RSS

Yang Unik dari Hutan Halmahera

12 Sep

Salah satu keuntungan yang saya peroleh saya kunjungan ke daerah-daerah terpencil di pelosok Nusantara adalah menemukan hal-hal baru dan unik yang tidak mungkin dijumpai di Jawa khususnya.

Salah satunya adalah Burung Maleo. Satwa langka yang menjadi ciri untuk wilayah Sulawesi Utara ini ternyata cukup banyak dijumpai di wilayah Halmahera Utara.

Gambar di samping ini diambil dari catatan om wiki.

Sepanjang tugas saya sering menjumpai burung ini. Suaranya yang khas, besar dan keras terdengar sepanjang hari di hutan… berbaur dengan suara burung Kakatua Biru atau Merah atau suara burung sejenis Rangkok  (masyarakat lokal menyebutnya burung Taon karena paruhnya mempunyai strip yang bertambah setiap tahun).

Termasuk binatang langka… burung Maleo banyak diburu masyarakat lokal karena rasa dagingnya yang enak (katanya sih mirip ayam kampung…).

Di samping dagingnya yang diburu, telur burung inipun banyak dicari. Mirip telur ayam namun dengan ukuran “super jumbo” dengan volume setara dengan 4-5 kali telur ayam biasa. Telur burung Maleo tidak dierami, hanya ditimbun dalam tumpukan tanah dan ranting sedalam 40 cm hingga 1 meter. Jadi, telur ini akan menetas di dalam tanah. Anak burungnya akan menunggu si induk datang menggali.

Beberapa kali saya menjumpai gundukan tanah gembur “hasil kerja” induk burung Maleo. Dan beberapa kali pula saya dan beberapa orang ‘pemandu lapangan’ yang merupakan penduduk lokal mengambil telur Maleo. Tanpa permisi tentunya.

Telur burung Maleo

Telur burung Maleo termasuk langka. Tetapi di Halmahera Utara – terutama di hutan – telur ini banyak dijumpai. Dalam sehari kami bisa menemukan lebih dari 5 lokasi sarang penetasan. Semua hanya dalam radius 30 – 50 hektar saja, itupun dalam perjalanan kerja – bukan sengaja mencari telur. Meski demikian, karena burung Maleo adalah satwa yang dilindungi, maka otomatis telurnya-pun termasuk yang harus dijaga dari kepunahan.

Telur Maleo yang besar

Di samping telur Maleo yang unik, saya sering dibuat terkejut oleh para pemandu lokal yang amat trampil mencari belut dan udang di sungai.

Bukan main. Saya acapkali terkaget-kaget dengan “ukuran” yang saya saksikan.

Udang sungai yang bergizi

Belut berukuran "sedang"

Jadi, siapa bilang hidup di hutan itu sengsara? Makanan yang sehat, bergizi dann natural tersedia. Ditambah udara bersih tanpa cemaran polusi…. Hmmm!!

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 12 September 2010 in Jalan Jalan

 

Tag: , , , ,

6 responses to “Yang Unik dari Hutan Halmahera

  1. Kakaakin

    14 September 2010 at 04:41

    Subhanallah…
    Lumayan banget ya, Mas… dapat kesempatan langka menyaksikan kekayaan alam kita🙂
    Hmm… kalo dibikin cake, palingan cuma perlu 2 butir telur maleo:mrgreen:

     
    • wardoyo

      14 September 2010 at 13:10

      Haaa…. cake??
      Bisa-bisa dalam setahun burung Maleo punah dari daratan Halmahera…. Saya dan rombongan selama ini selalu menahan diri dari keinginan membongkar setiap sarang penetasan telur burung Maleo yang dijumpai. Kasihan, burung yang langka ini sudah semakin sulit dijumpai.

       
  2. bundadontworry

    16 September 2010 at 13:00

    bunda pernah diberi oleh seorang teman, sebutir telur burung maleo, kok gak tega ya mau masaknya , krn besar banget.
    Senangnya ya Mas, bisa selalu menyaksikan langsung kekayaan alam indonesia di bagian lain dr nusantara .
    gak salah memang kalau koes plus menyanyikan lagu nusantara sampai berjilid2, krn kekaguman pd kekayaan negeri ini.
    Semoga burung maleo ini tetap lestari dan tdk termasuk spesies langka.
    semua tergantung dr perilakau manusia nya juga ya MAs.
    salam

     
  3. bundadontworry

    16 September 2010 at 13:01

    apakah sudah ada upaya , baik dr pemda setempat maupun swasta utk melestarikan keberadaan burung maleo ini Mas ?
    salam

     
    • wardoyo

      16 September 2010 at 13:43

      Yang saya tahu, himbauan dan pemahaman tentang keberadaan burung Maleo sebagai satwa langka sudah cukup merasuk di masyarakat pedesaan lokal. Biasanya yang suka menangkap dan mencari burung Maleo, Kakatua merah/biru atau putih, serta berbagai satwa langka lain adalah para pendatang dari Jawa.
      Masyarakat lokal tidak membutuhkan hewan dalam sangkar. Jadi burung Maleo dan satwa lainnya tetap aman.

       
  4. Anonim

    2 Agustus 2014 at 19:51

    ha ha ha burung,belut udang ma d’sp.5 juga ada , , , malah bnyk mw beli dsni bnyk low mlah dpt b0nus

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: