RSS

Spice Islands (Ekspedisi Magellan – Parts I)

17 Mei

Ferdinand Magellan lahir di utara Portugis pada tahun 1480. Dalam usia 10 tahun, Magellan telah ditinggal mati orang tuanya. Untunglah pada usia 12 tahun ia bisa bekerja di istana Ratu, sebagai pengantar surat di lingkungan istana. Magellan memanfaatkan waktu untuk belajar dan bertemu dengan para explorer. Cita-citanya berkembang, ambisi dan semangatnya terpompa karena ia memiliki teman dekat yang selalu berkorespondensi dengannya, seorang Kapten Portugis yang terkenal – Francisco Serrao.

Di abad 15, Kerajaan Portugis adalah salah satu dari dua Kerajaan Katolik yang mendapat mandat dari Paus Alexander VI untuk menyebarkan misi Kristus ke seluruh dunia.  “…. Sebagai pemimpin gereja Katolik, Paus telah membagi bola bumi ini menjadi dua belahan…. Paus yang tentunya lebih ahli dalam bidang teologi daripada dalam bidang geografi itu telah memutuskan bahwa kepulauan Maluku tercakup dalam belahan barat yang merupakan wilayah Portugis ketimbang belahan timur, yang merupakan wilayah Spanyol dengan garis batas yang samar-samar di Samudra Pasifik…” (Kutipan dari buku ‘Ternate dan Tidore’, hal. 16)

Magellan karena tertarik dengan temuan kawannya Francisco Serrao, (lihat di tulisan sebelum ini – Spice Islands bag.1) menjadi sangat terobsesi. Sebagai pemuda cerdas dengan kemauan baja, akhirnya Magellan meninggalkan Portugis dan mengabdi kepada Raja Carlos dari Spanyol. Semangat explorer terus digembar-gemborkan Magellan, padahal tujuan sesungguhnya adalah menghindari Paus Alexander dan mencari kekayaan. Magellan terobsesi dengan Spice Islands. Ia ingin menuju ke Timur, tetapi dengan berjalan ke arah barat. Magellan bermaksud menemukan rute baru melalui perairan yang dikuasai Spanyol menuju sumber rempah-rempah. Ia bahkan menunjukkan surat-surat Serrao secara pribadi kepada Raja Carlos – yang mendeskripsikan dengan jelas route navigasi dan keberadaan Spice Islands (Ternate) – sebagai dasar rencananya.

Akhirnya, Raja Carlos dan bankir-bankir pribadinya mempertaruhkan L 4.800 (dalam mata uang Spanyol, Lyra) untuk ekspedisi Magellan. Jumlah itu cukup untuk membeli, memperbaiki, melengkapi dan mempersenjatai suatu armada laut yang terdiri dari 5 kapal lengkap dengan bahan makanan maupun barang dagangan, serta pengeluaran-pengeluaran lain selama 18 bulan perjalanan yang direncanakan. Meski demikian, Magellan mengalami kesulitan mencari awak kapal yang baik. Para pelaut Spanyol berkeberatan bergabung – karena Magellan selain masih terhitung muda – belum lagi 30 40 tahun usianya – juga seorang Portugis. Namun pada akhirnya iapun berhasil mengumpulkan sekitar 250 awak, separuhnya adalah orang-orang kriminal atau para penjahat musuh kerajaan yang diampuni asal bersedia turut dalam ekspedisi.

Perjalanan laut ke ujung dunia saat itu masih merupakan perjalanan yang menakutkan. Ekspedisi ini berhasil melampaui ujung selatan Amerika dan memasuki lautan luas yang ‘teduh’, Magellan menamakannya Pacific. Selama empat minggu, rombongan ini berlayar di Lautan tak dikenal tanpa melihat tanda-tanda adanya daratan. Semua orang kepayahan, bahkan Magellan dan anak buahnya hanya bisa makan daging tikus yang dijumpai di kapal.  Di tengah keputusasan, Kapal San Antonio melakukan desersi, berbalik arah. Para awak San Antonio yang ketakutan memilih untuk kembali ke Sepanyol – meski niat itu pun tidak pernah kesampaian.

Bulan Maret 1521, tibalah armada ini di Guam. Mereka beristirahat dan memulihkan perbekalan seadanya, lalu meneruskan perjalanan menuju SPICE ISLANDS. Rombongan ini tiba di selatan Filipina, dan itulah akhir perjalanan heroik Sang Admiral…. Magellan terkena panah beracun pada kakinya yang menyebabkan ia hanya sanggup hidup untuk beberapa hari. Anak buahnya banyak yang tewas menggenaskan dalam pertempuran dengan suku pribumi. Magellan dikuburkan di Filipina Selatan, sementara kapalnya – The Conception – dibakar oleh awak kapal yang lain sebelum pergi.

Tiga kapal yang tersisa melanjutkan perjalanan ke barat. Celakanya, perjalanan tidak semulus yang diperkirakan. Satu kapal lagi, Santiago harus mengalami nasib buruk, karam di telan badai di Laut Cina Selatan. Akhirnya, setelah merampok sebuah kapal dagang Cina, armada Spanyol ini berbalik arah menuju tenggara. Kapten kapal yang baru kembali fokus pada tujuan semula : SPICE ISLANDS.

Posisi Admiral Ferdinand de Magellan – saat itu telah digantikan oleh Jan Sebastian del Cano, seorang bangsawan Spanyol, mualim yang terampil dan pemimpin yang pemberani. Kapal utama Sang Kapten – Victoria – memiliki bobot 95 ton, sudah lapuk dimakan ulat dan bubuk sehingga sulit dikendalikan. Dan satu-satunya kapal pendamping yang masih selamat – Trinidad (110 ton) – mirip kapal rongsokan. Jumlah awak kapal kurang dari separuhnya, semuanya sakit-sakitan.

6 November 1521.

Setelah menempuh perjalanan panjangnya, armada Spanyol yang kelelahan dalam perjalanan selama 27 bulan itu sampai juga di tempat yang dituju …. SPICE ISLANDS!!

Penulis ekspedisi ini – yang setia mendampingi Sang Kapten – bernama Pigafetta. Ia menuliskan suasana saat itu :

“Sewaktu melihat daratan, kami memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan dan sebagai ungkapan kegirangan hati, kami tembakkan semua artileri kami. Tidak mengherankan, karena kami telah melewatkan 27 bulan kurang dua hari dalam usaha mencari Malucho…”

Kapten Del Cano mengirim utusan untuk mencari berita tentang Ternate. Namun rupanya yang mereka lihat adalah Tidore – bukan Ternate. Dua hari kemudian, Sultan Tidore datang untuk menyambut mereka secara pribadi. Dan dimulailah hubungan mesra Spanyol – Tidore, mirip episode hubungan indah Portugis – Ternate sepuluh tahun sebelumnya.

Pigafetta menuliskan dalam catatannya :

“Tiga jam sebelum matahari tenggelam pada hari Jum’at, tanggal 8 November 1521, kami memasuki pelabuhan sebuah pulau, Tidore namanya, dan sambil membuang sauh di dekat pantai dalam jarak 200 braza (1 braza=5,48 kaki) kami lepaskan tembakan artileri. Keesokan harinya, sang raja mendatangi kapal-kapal kami dengan naik sebuah perahu, dan mengelilingi kapal-kapal itu satu kali. Kami segera menjemputnya dalam sebuah kapal kecil, untuk memberikan penghormatan kepadanya….. Ia duduk di bawah suatu tenda sutera yang melindunginya dari segala sisi. Di depannya salah seorang puteranya memegang tongkat kerajaan dan dua orang memegangi dua guci emas untuk menuangkan air ke tangannya, dan dua orang lagi membawa tempat sirih dari emas… Pada saat Raja memasuki kapal kami, semua mencium tangannya…

“Setelah mempersilakannya duduk, Sultan mulai berbicara dan mengatakan, ia dan rakyatnya ingin selalu menjadi mitra setia dari raja kami, raja Spanyol. Ia menerima kami sebagai anak-anaknya dan kami dapat mendarat dan berbuat seperti di rumah sendiri, karena sejak saat itu, pulaunya tidak lagi dinamakan TIDORE, melainkan CASTIGLIA…

“Kami hadiahkan kepadanya jubah, kursi, kain linen halus, empat braza kain merah, sutera brokat, kain damaskus kuning, kain India bersulam benang emas dan sutera, sepotong berenia (kain linen dari Cambaia – Camboja.admin), dua peci, enam untai manik-manik gelas, dua belas bilah pisau, tiga cermin besar, enam gunting, enam sisir, beberapa gelas minum berlapis emas, dan benda-benda lain…

“Ketika ia berpamitan pulang, kami dentumkan semua meriam. Sang Raja adalah seorang Moro (muslim, admin) dan berusia kira-kira 45 tahun. Bentuk tubuhnya bagus dan berwibawa sebagai raja dan ahli nujum yang ulung. Waktu itu ia mengenakan baju kemeja putih dari kain paling halus yang ujung lengannya bersulam benang emas, dan kain yang memanjang dari pingganggnya sampai ke lantai (sarung, admin)….. Ia bergelar Raja Sultan Manzor.”

Orang-orang Spanyol diberi tempat berteduh dari bambu, tikar dan rumbai di tepi pantai. Segera mereka menggelar barang dagangannya (yang merupakan hasil merompak kapal dagang Cina). Tentu saja dengan sistem barter. Untuk kain merah bermutu ditukar dengan 1 bahar cengkeh (sekitar 600 pon). 50 gunting ditukar dengan satu bahar, 3 gong kuningan ditukar dengan 2 bahar cengkeh….

(to be continued)

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Mei 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , , ,

9 responses to “Spice Islands (Ekspedisi Magellan – Parts I)

  1. Ifan Jayadi

    18 Mei 2010 at 04:32

    Wah, jadi lebih tahu nih sejarah hidup seorang Magellan. Ini seperti aku mengulang pelajaran sejarah di SMP SMU dulu. Benar2 menambah pengetahuaan

     
    • wardoyo

      18 Mei 2010 at 13:58

      Sejarah memang sama saja. Magellan itu tidak terlalu menonjol namanya di Indonesia, jarang sekali disebut-sebut. Kepopulerannya masih kalah dengan Jan Pieter Zoon Coen…
      Thanks ya.

       
  2. sedjatee

    18 Mei 2010 at 08:29

    sempat mengenal ferdinand magellad di bangku sekolah
    kembali mengenalnya lebih dalam di tulisan ini..
    salam sukses..

    sedj

     
    • wardoyo

      18 Mei 2010 at 14:15

      Hahaha… seperti donat aja. Waktu sekolah dulu makan donat buatan warung, sekarang makan donat franchise. Sama-sama donat juga.
      Sukses selalu untuk bung sedjatee..

       
  3. Kaka Akin

    20 Mei 2010 at 19:24

    Subhanallah… serasa lagi baca novel🙂
    Lebih merasuk dihati dibanding buku pelajaran dulu…🙂

     
    • wardoyo

      21 Mei 2010 at 00:21

      Memang. Sejarah itu sebuah novel roman bersambung yang penulisnya banyak sekali …. hahaha….

       
  4. Kakaakin

    20 Mei 2010 at 19:30

    Perjalanan tragis namun berbuah manis bagi Spanyol.
    Sangat berterima kasih pada pencatat sejarah…
    *Gak sabar baca kisah selanjutnya*😀

     
  5. joe

    5 September 2013 at 20:20

    Kalau agan” k pulau Tidore …masih ada tugu peringatan Spanyol…Sebastian Delcano…mantap infonya..thanks…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: