RSS

Jika harga diri dipertanyakan!

13 Jun

Lamaranmu Kutolak!

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah (lamaran).

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu,
seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya,
untuk ‘merebut’ sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya?
Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja.
Ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.
Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda.
Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan.
Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan UGM Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho?
Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak.
Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha, lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. .. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”

“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu?
Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”
“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok.
Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube?
Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah…”
“Kamu kesini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’.
Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu… saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga?
Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”
“Tapi pak… di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya.
Selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak,
dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.

“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.
Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”

Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup.
Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

Cerita ini harus happy ending, bukan? 🙂

_________________________

Postingan ini hanya copas dari artikel yang dikirim oleh “mbak Endah” di milis Pekerja Tambang (edisi 11 Juni 2010 dengan judul Lamaranmu Kutolak!); dimuat dengan sedikit adaptasi.  Meski agak menyimpang dari tema blog ini tetapi tak apalah…😀😀
Hanya sebuah selingan di tengah hiruk-pikuk  ‘video artis tak tahu malu’ dan teriakan para penggila bola sejagat.

🙂😀

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Juni 2010 in Uncategorized

 

14 responses to “Jika harga diri dipertanyakan!

  1. sunarnosahlan

    13 Juni 2010 at 05:25

    akhirnya diterima juga, bukan karena harta dan kemewahan, kisah yang oke banget

     
    • wardoyo

      13 Juni 2010 at 08:08

      Terimakasih, bung.
      “Sedjatee”-nya kita memang tidak memiliki apa-apa selain yang terakhir itu…

       
  2. Vulkanis

    13 Juni 2010 at 17:57

    Wakkkkakkakkk

    Gawat tuh Mas kalo ada camer yang ngono…
    Untuk dia bisa hapal sedikit Alquran

     
  3. wardoyo

    13 Juni 2010 at 19:11

    Kebalikannya, bung Dangstar. Mudah2an banyak camer yang sadar ttg pentingnya agama sebagai pertimbangan milih menantu…🙂 baru deh yang muda2🙂 :D- nyadar diri… xixixi

     
  4. Kakaakin

    13 Juni 2010 at 22:36

    Hahaha… pertanyaannya itu loh nyebelin plus njengkelin😀
    Untung saja keterima😛
    Happy ending deh…😀

     
    • wardoyo

      17 Juni 2010 at 16:39

      bisa ketawa sekarang…

       
  5. Djoko Sableng

    14 Juni 2010 at 17:47

    Pelajaran bagi para bujangan, agar mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan jebakan dari calon mertua. Waspadalah… waspadalah…!!!

     
    • wardoyo

      17 Juni 2010 at 16:38

      hati-hati dengan calon mertua yaaa…

       
  6. p3cel

    17 Juni 2010 at 14:02

    ha ha ha… sempat emosi dengar kata2 dari bapak itu cew… . tapi berakhir senyuman………ha ha ha.. nice story… salam kenal yah………!

     
    • wardoyo

      17 Juni 2010 at 16:30

      salam kenal juga…. jangan terbawa emosi
      senyum untuk apresiasinya

       
  7. Dyta Harleems

    1 Juli 2010 at 01:06

    kerennn ..
    bisa tukeran link ga ??

     
  8. kopral cepot

    13 Juli 2010 at 03:20

    walah tulisannya kok ngak keliatan mas …

    sukses always😉

     
  9. sedjatee

    14 Juli 2010 at 08:22

    kisah yang sangat menyentuh
    masihkah ada sosok-sosok yang idealis begitu
    ataukah zaman telah membalikkan idealisme?
    salam sukses selalu…

    sedj

     
  10. jasmine

    27 Juli 2010 at 11:04

    intinya,carilah suami untuk dunia akhirat,jangan untuk dunia saja,hehe

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: