RSS

KYAI MOJO DAN KOMPLEKS MAKAM DI TONDANO

21 Mei

SEPUTAR KYAI MOJO

Kyai Mojo merupakan salah seorang pahlawan penentang kolonial, pengikut setia Pangeran Diponegoro bahkan salah satu pilar utama penyokong perjuangan Sang Pangeran. Mengenai Kyai Mojo ini tercatat dalam sejarah sebagai beikut :

  • Tertangkap sekitar Nopember 1928. VOC merencanakan bahwa jalur pengamanan yang akan dipakai adalah Semarang – Batavia – Ambon – Manado. Proses evakuasi menggunakan kapal perang De Belona kemudian dipindahkan ke kapal Mercury. Rombongan ini terbagi menjadi dua. Kyai Mojo sangat dihormati oleh VOC sehingga dibuatkan sebuah rumah tahanan baru yang terpisah. Tinggal di Batavia.
  • Pemberangkatan ke Ambon dibagi menjadi dua tahap, menggunakan kapal Thalia. Rombongan pertama berjumlah sekitar 48 orang, rombongan kedua 25 orang: Kyai Mojo disertakan dalam rombongan kedua.  Rombongan Kyai Mojo dikirim ke Ambon sekitar awal Februari 1830. Jumlah pengikut yang ikut dikirim ke Ambon hanya 25 orang, sisanya tinggal di Batavia. Rombongan ini akhirnya tiba di Manado sekitar bulan Mei 1830. Selanjutnya beliau diasingkan di Tondano.
  • Istri Kyai Mojo ditangkap setelah perang usai ( Februari 1831 ?) dan dikirim ke Manado. Istri Kyai Mojo adalah mantan istri Pangeran Mangkubumi (?). Di Tondano beliau dikenal sebagai “mbah wedok”.

Di Tondano, Kyai Mojo dan 63 orang pengikutnya membangun mesjid yang  dikenal sebagai Masjid Al-Falah, di tengah pemukiman yang kini disebut Kampung Jawa Tondano.

  • Komplek makam Kyai Mojo berada di desa Wulauan, Kecamatan Tolimambot, Minahasa. Kompleks makam dibagi menjadi dua bagian yaitu makam tanpa cungkup dan makam bercungkup.
  • Bangunan bercungkup pertama, berada di bagian tengah yaitu bagian tertinggi di areal kompleks, ada sebelas makam. Bangunan cungkup kedua, terletak di sebelah timur area cungkup pertama, begitu juga bangunan cungkup ketiga. Sisanya di areal kompleks makam tersebut adalah makam tanpa cungkup.
  • Makam-makam tersebut dapat dibedakan dari undaknya yaitu :
    1. Makam berundak sembilan, hanya ada satu yaitu makam Kyai Mojo.
    2. Makam berundak tiga berjumlah 47 buah, tanpa cungkup, tercatat nama-nama Mbah Rivai, Usman Wonggo, Ratep Suratinoyo, Mbah Rumbayan, dll.
    3. Makam berundak dua berjumlah 60 buah, beberapa diantaranya bercungkup, tercatat nama Kyai Sepoh Baderan.
    4. Makam berundak satu berjumlah 58 buah.
    5. Makam tanpa undakan mencatatkan nama-nama Mbah Ranges, Usman Wonggo, Tumenggung Wayang, Ahmad Nurhamiddin, anak keturunan Kyai Pajang, jumlah tidak tercatat.

Cukup sulit untuk membuat kategori tentang kompleks makam ini. Apa bedanya yang bercungkup dan tidak? Apa maksudnya undak-undakan dibedakan menjadi dua, tiga dan seterusnya? Hanya ada satu yang istimewa yaitu makam Kyai Mojo (bercungkup dan berundak sembilan!).

Mengingat jumlah pengikut Kyai Mojo yang ikut dibuang ‘hanya’ 63 orang dan jumlah makam di kompleks tersebut lebih dari 100, maka ada kemungkinan terdapat pejuang yang lain yang turut dibuang di wilayah ini yang tidak tercatat oleh administrasi VOC (?).

Adakah kemungkinan lain? Bisa jadi telah terjadi perkawinan antara para pengikut Kyai Mojo dengan masyarakat asli Tondano yang membuat masyarakat berkembang dan bertambah populasinya, sehingga tidak hanya Kyai Mojo dan pengikutnya saja yang dimakamkan di kompleks ini, melainkan juga anak keturunannya.

Satu hal yang pasti adalah, seluruh makam menunjukkan ciri makam Jawa – Islam.

Catatan Tambahan :

Komplek Pemakaman Kyai Mojo tetap terjaga hingga kini oleh anak keturunan para pengikut Kyai Mojo. Sungguh amat kontras dengan junjungan Kyai Mojo sendiri… Pangeran Diponegoro.

Versi resmi Hindia Belanda yang tetap dipakai sebagai acuan mata pelajaran sejarah hingga hingga kini :  Pangeran Diponegoro dipenjara dan dimakamkan di Makassar. Padahal banyak bukti penelitian masa kini menyimpulkan bahwa P. Diponegoro (yang dipanggil juga Ontowiryo) dimakamkan di Sumenep dalam kompleks makam istana, beserta keluarga dan pengikutnya.

Jadi, sejarah yang mana yang harus diyakini?? Mengapa kebenaran mesti disembunyikan??

(Disarikan dari berbagai sumber)

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2009 in Situs Sejarah

 

Tag: , , , ,

3 responses to “KYAI MOJO DAN KOMPLEKS MAKAM DI TONDANO

  1. Anonim

    11 November 2012 at 00:03

    menarik sekali… tapi Kyai mojo tidak jadi pahlawan yaa

     
  2. hawaii.edu

    27 Juli 2013 at 20:31

    Serve warm with a slice of piecrust over top of the fruit.

    Preparation method: Take finely chopped onions in a bowl and add yogurt,
    grated coconut, green chili and salt to taste. “Last night the weather was really bad, so instead of going out to Chili’s, we cooked the Monterey Chicken recipe from your ebook and we couldn’t even tell the difference.

     
  3. Muslim wedding organizer

    21 Februari 2014 at 14:01

    whoaaah, baru tau kyai mojo ini

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: