragedi Cikeusik, dalam status facebook

Seminggu ini benak kita dihentak oleh tragedi yang menimpa jemaah Ahmadiyah di Cikeusik. Pro kontra terjadi. Tetapi intinya kita harus lebih mawas diri dan bercermin tentang rasa kemanusiaan yang semakin terkikis dari dalam hati sanubari masyarakat kita.

Tragedi tetaplah tragedi. Berikut ini lintasan status teman-teman di situs jejaring sosial facebook, mengungkapkan terusiknya nurani mereka dengan terjadinya tragedi Cikeusik.

Status fb 01

Status fb 02

Status fb 03

Bahkan seorang Mario Teguh pun menyuarakan nuraninya dengan “cara” beliau yang santun…

Berikut ini (hanya copas saja 🙂 ) dari status facebook seorang teman.

Tertanggal 14 Januari 2008, Jemaat Ahmadiyah mengeluarkan 12 butir pernyataan setelah melalui rentetan dialog dengan Departemen Agama. Pernyataan itu terkait dengan rapat Pakem yang akhirnya menetapkan bahwa negara tak melarang Jemaat Ahmadiyah.

Berikut ini 12 pernyataan itu:

1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW, yaitu Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

2. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).

3. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.

4. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.

5. Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa

a. tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad.
b. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.

6. Buku Tadzkirah bukan lah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohami Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

7. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata maupun perbuatan.

8. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut Masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.

9. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.

10. Kami warga jemaat Ahmadiyah sebagai muslim melakukan pencatatan perkimpoian di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan perundang-undangan.

11. Kami warga jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakat untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

12. Dengan penjelasan ini, kami pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 14 Januari 2008
PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia

H. Abdul Basit
Amir

Mengetahui (disertai tanda tangan)

1. Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar (Kabalitbang dan Diklat Depag RI)

2. Prof. Dr. H. Nasarudin Umar, MA (Dirjen Bimas Islam Depag RI)

3. Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA (Deputi Seswapres Bidang Kesra)

4. Drs. Denny Herdian MM (Ditjen Kesbangpol Depdagri)

5. Ir. H. Muslich Zainal Asikin, MBA, MT (Ketua II Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia – GAI)

6. KH Agus Miftah (Tokoh masyarakat)

7. Irjen Pol. Drs. H. Saleh Saaf (Kaba Intelkam Polri)

8. Prof. Dr. HM Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

9. Ir. H. Anis Ahmad Ayyub (Anggota Pengurus Besar JAI)

10. Drs. Abdul Rozzaq (Anggota Pengurus Besar JAI)

Perkembangan terakhir di seputaran kasus Cikeusik masih terus berlanjut. Mulai dari analisis video, penelusuran sejarah, komentar para ahli, pengamatan saksi hingga ke penggantian Kapolda Banten dan Kapolres Pandeglang tempat terjadinya tragedi tersebut. 😀 Sejarah akan mencatat semua.

Jadi, mesti kemana lagi mencari obat untuk nurani yang terusik??

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Februari 2011 in Catatan Sejarah, Cerita Miring

 

Tag: , ,

Gustaaf Willem van Imhoff

Gustaaf  Willem, Baron van Imhoff (8 Agustus 1705 – 1 November 1750)

GW Baron van Imhoff

Nama ini termasuk amat lekat di benak para pemerhati sejarah kolonial. Baron van Imhoff dikenal dengan reputasinya saat menjadi gubernur Ceylon ( = Srilanka) dan Dutch East Indies untuk Dutch East India Company (sebutan Inggris untuk kompeni Belanda alias VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie).

Van Imhoff lahir di wilayah East Frisia. Ayahnya, Wilhelm Heinrich Freiherr von Imhoff berasal dari kota Leer di baratlaut Jerman. Freiherr dalam bahasa Jerman kurang lebih sama artinya dengan Baron dalam bahasa Inggris.

Van Imhoff muda pada usia 20-tahun telah bergabung dalam Dutch East India Company yang berkedudukan di Batavia. Setelah memperoleh promosi beberapa kali, van Imhoff dipercaya menjabat sebagai Gubernur Kolonial di Ceylon atau Sri Lanka, 23 July 1736.

Pada 12 Maret 1740 kedudukan Gubernur Ceylon yang dijabat van Imhoff harus diserahkan kepada Willem Mauritiz Bruininck. Sementara itu van Imhoff sendiri dikembalikan ke Batavia. Saat kembali ke Batavia itulah, van Imhoff mendapati situasi konflik memanas antara Gubernur Jendral Adriaan Valckenier dan komunitas Cina di seputar Batavia.

Van Imhoff menyatakan ketidaksetujuan dengan politik represif yang dijalankan Valckenier terhadap komunitas Cina Betawi sehingga van Imhoff ditangkap dan dikirim pulang ke Netherlands.

Memang sudah nasib baik van Imhoff, para penguasa VOC yang dikenal dengan sebutan Lords Seventeen justru mengirim van Imhoff kembali ke Batavia dengan surat perintah baru, sebagai Governor-General of the Dutch East Indies.

May 1743, van Imhoff memulai jabatannya di Batavia. Dalam masa jabatannya inilah van Imhoff menorehkan sejarah yang tetap hidup hingga sekarang, dua hal yang terpenting adalah :

  1. Membangun Kantor Pos pertama di wilayah Dutch East Indies, tepatnya di kota Batavia pada tanggal 26 Agustus 1746.
  2. Van Imhoff menyatukan perkampungan (sembilan perdikan) yang ada di “wilayah Pakuan” dan wilayah Istana Peristirahatan Gubernur dalam satu kesatuan administratif yang diberinya nama Buitenzorg, yang berarti “beyond care” atau “outside care”. Penyatuan sembilan perdikan dan Istana Peristirahatan Gubernur Jendral dalam satu wilayah itu terjadi pada tahun 1746. Nama Buitenzorg resmi dipakai sejak saat itu. Meski demikian, dalam sebuah catatan administratif resmi bertanggal 7 April 1752 (sepeninggal van Imhoff – 1750), muncul nama Bogor yang menunjuk kepada wilayah Buitenzorg di luar istana.

Di samping itu, van Imhoff juga membangun sekolah berbahasa Latin di Batavia, mendirikan suratkabar, rumah sakit. Dan dalam masa kekuasaanya berhasil menekan perdagangan candu yang marak berlangsung di bandar Batavia.

Setuju atau tidak, nama van Imhoff selalu dikenang sebagai pendiri kota Buitenzorg alias Bogor.

___________________

*Sumber artikel : om Wiki, portal Pos Indonesia dan lain-lain.
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , ,

SELAMAT IDUL FITRI, BUNG!!

Setelah menahan lapar dan dahaga

menghalau nafsu yang menggelora

menenteramkan hati dan jiwa

Tiba saatnya kembali ke kemurnian diri

menyapa hari nan fitri….

*

* SELAMAT IDUL FITRI, bung! *

Minal aidin wal faidzin

Mohon maaf lahir dan bathin

Sujud di Batas Akhir

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 11 September 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag:

Kekayaan Alam Afghan Bisa Memicu Perang

Di tengah-tengah euforia massa yang asyik mengikuti “update status” kesebelasan yang sedang berlaga di Afrika Selatan, terselip beberapa berita kecil yang sebenarnya menarik juga. Sejak seminggu yang lalu, tepatnya pada 17 Juni 2010, CNN telah merilis sebuah video yang menarik.

Video CNN itu berisi diskusi antara Jack Medlin (Geolog Senior dari USGS) dan Joe Klein (kolumnis Majalah TIME). Isinya bukan lain adalah tentang Afghanistan dan kekayaan sumber daya mineralnya yang ditaksir bernilai US$ 1 trilliun…. 😀 🙂

Satu trilliun US dollar = Seribu milliar dollar ??? Nilai yang amat fantastis :mrgreen: … 

Belajar dari sejarah, negeri yang “terbelakang” dan kurang kuat biasanya akan hancur gara-gara kekayaan alamnya. Apalagi jika yang berkepentingan untuk campur tangan adalah negara-negara “barat”. Contohnya saja Republik Congo yang terus-menerus terkungkung dalam perang tidak kurang dari 15 tahun; akibat perebutan sumberdaya alamnya. Angola mempunyai banyak sumur minyak yang hingga kini dijadikan sengketa dan negeri itu tidak pernah sepi dari perang sipil. 

Contoh terbaru adalah Irak. Kepentingan ekonomi – baca minyak bumi – membuat negeri yang letaknya strategis itu hancur dilanda perang yang disponsori Amerika Serikat. 

Bagaimana dengan Afghanistan? 

CNN ramai memberitakan masalah pengelolaan mineral senilai US$ 1 trilliun. Naga-naganya nasib Afghan akan tidak jauh berbeda dengan Angola atau Congo. Dijadikan ajang perebutan kepentingan para raksasa ekonomi.  Dengan alasan pembangunan infrastruktur jalan dan pembangkit listrik, maka Pemerintah Afghan akan ditekan untuk menstabilkan negeri dengan menekan para pejuang Taliban dan lain-lainnya. 

Jadi, apa sajakah mineral yang ada di perut bumi Afghanistan?

Sejauh ini yang diumumkan kepada khalayak adalah bijih besi, tembaga, cobalt, emas serta logam-logam yang sangat penting di dunia industri seperti lithium — semua dalam jumlah cadangan yang sangat besar dan sangat dibutuhkan dalam industri modern… hingga pihak Amerika Serikat yakin bahwa Afghanistan akan menjadi negara penghasil tambang mineral yang utama. Dalam memo internal Pentagon tertuang pernyataan bahwa Afghanistan akan menjadi “Saudi Arabia of lithium,” sebuah kata kunci untuk merujuk bahan baku pembuatan baterai laptop dan Blackberry.

Sejarah penyelidikan mineral di Afghanistan

Afghanistan sepanjang sejarahnya tidak memiliki budaya menambang. Penyelidikan mineral pernah dilakukan sebelum Uni Sovyet menguasai negeri itu di awal 1980-an. Tetapi data lama yang pernah dikumpulkan oleh Afghan Geological Survey itu telah dikuasai Sovyet yang kemudian hengkang tahun 1989. Read the rest of this entry »

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Dunia para Pemimpi

Para Pemimpi

Idealnya, dunia ini aman dan tentram, kemakmuran merata. Nyaman untuk kehidupan semua makhluk di dalamnya.
Tetapi, kalau begitu yang terjadi, berhentilah istilah struggle of life dan hilanglah satu teori Darwin.

Maka, dunia ideal seperti yang diangankan itu menjadi mustahil. Menyatukan seluruh dunia dalam satu ide adalah utopia alias mimpi. Karl Max dulu juga seorang pemimpi, tetapi ia tak sempat hidup untuk melihat mimpinya menjadi kenyataan. Lenin yang memimpikan kemakmuran di Russia, harus melihat dari balik peti mati kaca saat 80 tahun kemudian semua mimpinya hancur sebelum kemakmuran itu tercapai.

Amerika yang mengumandangkan freedom of human life menunggu lebih dari 225 tahun sebelum seorang seorang keturunan bangsa berkulit hitam bisa diterima menjadi presiden di negerinya. Soekarno yang hingga berbusa meyakinkan “idealnya NASAKOM” kepada seluruh jajaran aparat serta rakyat Indonesia dan bahkan dunia, harus menelan pil pahit kehancuran mimpinya itu bahkan saat dirinya masih hidup.

Mimpi itu melampaui masa Sang Pemimpi. Hanya para Nabi yang mimpinya menjadi kenyataan. Itupun dengan beberapa pengecualian – sesuai garis Sang Pencipta. Para tokoh dunia dan penyeru ideologi sama saja. Semua mimpi mereka runtuh atau gagal di kala mereka masih bernafas udara. Sebagian terwujud saat mereka telah bernafaskan tanah.

Sebutlah nama Da Vinci. Apa saja yang tidak diimpikannya? Tank? Helikopter? Pesawat terbang?

Tetapi, berapa banyak yang mengenal Madame Shipton?

Oh, pasti sedikit orang yang mengenalnya. Padahal di masa hidupnya, ia terkenal sebagai seorang pemimpi. Para tokoh dunia pastilah akan iri kepada Mother yang satu ini, disebabkan sebagian mimpinya yang dituliskan di kemudian hari menjadi kenyataan.

When pictures seem alive with movements free,
when boats like fishes swim beneath the sea.
When men like birds shall scour the sky.
Then half the world, deep drenched in blood shall die.

Begitulah cuplikan mimpi Mrs. Shipton (1488-1561). Ia melihat dalam mimpinya, gambar bergerak seolah hidup – kapal yang berenang ke dasar laut layaknya ikan, manusia terbang seperti burung, dan separuh dunia dilanda peperangan berdarah-darah….

Jadi, jangan ragu menjadi Sang Pemimpi. Dan jangan lupa menuliskan mimpi Anda. Siapa tahu suatu saat nanti menjadi kenyataan. Maka tulisan Anda akan menjadi sesuatu yang tak ternilai.

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Juni 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , ,

Yang Terjadi di Negeri Kaum Padri

Blogwalking ke rumah sahabat dan menemukan blog CAPING.

Bukan sembarang caping. Tapi Catatan Pinggir seorang Gunawan Mohamad.

GM. Sebuah nama besar yang tak lekang di ingatan karena memoar sejarah yang terbentuk sejak saya bisa membaca dan menikmati majalah TEMPO. Setelah mencari-cari artikel di blog beliau yang sesuai, maka saya mencoba untuk meng-klik bintang Like di dasbor dan melakukan Reblog.

Sejujurnya tulisan bung GM sangat kental bernuansa sejarah. Ia menarik titik awal gerakan Padri hingga ke akarnya. Gaya penulisannya yang tajam dan santai selalu membuat kita terhanyut dan terpekur kembali.

Meski demikian, pandangan-pandangan bung GM dalam “caping” yang ditulisnya tahun 1984 ini tidak mengikat saya secara pribadi. Jadi, saya tetap menjadikan pemikiran bung GM dalam konflik Padri di Minangkabau sebagai bunga rampai sejarah yang mewarnai. Bukan sejarah itu sendiri, seperti juga tulisan-tulisan lain di blog ini.

Inilah caping yang indah itu. Judulnya : PADRI.

PERANG Padri tak dimulai dari titiknol. Sewaktu saya kecil, yang saya baca hanyalah cerita tentang Imam Bonjol yang melawan para pendukung adat yang dibela Belanda. Setelah mulai tua, saya baca kisah tentang Tuanku Nan Rinceh, yang kurus tapi dengan matamenyala bagai api. Ia muncul dalam arena konflik sosial yang melanda Minangkabau sejak awal abad ke 19. Ia muncul dan ia mengagetkan. Di daerahnya di Bukit Kamang yang tinggi, ia memaklumkan jihad … Read More

via Catatan Pinggir

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Juni 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , ,

Spice Islands (Ekspedisi Magellan – Part II) — habis

Ternate dan Tidore

Dua pulau yang menjadi incaran para pedagang Eropa abad-15
Dua pulau yang rute navigasinya dilacak dan dicari ratusan tahun
Dua pulau yang bertetangga, penduduknya bersaudara, tetapi raja-rajanya selalu bertikai, bersaing dan saling menjatuhkan satu dengan yang lain.
Dua pulau yang menjadi penghasil cengkeh nomor satu di dunia berabad-abad lamanya

*

Sultan Bolief dari Ternate dan Sultan Almansur dari Tidore. Keduanya sama-sama telah meramalkan : suatu hari akan datang serombongan ‘orang besi’ dari negara yang jauh yang akan mau bekerja demi kemasyhuran kerajaan mereka masing-masing.

Sultan Bolief menikmati rasa bangga dan ketenarannya saat Francesco Serrao muncul di tepi pantai Ternate dengan rombongan berbaju zirah yang mengkilat di terpa sinar matahari. Sebaliknya, rakyat Tidore saat itu menjadi masygul dan bersusah hati.

Maka, tidak heran jika kemunculan Kapten Jan Sebastian Del Cano di pantai Tidore disambut dengan luar biasa, sebagai bagian dari pemenuhan ramalan Sultan Almansur.

Pada tahun yang sama setelah kedatangan Portugis – 1512 – Sultan Bolief dari Ternate wafat. Penguasa Ternate setelahnya adalah Pangeran Taruwese (saudara lelaki Sultan Bolief) yang menjabat Wali Raja. Selama masa jabatan Kapten Serrao, Portugis mengalami masa kejayaan perdagangan – membentuk poros Lisabon-Goa-Malaka-Ternate. Sistem monopoli ditegakkan, dan secara keseluruhan semua didukung oleh Sultan.

Dalam laporan-laporannya kepada Raja Muda di Goa, Serrao dengan jelas menceritakan adanya pertentangan yang terjadi antara dua kerajaan – Ternate dan Tidore serta keinginan kedua raja agar Portugis eksis di wilayah mereka. Namun Serrao lebih memilih Ternate. Ia mendirikan kantor dagang – bukan benteng (Benteng Portugis di Ternate dibangun oleh penguasa berikutnya Kapten de Britto!!). Hal ini berlangsung hingga Serrao meninggal pada tahun 1520.

Sementara itu armada Spanyol – sisa ekspedisi Magellan – disambut dengan meriah di Tidore. Mereka dengan cepat dan gembira bisa mengumpulkan cengkeh sebanyak-banyaknya. Bahkan Sultan Tidore tidak segan-segan pergi ke Batjan untuk menambah persediaan Spanyol. Sementara menyediakan rempah-rempah untuk armada Spanyol, Sultan mengirimkan hadiah berupa kambing, unggas, ikan dan buah-buahan kepada Del Cano. Sebagai imbalannya, Sultan Almansur yang muslim meminta kepada armada Spanyol untuk memusnahkan babi yang dibawa dari Filipina dan disimpan sebagai persediaan makanan di dalam kapal mereka.

Orang-orang Spanyol menjalin hubungan baik dengan rakyat Ternate dan wilayah lain. Sultan Batjan dan Sultan Jailolo bahkan mengadakan kunjungan resmi ke kapal Spanyol. Mereka berpesta dan menari – hampir setiap malam.

Selama menunggu perbaikan kapal yang rusak, Pigafetta memuaskan rasa keinginan-tahunya dengan mencatat dan terus mencatat. Apa saja!!

Ia menghimpun semua informasi tentang adat istiadat, budaya, tanaman, binatang, pertanian dan pengolahan makanan, dan yang terutama adalah tentang budidaya cengkeh. Selama di Tidore, ia telah menghimpun kamus yang terdiri dari 1000 kata dasar.

Sekembalinya ke Eropa – Pigafetta menulis dan menerbitkan karya klasik besar mengenai studi wilayah. Contoh gaya tulisannya yang cermat dan detil bisa disimak seperti berikut :

    “… Mereka makan roti “kayu” yang didapat dari pohon seperti palem, yang dibuat dengan cara sebagai berikut. Mereka ambil sebatang kayu lunak dan sisihkan duri-durinya yang hitam panjang. Kemudian mereka tumbuk kayu itu dan dari bahan itu dibuatlah roti. Mereka menggunakan roti yang mereka namakan sago itu hampir sebagai satu-satunya makanan mereka kalau sedang berlayar…”

Read the rest of this entry »

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , , , , ,