RSS

Ternyata, Semua Hanya Di Atas Kertas

04 Jan

HAPPY NEW YEARS  alias  SELAMAT TAHUN BARU

Ucapan ini bersliweran sejak 4 hari yang lalu. Di Facebook, di berbagai blog, di Handphone dan di layar televisi.

Terus-terang, selama berhari-hari, pikiranku menerawang ke masa ribuan tahun yang lalu. Saat manusia dari berbagai bangsa mulai bergaul dan berinteraksi. Saat Raja-raja di berbagai belahan dunia memerintah. Saat sebagian kecil manusia memperhatikan langit dan bumi, siang dan malam, perjalanan bulan – matahari – dan bintang-bintang. Saat dimana hanya sedikit manusia yang disebut priest – bhiksu – pendeta – para pemikir – dan ilmuwan mulai mencatat dan merumuskan hari dan bulan. Sang Waktu mulai dituliskan.

Dalam bayangan imajiner saat ini, bumi bergerak mengelilingi matahari dengan sumbu menyudut terhadap lintasan, menyebabkan matahari ‘seolah-olah’ bergerak dari 23,5 derajat Lintang Utara menuju equatorial dan terus ke selatan hingga posisi 23,5 derajat Lintang Selatan dan kembali lagi ke equator (posisi 0 derajat lintang). Karena itulah,  di negara ini – Indonesia, aku bisa melihat matahari sepanjang tahun,  dan hanya mengalami dua musim (panas-dingin, atau kemarau-penghujan).

Berbeda dengan negara dengan posisi lintang di atas 23,5 derajat. Mereka mengalami empat musim (semi-panas-gugur-dingin) yang posisinya berkebalikan antara belahan bumi utara dan selatan. Jadi, perayaan Natal di belahan Eropa/Amerika/Canada terjadi saat musim dingin dan salju turun. Sementara di Australia dan New Zealand masyarakat merayakan Natal di tengah musim panas.

Inilah misteri sang waktu. Di bawah matahari yang sama, waktu yang dituliskan menjadi berbeda-beda.

Sejarah Kalender

Kabarnya – sejarah kata kalender berasal dari masa imperium Romawi ketika para pendeta mereka menyebut hari pada awal New Moon dengan sebutan Kalendae atau Kalends.

Namun anehnya, hampir seluruh kebudayaan dunia di masa lalu menisbatkan hitungan hari dengan dasar peredaran bulan – bukan berdasarkan peredaran matahari. Istilah kalender lunar dinisbahkan untuk perhitungan hari dan bulan – dengan dasar peredaran sinodik bulan yang berkisar antara 29-30 hari. Sedangkan kalender solar dibuat untuk perhitungan musim dengan dasar perputaran bumi mengelilingi matahari, yang di atas kertas 365-366 hari lamanya.

Inilah barangkali pangkal kebingungan. Siklus lunar dan solar berbeda. Ada selisih 11 hari. Karena itu umumnya berbagai bangsa di masa lampau mengawinkan kedua siklus penanggalan tersebut dan menghasilkan penanggalan yang disebut Kalender Lunisolar.

Tidak ada yang aneh dengan kalender lunisolar. Di atas kertas mereka hanya menyisipkan 1 bulan (30 hari) setiap 2-3 tahun matahari. Istilah textbook-nya interkalasi. Hingga kini, bangsa Yahudi dan China masih memakai cara ini. Umat Yahudi menambah 7 bulan interkalasi dalam 19 tahun – ini yang disebut siklus 19 tahun. Jadi, dalam satu tahun kalender Yahudi atau China, bisa terdiri dari 354-355 hari atau 384-385 hari.

Kalender Babylonia

Tahun lunisolar tercatat pertama disusun oleh bangsa Babylonia. Penetapannya dilakukan tahun 747 SM, era Raja Nabonassar. Sehingga tahun Babylon disebut tahun AN (Anno Nabonassari). Kemudian, kalender Babylonia dijiplak mentah-mentah oleh Yahudi dan disebut sebagai Jewish Calendar (disebut tahun AM = Anno Mundi; tahun penciptaan dunia menurut kepercayaan Yahudi, yaitu sekitar tahun 3760 SM).

Kalender Yahudi

Baik dalam kalender Babylonia atau Yahudi, bulan sisipan (interkalasi) adalah Addaru II (Addar Shenii dalam Jewish Calender) dan Ululu II. Addaru II disisipkan 6 kali yaitu pada tahun ke 3, 6, 8, 11, 14, dan tahun ke-19, sedangkan Ululu II pada tahun ke 17. Jadi, Tahun Baru Yahudi biasanya jatuh sekitar bulan September – Oktober. Tahun Baru Yahudi (1 Tishrii 5770 AM) telah dirayakan pada 19 September 2009 y.l.

Kalender Islam Hijriyah (disebut AH = Anno Hegirae, berasal dari kata Hijrah), saat ini barangkali adalah satu-satunya penanggalan yang murni menggunakan perhitungan bulan (lunar kalender). Penetapan 1 Muharram 1 Hijriyah dilakukan di masa Umar b. Khattab dengan mengambil peristiwa Hijrah sebagai titik awal, yang bertepatan dengan 16 Juli 622 Masehi (berdasarkan Julian Kalender).

Dr. Rinto Nugraha menyebut tanggal 15-16 Juli sebagai saat meluruskan kiblat, karena pada saat itu sekitar pukul 12 siang waktu setempat – matahari tepat berada di atas Ka’bah. Tahun Baru Hijriyah (1 Muharram 1431 AH) telah berlalu, bertepatan dengan 18 Desember 2009 Masehi.

Kalender Romawi sebelum 45 SM

Kalender Masehi berawal dari Romawi. Mula-mula hitungan kalender adalah lunisolar, namun karena kekacauan dalam penambahan dan pengurangan jumlah hari, timbullah ketidakpastian (lihat tabel di samping).

Akhirnya, pada tahun 45 SM ditetapkan kalender baru yang disebut Kalender Julian oleh Kaisar Romawi saat itu – Julius Caesar – dengan dasar hitungan murni tahun solar (matahari). Jumlah bulan adalah 12 bulan dan 365 hari dalam 1 tahun; setiap 4 tahun ditambahkan 1 hari menjadi 366 hari dalam setahun.

Tentu dalam perkembangannya ada sedikit rumor. Bulan Desember, sebelum penetapan itu, adalah bulan ke-10. Caesar menambahkan bulan July sebagai pengganti Quintilis, dengan jumlah hari – 31 hari – di tengah-tengah tahun. Penguasa Romawi berikutnya – Augustus – mengganti Sextilis menjadi bulan August dengan jumlah hari juga 31. Ego para penguasa Romawi menyebabkan kelebihan 1 hari dalam satu tahun, sehingga perlu mengorbankan bulan Februari menjadi 28 hari.

Kalender Julian mempunyai tingkat error yang cukup tinggi, yaitu kelebihan 1 hari setiap 128 tahun.

Maka, Paus Gregorius membuat perubahan pada tahun 1582. Tepatnya pada bulan Oktober. Saat itu – 4 Oktober 1582 – jatuh pada hari Kamis (berdasar kalender Julian). Namun keesokan harinya – Jum’at – jatuh pada tanggal 15 Oktober 1582. Jadi, di atas kertas – tanggal 5 Oktober 1582 sampai dengan 14 Oktober 1582 tidak pernah ada.

Sejak saat itu – hingga hari ini, kalender Gregorian dipakai sebagai penanggalan internasional. Tapi mesti dicatat juga, sejak era Romawi – tanggal 1 January – tidak ada perayaan sama sekali. Perayaan Tahun Baru berlangsung pada Vernal Aquinox – awal musim semi, sekitar bulan Maret-April, seperti pada penanggalan Babylonia. Menurut “paman wiki“, penetapan Tahun Baru 1 Januari sebagai Tahun Baru Masehi, baru dilaksanakan pada 1622 AD (Anno Domine = Masehi).

TAHUN BARU – NEW YEARS

Tahun Baru Masehi saat ini di atas kertas merupakan hasil perjalanan panjang dalam merumuskan Sang Waktu itu sendiri. Kalender Gregorian adalah hasil evolusi. Kalender ini – walau ditetapkan oleh Paus, ternyata awalnya hanya rumusan tentang musim yang diukur dari peredaran matahari.

Dalam sejarah, Nabi Muhammad saw, dan masyarakat Arab umumnya – dahulu menggunakan kalender lunisolar ala Yahudi atau Babylonia, yang saat itu memang berlaku di kawasan Mesopotamia, Persia dan wilayah sekitarnya. Namun, setelah turun ayat 36-37 Surah At-Taubah (yang melarang interkalasi tahun lunar untuk menyesuaikan dengan tahun solar), masyarakat Islam Arab menggunakan hitungan lunar.  Jadi, kalender Islam – Anno Hegirae – murni sifatnya untuk keperluan ibadah – penetapan awal Ramadhan, 1 Syawal, saat ibadah Hajji dan sebagainya.

Kalender Hijriyah – Anno Hegirae

Jika Yahudi mengadopsi sistem Babylonia, maka Umar r.a membuat sistemnya  sendiri. Yaitu siklus 30 tahun.

Dalam kalender Hijriyah, bulan ke-12 – Dzulhijjah – bisa berumur 29-30 hari. Di atas kertas, tetap ada interkalasi 1 hari (pada bulan terakhir) untuk menyesuaikan posisi bulan. Interkalasi hari terjadi di tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan 29. Dengan inerkalasi ini, dalam kalender Hijriyah hanya akan ada kelebihan 1 hari dalam 2568,5 tahun.

Ada pertanyaan penting. Jika penanggalan Babylonia (yang dipakai oleh Yahudi dan juga Persia) umum digunakan di wilayah Timur Tengah, sementara Romawi di Mesir dan Yerusalem menggunakan Julian Kalendar, apakah kedua jenis kalender ini berpengaruh terhadap Kalender Hijriyah?

Setelah dihitung-hitung di atas kertas, para ahli menemukan sesuatu yang menarik. Siklus 19 tahun kalender Yahudi (AM) dengan interkalasi 7 bulan, menghasilkan total 235 bulan. Sedangkan siklus 30 tahun Hijriyah (AH) berjumlah 360 bulan. Dengan sistem pembagian bilangan prima yang sama diperoleh hasil sbb :

235 bulan = 5  x  47
360 bulan = 5  x 72

Jadi, siklus kalender Yahudi dan Islam akan bertemu setelah (72 x 19) = 1368 tahun Yahudi, atau (47 x 30) = 1410 tahun Hijriyah.

Yang menarik adalah angka 1368 itulah. Karena tahun 1 Hijri adalah 622 Masehi, maka jika dikurangi 1368 akan menghasilkan angka 747 SM.

(Ingat, tahun O Masehi tidak ada, jadi setelah 31 Desember 1 SM langsung dihitung 1 Januari 1 M).

622 – 1368 = (746 + 1) = 747 SM —-  era AN??

Hanya sebuah kebetulankah jika titik temu kalender Yahudi dan Islam (dengan bantuan tahun Julian Masehi) ternyata kembali ke awal era Nabonassar – Babylonia?

Barangkali itu memang hanya kebetulan.

Tetapi bukan kebetulan atau salah hitung jika Gereja Orthodox Russia baru akan menyambut Natal pada 7 January yang akan datang.

Aku melihat hari demi hari berlalu.
Matahari tetap terbit dari peraduannya di timur
dan terbenam menjelang malam di ufuk barat
Bulanpun setia berputar mengelilingi bumi
menghantarkan hari demi hari
Di bawah langit dan matahari yang sama
Ternyata, Tahun Baru hanyalah sebatas tulisan di atas kertas.

***

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Januari 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

10 responses to “Ternyata, Semua Hanya Di Atas Kertas

  1. Kakaakin

    5 Januari 2010 at 07:07

    Iya ya… suatu titik waktu adalah sama, hanya yang memberi nama saja yang membeda-bedakannya (pembuat kalender)
    ckckck… repot banget kalo dunia internasional harus mengalami interkalasi sampe berbulan-bulan gitu… syukurlah kalender sekarang sudah ‘rapi’, walopun jumlah hari di bulan Pebruari kadang 28 kadang 29🙂

     
    • wardoyo

      6 Januari 2010 at 11:40

      Betul sekali mbak. Tambahan 1 hari di bulan Februari itu pada tahun kabisat. Dalam kalender Hijriyah juga ada tahun kabisat, yaitu kalau bulan Dzulhijjah m3njadi 30 hari.

       
  2. sedjatee

    6 Januari 2010 at 06:53

    wuah… catatan yang lengkap dan akurat… sangat berharga mas… mohon izin mendokumentasikan mas… salam sukses…

    sedj

     
  3. Dangstars

    6 Januari 2010 at 11:19

    Wah…
    Luar biasa nih sejarahnya
    Izin Print saja deh😀😀

     
  4. wardoyo

    6 Januari 2010 at 11:43

    @ bung Sedjatee : silakan mas, kalau mau yang lengkapnya beberapa link sumber sudah saya sisipkan di dalam tulisan.

    @ bung Dangstars : silakan dan terimakasih…

     
  5. Hanif Ilham M

    6 Januari 2010 at 13:56

    baru tahu kalau ada kalender lunisolar. tahunya kelender masehi dan hijriah. hehe…

    __________

    memang demikian kok referensinya…hahaha…

     
  6. humaiRA Marby

    7 Januari 2010 at 17:24

    tulisan ini men-clear-kan bahwa umat Islam tidak perlu ‘merasa-repot’ mengucapkan selamat tahun baru masehi, ya tah?
    a-nice-read-article pak

     
    • wardoyo

      7 Januari 2010 at 18:31

      Betul mbak, tidak usah repot-repot.
      Tapi juga tidak dilarang.

       
  7. humaiRA Marby

    12 Januari 2010 at 19:04

    yg saya tau pengucapan ny jg dilarang pak
    bukan kata saya😀 kata Ibnul Qoyyim

    “mengucapkan selamat terhadap syiar2 khusus org kafir, adalah haram berdasarkan ijma’. seperti memberi ucapan selamat pd hari-hari raya & puasa mereka. mis: selamat hari raya, semoga anda bahagia dgn hari raya ini.. dll.maka hal ini walaupun org yg mengatakannya terlepas dr kekufuran,namun itu termasuk perbuatan haram. ini seperti org yg memberi ucapan atas sujudnya kpd salib. hal ini bahkan lebih dosa & lebih dimurkai Allah drpd memberi ucapan selamat kpd mereka yg minum khamar,membunuh, berzina & yg sejenisnya…”
    (Ahkaam Ahli Dzimmah, 1/441)

    dan perayaan tahun baru sendiri (lagi2) yg sy tau berasal dr perayaan kaum pagan romawi,penyembahan dewa janus,dewa bermuka 2,bermakna muka yg 1 menghadap masa lalu,yg 1 masa depan,perayaan ini merupakan upacara sambungan dr perayaan lupercalia yg jatuh setiap tgl 25 des,lgkapnya bisa dibaca dibuku pak Rizki Ridyasmara,Knigths Templar Knights of christ,atw bsa dbaca d weblog2 yg sudah membahas tema sejenis,jd sejatinya, perayaan tahun baru ini tdk ada d agama manapun

    just sharing=]

     
  8. wardoyo

    13 Januari 2010 at 12:46

    Setiap agama samawi lahir dengan damai. Para penganjur agama samawi pasti memahami budaya sekelilingnya, menyaring dan mengisinya dengan nilai-nilai baru. Lihatlah sejarah. Yahudi mengadopsi penanggalan Babylon. Kristiani mengadopsi penanggalan Romawi. Islam mengadopsi sistem penanggalan Arab sebelumnya, dengan menambahkan nilai-nilai baru.
    Belum pernah saya mendengar Romawi merayakan Tahun Baru di bulan Januari. Mereka merayakannya pada bulan Maret, karena asalnya bulan July (Quintilis) adalah bulan kelima, bukan ketujuh. Saya juga belum pernah mendengar para pendeta Kristen atau Paus menyembah Dewa Janus. Mereka sudah mensterilkan nilai Romawi dalam kalender, membuat saringan sendiri dan menghasilkan kalender yang bebas nilai. Jadi, belum pernah saya mendengar bahwa Tahun Baru 1 Januari adalah perayaan agama tertentu.

    Kalender adalah kalender. Hanya kalender hijriyah yang dibuat berdasar perintah agama dan khusus untuk melayani perayaan agama. Yang lain hanya “hasil budi-daya” dan penalaran astronomis dan aritmetis, sementara perayaan agama disesuaikan dengan kalender untuk memudahkan manusia yang menjalaninya.

    Jadi, saya belum akan mengganti pemahaman saya hanya dengan asumsi si Janus atau siapapun. Bagi saya kalender just kalender. Dibuat untuk memudahkan manusia saja menjalani kehidupan dan menandai peristiwa. Kalender hanya sebuah tulisan penanda waktu di atas kertas, tidak terkait dengan halal dan haram.

    It’s just my opinion. Thank you.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: