RSS

Neighbor’s Lawn Greener

23 Des

BENARKAH RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU??

Pepatah lama di atas telah berumur ratusan tahun,  meski selalu relevan untuk dikaji hingga hari ini.

Barangkali sudah ditakdirkan bahwa dalam masyarakat manusia, selalu ada sebagian kecil orang yang sel-sel otaknya tidak bisa diatur, selalu berontak dan mencari perbedaan.  Mereka inilah yang gemar mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda. Hasratnya keluar dari kungkungan begitu besar dan menggebu-gebu. Semangat adalah amunisi. Hasil akhirnya tergantung ke arah mana laras diarahkan.

Pada era Soekarno kita senang dengan perbedaan, partai politik banyak, sidang MPRS selalu ramai dengan debat, koran-koran saat itu penuh dengan tanya-jawab dan perbantahan. Walau menyukai perbedaan, akhirnya Soekarno tergoda juga melompat ke tembok seragam – hingga Lima Sila dalam Pancasila diperas menjadi Gotong Royong. PKI ingin negeri ini menjadi satu kekuatan politik saja – seperti China dan Uni Sovyet, mereka tak ingin berbeda.

Yang tidak boleh berbeda hanya tentara, karena tentara memegang laras betulan, dan semangat persatuan yang diindoktrinasi hingga ke tulang sumsum.

Bosan dengan berbeda pendapat, era Soeharto dipenuhi dengan keseragaman. Semangat tentara dipakai dalam kehidupan politik. Tidak seragam adalah suatu kejahatan. Kejahatan politik, kejahatan ideologi, kejahatan sosial. Pegawai negeri berseragam. Partai politik diseragamkan asasnya. Di Bogor ada satu jembatan terkenal karena memiliki nilai sejarah, yaitu Jembatan Merah, yang pada akhirnya harus dikorbankan demi keseragaman – dicat dengan warna kuning – meski namanya tetap Jembatan Merah.  Pemahaman tentang Pancasila diseragamkan dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi, bahkan menjadi persyaratan kenaikan jabatan pegawai.

Apakah manusia Indonesia menjadi puas dan kenyang dengan seragam? Tidak. Sudah menjadi takdirnya, selalu ada sebagian kecil pikiran pemberontak yang muncul.

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Perbedaan itu lebih manis dari seragam.

Banyak itu lebih enak dari tunggal.

Maka munculah era Reformasi. Semangatnya adalah berbeda.  Yang kebablasan menjadikannya kesempatan untuk tampil asal beda. Partai politik menjadi beragam. Rakyat Dilli merasa berbeda dengan rakyat Kupang , sehingga akhirnya Timtim ingin berpisah dengan RI. Beberapa daerah karena alasan suku yang berbeda memisahkan diri dan membentuk provinsi baru atau kabupaten baru. Pemerintah Daerah meminta otonomi, agar mereka bisa berbeda dalam membuat peraturan sendiri dan mengatur daerahnya.

Apakah semangat berbeda memuaskan semua orang? Tentu saja tidak!!

Manusia hidup seperti bandul. Tidak pernah puas. Saat di ujung kiri, kita melirik ke kanan. Saat di ujung kanan, kita ingin ke kiri.

Bukankah rumput tetangga lebih indah??

Ada sebagian kecil dari masyarakat kita telah mengeluh dan ingin kembali ke zaman Soeharto. Maka, muncullah sedikit demi sedikit semangat untuk kembali tidak berbeda. Masih segar dalam ingatan kita, ketika acara paranormal dan dunia ghaib menjadi primadona di salah satu stasiun TV, seketika itu stasiun TV lain menampilkan acara yang kurang lebih sama. Saat acara infotainment dan gosip disukai publik, hampir seluruh stasiun mempunyai acara berformat sama. Bahasa artis menjadi bahasa gaul masyarakat, dan yang berbeda dianggap kurang gaul gicu!

Demam blackberry memperjelas fenomena ini. Tidak ada yang ingin berbeda, meskipun itu adalah anggota dewan yang terhormat – dari partai yang berbeda.

Dalam suasana berbeda kita ingin sama dan seragam. Ketika diseragamkan kita ingin berbeda.

Whooo..!! Maka jangan heran kalau Tiger Wood aja sampai selingkuh. Soalnya, rumput tetangga katanya lebih hijau!!

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Desember 2009 in Opini

 

Tag: , , , ,

13 responses to “Neighbor’s Lawn Greener

  1. inspirasimenulis

    24 Desember 2009 at 08:22

    hehhe… “nampaknya” begitu😀

     
  2. hmcahyo

    25 Desember 2009 at 13:26

    lho kok kesini lagi:mrgreen:

     
    • wardoyo

      25 Desember 2009 at 14:57

      iya … ada mr green di sini

       
  3. Abied

    25 Desember 2009 at 14:47

    Sepertinya bagi saya tidak. Rumput saya lebih hijau, tiap hari saya pupuk dengan rasa syukur. Gak tau kalo nanti dah dapat gandengan, bisa saja pupuknya dipindah ma dia ke halaman tentangga.
    Tapi, moga-moga tetap hijau hingga akhir masa.
    Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia.:mrgreen:
    Salam

     
    • wardoyo

      25 Desember 2009 at 15:00

      Hanya mereka yang bersyukur yang tidak melirik rumput tetangga
      karena biasanya orang tak pernah puas dengan yang ada di hadapannya

       
  4. alfarolamablawa

    25 Desember 2009 at 21:43

    hehehe

    wah…kalo rumput tetangga selalu dan bakal selamanya selalu lebih hijau…trus tetangga kita juga bilang rumput tetangga selalu lebih hijau…bingungkan?
    yang dibutuhkan itu percaya diri…hehehe

     
    • wardoyo

      26 Desember 2009 at 11:57

      betul sekali … percaya diri, dan mengarahkan rasa tidak puas ke jurusan yang lebih berguna dan bermanfaat positif. Tetapi, bersyukur itu selalu lebih baik.

       
  5. thepenks

    26 Desember 2009 at 12:43

    sebenarnya [menurut saya] hanya sugesti saja..

     
  6. bundadontworry

    26 Desember 2009 at 16:25

    rumput tetangga memang selamanya selalu lebih hijau.
    kita, manusia memang sangat kurang bersyukur, ingin seragam, protes, tdk puas, setelah berbeda, lagi2 tdk puas.
    makanya di negeri ini tetap saja, selalu ada kerusuhan dimana2, lha wong pinginnya sendiri gitu kok.
    bagi yg tahu dan mau bersyukur, sepertinya apapun selalu saja indah.
    salam.

     
  7. wardoyo

    26 Desember 2009 at 16:57

    @ thepenks : pendapat yang mana saja sama benarnya kok, tidak ada yang salah…

    @ bundadontworry : keselarasan itu lebih penting – antara seragam dan keberbedaan – kalau orang Cina dulu menyimbolkannya dengan konsep Yin-Yang.

     
  8. Kakaakin

    29 Desember 2009 at 07:46

    Hehe… yang dibahas antara seragam hingga tiger wood…:mrgreen:
    Memang rasa tidak puas menjadi salah satu pengendali hidup manusia, mauku begini…mauku begitu… Saat sudah begini atau begitu, ternyata mau yang lain lagi…😦

     
    • wardoyo

      29 Desember 2009 at 09:23

      Betul sekali @ kakaakin… Yang penting menyelaraskan keinginan dan kemampuan dengan tujuan hidup itu sendiri. Salam.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: