RSS

Prologue : Orang Hutan

21 Apr

Satu hal yang menarik saya jumpai di wilayah Maluku Utara, tepatnya di Halmahera. Yaitu mengenai keberadaan ORANG HUTAN.

Mula-mula saya juga tidak memahami pembicaraan para pekerja lokal mengenai sosok “orang -hutan”. Tetapi setelah menyimak beberapa lama, saya menjadi tertarik.  Bagaimanapun juga, keberadaan “orang hutan” di Maluku Utara adalah nyata.

Bukan! Orang hutan di wilayah Halmahera bukan sejenis primata – seperti di Kalimantan. Dugaan seperti itu jauh panggang dari api. Orang hutan dalam pembicaraan masyarakat Maluku Utara adalah manusia juga. Bedanya adalah, mereka memang tinggal di dalam hutan, hidup dan membangun komunitas tersendiri di hutan-hutan. Hidupnya seperti di zaman Majapahit dulu.

Masalahnya adalah, pekerjaan saya tidak memungkinkan saya untuk melacak dan mengetahui keberadaan mereka. Jadi, sebagai prolog saja – sebelum saya bisa memperoleh data yang lebih baik lagi – saya akan mencoba menuliskan potongan-potongan cerita atas dasar wawancara langsung yang saya peroleh dari beberapa saksi mata. Mereka ini – para saksi mata – adalah orang-orang yang sudah beberapa tahun tinggal di wilayah ini… Bagi saya pribadi, keseluruhan cerita yang disambung-sambung itu menarik untuk diikuti mengingat kisahnya terkait dengan bagian sejarah masa lalu bangsa ini.

1. Versi 1 : Orang hutan ini asalnya adalah orang biasa dari desa yang menghindar dari pungutan pajak (zaman VOC dulu) dan menyingkir ke dalam hutan. Mereka membangun komunitas tersendiri dan beranak pinak di dalam hutan, hingga sekarang.

2. Versi 2: Orang hutan di Malut merupakan keturunan Portugis yang memang menghindari pengejaran dan penangkapan VOC. Karena wilayah yang aman adalah hutan, mereka akhirnya menjadikan hutan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat berlindung.

3. Orang hutan terisolasi dari pengaruh budaya.

4. Orang hutan berbahasa Tobello.

5. Antar komunitas “orang hutan” sering terjadi perang (dengan panah, tombak atau parang)

6. Hubungan antara sesama “orang hutan” dan masyarakat desa tidak selalu harmonis. Setiap keluarga atau suku “orang hutan” memiliki teritori – wilayah perburuan sendiri. Masyarakat desa sangat takut untuk melintasi hutan, khawatir melanggar batas teritori “orang-hutan” tanpa disadari. Akibat sebuah pelanggaran teritori adalah perang.

7. Orang-hutan memiliki kebun. Mereka membangun pondok kayu tanpa dinding, beratap daun. Semuanya dibuat di tengah hutan.

8. Orang hutan memelihara anjing pemburu.

9. Orang hutan mampu berlari secepat rusa – di dalam hutan (padahal orang biasa sulit berjalan). Dalam bahasa masyarakat, mereka “berlari secepat angin”.

10. Orang hutan memiliki tinggi badan di atas rata-rata orang kebanyakan. Wajahnya tampan, berkulit lebih cerah dari kebanyakan orang Maluku (mungkin karena keturunan Portugis???) Ada rekan kerja terdahulu yang beruntung sempat mengambil foto beberapa orang hutan, tetapi hingga sekarang saya belum berkesempatan melihat dengan mata kepala sendiri….

Nah, namanya juga prolog. Jadi, semuanya pasti belum tuntas. Masih banyak pertanyaan yang bisa digali dan ditelusuri mengenai sejarah “orang-hutan” di Halmahera ini. Mereka memang komunitas tidak ber-KTP, tetapi tetap saja mereka manusia – warga Indonesia secara de facto.

Ada yang bersedia berbagi informasi lebih mengenai orang-hutan ini???

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 21 April 2010 in Jalan Jalan

 

Tag: , , ,

7 responses to “Prologue : Orang Hutan

  1. sedjatee

    22 April 2010 at 09:25

    tumben menulis orang hutan…
    hehe… maaf lama tak berkunjung kesini Sobat..
    salam sukses selalu n tetap semangat..

    sedj

    ______________

    terimakasih bung..
    Sebelumnya saya minta maaf, lama sekali gak blogwalking. Dan tema “orang hutan” yang saya tulis ini memang satu-satunya bahan aktual yang ada …hehehe…

     
  2. bundadontworry

    23 April 2010 at 08:16

    tadinya bunda sangka mau membicarakan ttg orang utan yg primata itu,
    ternyata ttg manusia hutan yg hidup jauh dr peradaban modern.
    Prolog ttg masyarakat orang hutan ni menarik sekali ya Mas.
    Apakah sudah ada sentuhan dr pemda setempat atau memang mereka benar2 terisolir?
    salam

     
    • wardoyo

      23 April 2010 at 19:27

      Orang hutan yang ada di Halmahera ini – menurut saya – adalah komunitas unik. Saya yakin mereka memiliki sejarah yang istimewa. Jangan berharap kepada pemda, karena lebih banyak yang harus diurus oleh mereka yang berbaju. Sejauh yang saya ketahui, mereka berbahasa unik – Tobello – yang tidak banyak dimengerti oleh masyarakat sekarang. Tentu ini menyulitkan komunikasi. Mereka tidak bisa dicari – karena merekalah penguasa hutan – tetapi kalau mereka mau dilihat barulah mereka muncul. Ada beberapa dari komunitas “orang hutan” ini yang sudah mau memakai baju dan berinteraksi, tetapi tidak banyak yang bisa digali.
      Sederhana, itu barangkali satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan mereka.
      Thanks ya, bunda sudah mampir.

       
  3. Samlawi

    24 April 2010 at 15:20

    Setahu saya orang hutan di Halmahera sebagian sudah ada yang memakai pakaian , pakaian tersebut diberikan oleh orang-orang pekerja tambang yang kebetulan melewati daerah yang menjadi areal hunian mereka . Makanan sehari-hari mereka adalah hasil buruan yang berupa binatang seperti rusa, babi, burung maleo dan beberapa binatang hutan lainnya. Mereka juga telah mengenal bercocok tanam seperti umbi-umbian dan sayur-2 an . Kebetulan saya sempat bertatap muka dengan tiga sosok orhut yang kelihatannya sudah agak akrab dengan masarakat sekitar. Orang nya polos dan jujur , dengan postur yang cukup tinggi (175cm) kurang lebihnya mereka cukup gagah memakai pakaian yg diberikan rekan-rekan saya dan dengan diajari bahasa keren anak muda , dia sangat faseh mengucapkannya seperti ” MANTAP” , ” BELUM TAHU DIA”………………., diucapkan berkali-kali tanpa tahu apa arti ucapan itu sambil mengacung kan jempolnya . Yah itulah pengalaman saya dengan orang hutan di Halmahera. Selamat untuk Mas Wardoyo . Gali terus khasanah di pelosok seluruh Indonesia lainnya.

     
    • wardoyo

      25 April 2010 at 14:02

      Wah… surprise. Terimakasih sekali pak Samlawi untuk infonya. Dan terimakasih juga untuk kiriman foto dan videonya.

       
  4. Kakaakin

    26 April 2010 at 09:16

    Kumpulan orang2 yang benar2 tinggal di dalam hutan ya…
    Sedikit banyaknya turut menjaga hutan juga🙂

     
    • wardoyo

      26 April 2010 at 10:09

      Betul sekali mbak. Mereka hidup ala Tarzan, pakaian dari kulit kayu, pondok tanpa dinding beratap daun lebar. Berkelompok.

      Kecepatan bergeraknya di dalam hutan benar-benar membuat para pekerja camp terkagum-kagum – gak masuk akal! Langkah kaki mereka tidak bersuara. Senjatanya panah, tombak dan sebagian parang. Mereka berkebun tapi tidak bertani (jadinya gak makan beras/nasi). Benar-benar penjaga hutan sejati.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: