RSS

VOC dan Tunjangan Kursi Raja

25 Okt

 

Simbol VOC Pada Sebuah Meriam Tua

Simbol VOC Pada Sebuah Meriam Tua

 

VOC sebagai perusahaan multinasional ternama memiliki kekuatan maritim yang luar biasa. Perjalanan jauhnya ke Timur dan koloninya yang selalu penuh gejolak pada awalnya membuat VOC efisien. Namun sejalan dengan perkembangan waktu, besarnya keuntungan dagang serta kebusukan hati para pengurus perusahaan, VOC berkembang menjadi perusahaan monopoli yang penuh kelicikan serta seringkali bertindak kejam. Korupsi di dalam dan pemborosan luar biasa telah menghancurkan sendi-sendi keuangaan VOC, membuatnya hancur di penghujung abad 19.

Banyak catatan berharga yang ditinggalkan tentang masa-masa tersebut yang sangat menggelitik untuk disimak kembali. Saya membuka kembali buku-buku sejarah lama. Ada keyakinan bahwa data sejarah kita – terutama di era kolonialisme – tentu lebih lengkap dari sumber Belanda. Tetapi apa daya karena saya tidak mampu berbahasa Belanda. Jadilah saya hanya mengais karya-karya terjemahan.

Akhirnya saya menemukan apa yang saya cari dalam tumpukan buku lama dari “peti pusaka” di kamar. Sekelumit catatan tentang dunia perdagangan di seputar VOC dan para raja di Hinda Belanda.

Ternate dan tidore“TERNATE DAN TIDORE” Masa Lalu Penuh Gejolak, ditulis oleh Willard A. Hanna dan Des Alwi (Sinar Harapan, 2006).

Fakta-fakta sejarah yang menarik akan saya kutip berikut ini.

Mengenai keuntungan dagang VOC “…Perseroan itu membeli cengkeh di Maluku dengan harga 5 stuivers atau 25 sen gulden per pon-nya. Di Amsterdam, di mana pedagang-pedagang dari seluruh Eropa berkumpul, mereka berharap untuk dapat menjualnya dengan harga 100 stuivers atau lebih untuk memastikan keuntungan kotor paling sedikit sekitar 2000 % (duaribu persen). Penjualan hanya 400.000 pon per tahun … akan menghasilkan keuntungan kotor sebesar 1.900.000 gulden…” (hal. 176)

Bahwa terjadi defisit (atau korupsi??) dalam tubuh VOC, sebuah perusahaan multinasional yang utama di Eropa abad 17-18, buku di atas memberikan catatan berikut : “Biaya langsung VOC di Maluku Utara pada abad ke-17 adalah sekitar 150.000 gulden per tahun dan pendapatannya dari perdagangan sekitar 100.000 gulden, sehingga setiap tahun terjadi defisit sekitar 50.000 gulden.” (hal.175)

Mengenai kehidupan sehari-hari dan sebagainya, tertulis dengan jelas pada hal.177, “Seorang pedagang senior menerima 85 gulden tiap bulan dan pedagang yunior 75 gulden dan tiap orang menikmati gaji, honor dan penghasilan imbalan sesuai dengan pangkat dan tanggung jawabnya. Orang bagian keuangan menerima 75 gulden, para predikant (pastor atau pendeta) 42 gulden, kepala sekolah 36 gulden (ia mengajar anak-anak pegawai dan anak-anak para pejabat VOC), penterjemah 28 gulden, dokter 26 gulden, tukang kayu 22 gulden, tukang besi 16 gulden, tukang reparasi 15 gulden, serdadu garnisun 9,50 gulden, pelaut yang bertugas di salah satu kapal kecil milik benteng 12,50 gulden. Seluruh pegawai perseroan dari yang pangkat tinggi hingga pangkat rendah diberi tempat tinggal di benteng dan makan bersama. ..”

“… Mereka yang memilih tinggal di luar kota atau tanpa istri atau gundik pribumi hidup dengan standar orang kebanyakan dengan upah 5 gulden setiap bulan sebagai seorang serdadu cadangan, penjaga gudang, juru tulis, atau pekerja trampil.” (hal.178)

“…Gubenur hidup dengan gaya mewah di sebuah bangunan indah… Ia berlaku lebih raja dari sang sultan. Ia memperoleh gaji pokok sebesar 140 gulden setiap bulan, … termasuk hak khusus untuk jatah daging, beras, bir, minyak, anggur, keju, lilin, … termasuk bahan tekstil dengan mutu dan jumlah menurut selera, untuk pakaian pribadi… berhak mendapat bagian dari penjualan barang dagangan (sebesar 8 %) dan dari pembelian rempah-rempah (sebesar 2%)…” (hal.177)

**

Jangan silau membaca deskripsi di atas. Jika Anda penasaran, silakan membuat kalkulasi sendiri. Catatan yang perlu diperhatikan adalah bahwa 1 gulden pada tahun 1750 sama nilainya dengan 15 gulden pada tahun 1980… (halaman 175). Jika hendak dikonversi ke dalam dollar pada tahun 1980 adalah US$ 0.9. Dan karena nilai dollar adalah standard maka kita bisa mengkonversinya ke dalam rupiah kapanpun. Tidak ada bedanya di tahun 1980 atau di tahun 2009, karena sistem perdagangan Indonesia terikat dengan US$, sehingga nilai dollar di tahun 1980 atau 2009 tetap sama saja.

Berapakah penghasilan Gubernur VOC dinilai saat ini?

Hitung saja : 140 gulden/bulan ==> US$1890 / bulan
jika saat ini 1 US$ = Rp 9.600 maka gaji pokok Gubernur VOC berkisar Rp 18.144.000 / bulan.

Nilai itu demikian besar, karena biaya hidup di masa itu demikian rendah. Seorang prajurit dengan penghasilan 5 hingga 10 gulden per bulan bisa hidup berkecukupan, “…bahkan minum tuak sepuas-puasnya sebagaimana biasa dilakukannya… (hal.178)” Artinya, dengan 5 gulden saat itu (yang setara dengan Rp.650.000,00 -an) seorang prajurit bisa menghidupi diri dan keluarganya dengan baik.

Tetapi angka-angka tersebut belumlah luar biasa!! Simaklah yang satu ini :

“… Sultan Ternate menerima 16.000 gulden sebagai tunjangan tahunan, Sultan Tidore menerima 6.000 gulden, Sultan Bacan 1.750 gulden, Sultan Makian 5.000 gulden …” (hal.178)

Sedangkan Gubernur VOC menerima “hanya” (140 X 12) 1.680 gulden/th, seorang Sultan / Raja Pribumi diberi gaji dan tunjangan hingga 16.000 gulden/th. Hitunglah sendiri nilainya di jaman sekarang.

Politik menyogok dan memberi tunjangan dari para “saudagar Eropa” terhadap penguasa wilayah (Sultan atau Raja, dan para pembesar kerajaan lainnya) telah ditanamkan sebagai sebuah TRADISI.

Dengan tunjangan sebesar itu, siapa yang mau berhenti menjadi Sultan??

Dengan iming-iming penghasilan seperti itu, siapa yang tak mau menjadi pengganti Sultan??

Jadilah benih sikap politik devide et impera menemukan tempat yang paling subur di negeri ini.

**

Jangan-jangan, kebiasaan para pejabat daerah saat ini menerima upeti dari para pengusaha adalah sikap mental warisan VOC yang dipupuk sejak lama sehingga sudah mendarah daging. Wallahu alam.

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Oktober 2009 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , ,

9 responses to “VOC dan Tunjangan Kursi Raja

  1. sedjatee

    27 Oktober 2009 at 06:29

    membaca besarnya penghasilan gubernur VOC, sangat pantas kalau para menteri kabinet baru mendapat kenaikan gaji… gaji menteri naik, semoga perilaku mereka tidak seperti kumpeni… salam gaji naik…

    sedj

     
  2. Dream House

    27 Oktober 2009 at 07:58

    weitz, bener2 wacana baru. sepanjang saya sekolah, tak pernah ada yang mengaitkan hal seperti ini dengan bentuk yang memukau dan mencerahkan.
    bener2 layak dibaca sebagai referensi. malah mungkin bisa dijadikan bahan skripsi neeh.
    salam kenal bang. senang bisa tersesat kemari.🙂

     
  3. Kakaakin

    28 Oktober 2009 at 00:11

    Oh…ternyata para raja diberi upeti oleh para kumpeni toh??*baru tau*
    Hal yang mirip memang terjadi di masa kini, misalnya saja pengusaha yang ingin mengelola suatu lahan, harus dapat ijin dulu dari kepala pemerintahan setempat, yang tentu saja disertai amplop untuk memuluskan kegiatan, sehingga dapat memperoleh keuntungan yang sebesar2nya (ini warisan kolonial nih).
    Namun dari sisi pengusaha, bisa jadi hal ini merupakan pemerasan dari (oknum)pemerintah, karena kadang jumlah pelicin yang diminta sangat besar…
    Wallahu a’lam…

     
  4. zipoer7

    28 Oktober 2009 at 12:44

    Salam Takzim
    Menyuarakan Sumpah memang sudah seharusnya untuk menyatukan yang terserak, dan menghimpun yang berbeda bahasa dalam bahasa Indonesia
    Salam Takzim Pemuda Indonesia

     
  5. Teguh Iman Prasetya

    28 Oktober 2009 at 19:42

    benar mental suap memberi upeti adalah warisan kolonialisme hingga sekarang dalam ranah post kolonialisme kita hari ini

     
  6. zipoer7

    29 Oktober 2009 at 14:05

    salam takzim
    mengunjungi kala kopi panas dinikmati dengan tetap berharap semoga kesehatan selalu bersamamu dan keluarga
    salam takzim batavusqu

     
  7. abifasya

    4 November 2009 at 23:58

    Kunjungan malam, mennati kantuk yang tak kunjung datang.

     
  8. zipoer7

    5 November 2009 at 14:01

    Salam Takzim
    Selamat siang mas, dooh masih seputar bangku raja dan sultan nih, hayoo apa di update biar menambah nih wawasan di cermin sejarah yang mas miliki
    Salam Takzim Batavusqu

     
  9. wardoyo

    5 November 2009 at 14:04

    Terimakasih untuk teman-teman dan komentarnya. Maaf, gak bisa balas satu-satu neeh.
    Salah satu aspek tunjangan VOC untuk penguasa adalah melanggenggkan hegemoni mereka terhadap kekuasaan itu sendiri. Jelas khan, siapa yang sesungguhnya berkuasa? Sultan dan para Raja berkuasa atas rakyat, sementara VOC berkuasa atas Sultan dan Raja-Raja!!!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: