RSS

Kembali ke Peradaban

14 Sep

Kembali ke Peradaban!

Kembali ke ibukota Kabupaten Halmahera Utara, Tobelo, saya merasakan geliat kebangkitan dan gairah kemajuan. Sebagai ibukota Kabupaten, kota Tobelo menjadi kota kedua terbesar di propinsi Maluku Utara setelah kota Ternate. Pembangunan di Tobelo berjalan pesat, arus perdagangan bertiup demikian kencang.

Masyarakat dari daerah-daerah pesisir membawa hasil bumi ke kota Tobelo dan menukarnya dengan barang dagangan atau kebutuhan pokok lainnya.

Ini kelapa muda bung! Bukan kopra!

Saya menyaksikan aroma transaksi bersejarah berusia puluhan bahkan ratusan tahun yang tetap terjalin antara masyarakat desa dan kota kuno Tobelo yang catatannya bisa ditelusuri hingga di masa Kerajaan Portugis dan Spanyol masih bercokol di Molluccas.

Tidak ada yang berubah selain nilai uang, cara pengangkutan, teknologi kemasan atau sistem pembelajaan.

Cengkeh!

Pala!

Kopra!

Tiga macam komoditi paling tua yang hingga kini masih merupakan jaminan bagi masyarakat pedesaan di Halmahera Utara untuk mengarungi zaman. Mereka telah terbiasa menanam dan mengolah cengkeh sejak masa Portugis hingga VOC berkuasa. Berlanjut dengan penyebaran budidaya pala dan teknik pembuatan kopra yang diajarkan oleh “saudara-saudara” dari Netherlands.

Hmmm…  dunia perdagangan kuno itu hingga kini menjadi tulang punggung kehidupan di Tobelo.

Alangkah baiknya kalau saja ada mahasiswa yang mau melakukan survey penelitian tentang hal ini. Pasti saya dan Anda akan tercengang membaca hasilnya.

Menurut perkiraan kasar – dari hasil ngobrol ngalor ngidul dengan beberapa kepala desa dan menyaksikan kegiatan bongkar muat di pelabuhan Tobelo – lebih dari 75 ton kopra dibawa oleh masyarakat pesisir ke kota Tobelo setiap bulannya. Dan barangkali sekitar 5 ton biji pala mengalir setiap bulan ke gudang-gudang di Tobelo.

Kegiatan bongkar muat di salah satu sudut Pelabuhan Tobelo

Bagaimana dengan cengkeh? Whoaaa…, bulan Juli – Agustus yang lalu adalah masa panen utama komoditas ini. Entah berapa ratus ton cengkeh kering yang masuk dan diserap oleh pedagang besar di Tobelo. Setelah tersimpan di gudang Tobelo, arus perdagangan yang lebih besar bergulir terus menerus menyerap semua komoditi tersebut.

Perlu diingat, komoditas pala dan kopra tidak mengenal musim. Karena pohon pala – seperti juga kelapa – berbuah sepanjang tahun.

***

Salah satu keunggulan dan kelebihan masyarakat pesisir Halmahera Utara di masa sekarang ini adalah ketangguhan mereka dalam menyikapi kehidupan. Dari desa ke desa yang saya temui adalah sekumpulan orang optimis dan penuh semangat bekerja.

Di beberapa desa yang cukup jauh dari geliat cahaya listrik dan sinyal handphone, masyarakat memiliki ketergantungan yang tipis terhadap komoditas umum. Salah satunya adalah minyak goreng!

Minyak goreng (yang diolah dari produk kelapa sawit) hanya saya jumpai di kota Tobelo.

Minyak (Anti Sawit Malaysia)

Di pedesaan, masyarakat membuat sendiri minyak dari kelapa. Bahkan minyak goreng curah saja tidak ada warung yang menjualnya. Setiap rumah membuat sendiri minyak kelapa yang digunakan untuk menggoreng dan sebagainya.

Hahaha…. ini yang saya sebut patriotik sejati!

Tanpa gembar-gembor, masyarakat Halut sudah tidak tergantung dengan “sawit” yang merupakan komoditas kebanggaan negara tetangga kita – Malaysia. Dengan jumlah sumberdaya kelapa yang melimpah, setiap rumah tangga di desa menyimpan setidaknya sekitar 1-3 liter minyak kelapa buatan sendiri.

Hebat bukan?!

Dahulu – sekitar 20-30 tahun y.l. – kebiasaan membuat minyak kelapa sendiri masih membudaya di sebagian besar masyarakat desa di Jawa. Tetapi waktu yang bergeser telah mengubah itu semua.

Dari masyarakat mandiri kita melihat sebagian besar masyarakat desa di Jawa kini telah berubah menjadi masyarakat yang tergantung dengan produk pabrikan.

Inikah yang disebut kemajuan peradaban??
Berpindah dari kemandirian ke arah ketergantungan….

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 14 September 2010 in Jalan Jalan

 

Tag: , , , , , ,

10 responses to “Kembali ke Peradaban

  1. Rivanlee

    15 September 2010 at 00:13

    izin pertamax dulu😀

     
  2. abifasya

    15 September 2010 at 10:54

    As.wr.wb
    Selamat Idul Fitri
    Mohon Maaf Lahir Bathin
    semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua
    dan diberikan umur yg panjang untuk beribadah kepada Allah
    Salaam

     
    • wardoyo

      16 September 2010 at 12:22

      Sama-sama, bung Abi…. terimakasih

       
  3. Usup Supriyadi

    15 September 2010 at 14:41

    maaf lahir batin…

    membumi sekali tulisannya

     
    • wardoyo

      16 September 2010 at 12:24

      Terimakasih, bung Usup.

       
  4. bundadontworry

    16 September 2010 at 12:57

    masyarakat di Tobelo ini benar2 mandiri ya Mas, dlm mengelola hasil bumi mereka yg kaya.
    minyak goreng yg diolah sendiri ini pasti rasanya gurih sekali ya.
    aku baru tau kalau buah pala itu ternyata gak mengenal musim seperti pisang, pepaya dan kelapa ya Mas.
    terimakasih krn telah berbagi cerita yg bermanfaat Mas.
    salam

     
    • wardoyo

      16 September 2010 at 13:38

      Terimakasih bunda.
      Beda minyak kelapa buatan sendiri dengan minyak sawit yang umum dipakai saat ini adalah pada penggunaannya. Diakui, menggunakan minyak kelapa lebih awet dan hemat karena jelantah (minyak bekas pakai) bisa terus digunakan berkali-kali sampai habis tanpa merusak rasa. Masyarakat lokal pesisir yang saya minta untuk menggunakan minyak goreng sawit mengatakan, kalau setelah dua kali pakai, jelantah dari minyak sawit tidak baik dipakai karena akan mempengaruhi rasa, menyebabkan batuk dan merusak mutu masakan.
      Sekedar catatan saja : kebutuhan minyak selama saya bekerja adalah hanya untuk menggoreng telur, krupuk atau ubi/pisang. Tidak ada penggunaan minyak untuk yang lain.
      Bisa dibayangkan, seandainya setengah dari kebutuhan minyak goreng yang kita pakai saat ini di Jawa menggunakan minyak kelapa; pasti dalam tempo singkat pabrik minyak goreng sawit akan kelabakan menjual produknya. Barangkali harga minyak akan turun ke tingkat yang lebih masuk akal…. hehehe…

       
  5. Kakaakin

    17 September 2010 at 06:50

    Wah… saya jadi ingat, waktu saya masih kecil dulu, keluarga saya membuat sendiri minyak kelapa😀
    Sekarang sih paling banter bikin sedikit minyak kelapa untuk jadi minyak rambut, itupun sudah jarang banget…

     
    • wardoyo

      17 September 2010 at 15:36

      Betul … jarangnya orang membuat minyak kelapa karena mudahnya orang memperoleh minyak goreng sawit.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: