RSS

Stereotip Dalam Sejarah Indonesia (1)

28 Mei

STEREOTIP SEJARAH

Sejarah adalah kisah untuk mereka yang menang dan berkuasa. Itulah pakem yang berlaku dimana-mana, berlaku sejak manusia mengenal tulisan. Artinya, kebenaran bukanlah satu-satunya dasar penulisan sejarah. Ketimpangan itulah yang memunculkan stereotip (stereotype) dalam pengenalan tokoh-tokohnya. Siapa yang melakukannya? Tentu saja mereka yang menang dan berkuasa.

Ken Angrok, raja pertama dinasti Singhasari, digambarkan sebagai pemuda tampan dan gesit, sementara Jayakatwang adalah pemberontak berwajah hitam. Ronggolawe digambarkan mirip preman, grusa-grusu, tidak tahu sopan-santun, sombong dan banyak tingkah; keberanian Ronggolawe adalah suatu ketidakpatuhan dan cela. Adipati Blambangan – Minakjinggo, cocok untuk digambarkan sebagai bromocorah masa lalu yang kasar, sangar, keji, kalau perlu taringnya dimunculkan saat tersenyum; nyatanya Minakjinggo – seperti Jaka Umbaran – adalah orang yang sakti dan amat tampan.

Di masa kerajaan-kerajaan Islam stereotip itu terus berlanjut. Aryo Penangsang misalnya, digambarkan seperti seorang ‘don yuan’ berbadan kekar, kurang sabar, kasar, sakti tetapi bodoh, lebih kuat ototnya daripada otaknya, gampang ditipu, berambisi tetapi mudah ditebak jalan pikirannya. Yang lebih parah lagi adalah gambaran tentang Sunan Kudus, salah seorang wali yang menjadi guru Aryo Penangsang. Beliau digambarkan dalam Babad sebagai seorang kaku, tidak punya nurani (karena mengijinkan pembunuhan Sunan Prawoto dan Pangeran Hadiri), kurang pertimbangan (karena selalu membela muridnya), kurang toleransi.

Kalau memang demikian, alangkah naifnya sejarah kita? Sunan Kudus yang tegas dalam menjalankan syariat adalah wali paling toleran. Buktinya adalah mesjid Menara Kudus yang sangat Hindu’s looking. Belum lagi wasiatnya untuk tidak menyembelih sapi dan memakan dagingnya untuk masyarakat Kudus karena menghormati mereka yang masih memeluk Hindu.

Kalau saja para wali tidak membuat wayang sebagai cermin watak seseorang, tentu akibatnya tidak seperti sekarang. Bagaimana mungkin Pandawa digambarkan berwajah halus, tampan dan menunduk sementara Kurawa berpenampilan raksasa, selalu mendongak dengan sombong dan bersuara kasar. Padahal dalam terminolgi India para Kurawa juga tampan dan gagah.

Maka jadilah benang ruwet sejarah Indonesia dimana musuh politik harus selalu buruk rupa, kasar dan tidak sedap dipandang sementara Raja-raja yang berkuasa selalu benar, luwes, berwajah terang, tenang dan menyenangkan… Padahal sejarah sering membuktikan sebaliknya.

****

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Mei 2009 in Opini

 

Tag: , , , , , , ,

One response to “Stereotip Dalam Sejarah Indonesia (1)

  1. pengelolaan keuangan

    15 Juli 2009 at 08:56

    Ya kayaknya begitulah mas, sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang. Sang pemenang selalu digambarkan sebagai sosok “menawan” namun sang “loser” selalu dalam sosok yang buruk rupa dan tabiat.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: