RSS

LUWU dalam Kajian OXIS

24 Mei

Peran Bijih Besi Dalam Sejarah

Luwu, suatu tempat yang sebenarnya cukup termasyhur dalam sejarah Indonesia masa lalu, lebih-lebih oleh pemerhati Majapahit dan Singhasari. Kata Luwu terucap oleh Gajah Mada dalam sumpahnya yang terkenal, Sumpah Palapa. Wilayah Luwu terletak di Sulawesi Tengah sekarang, cukup sulit untuk didatangi dari arah laut, tetapi mengapa Gajah Mada memasukkan Luwu sebagai bagian yang harus diletakkan di bawah naungan payung kebesaran Majapahit?

The Origins Of Complex Society in South Sulawesi yang disingkat OXIS pernah melakukan penelitian di wilayah Luwu. Dalam sejarah Majapahit, wilayah Luwu merupakan pembayar upeti  kerajaan, selain dikenal sebagai pemasok utama besi ke Majapahit, Maluku dan lain-lain. Menurut catatan yang ada, sejak abad XIV Luwu telah dikenal sebagai tempat peleburan besi.

Berangkat dari data tersebut, rombongan OXIS yang dipimpin oleh David Bulbeck mengembangkan asumsi dan mencoba mencari situs-situs sejarah masa lalu yang KEMUNGKINAN masih bisa dijumpai.

Tempat pertama yang terindikasi merupakan situs sejarah adalah Danau Matano. Di sekitar danau ini dijumpai indikasi lubang-lubang bekas penggalian dan penambangan kuno, tepatnya di Bukit Latajang. Kandungan besi laterit berupa bijih dengan kadar di atas 50 %.

Selain situs Danau Matano, terdapat sumber besi di Limbong yang terletak di Kamiri, Kampung Uri,  Desa Pengkendekan dan di Passanen, kampung Ponglegen, Desa Marampa. Perjalanan menuju lokasi menggunakan sara transportasi sungai Rongkong. Selain tebaran sumber bijih besi ditemukan juga fragmen batubata di lokasi situs dan damar. Fragmen batu-bata yang ditemukan berukuran 15 cm X 17 cm dengan ketebalan 3.5 – 4 cm.

Selain itu tim OXIS mengunjungi Situs Malengke, suatu tempat dimana dijumpai kompleks Situs Tampung Jawa yang berarti “kuburan orang Jawa”. Dengan luas sekitar 9,6 hekatar diperkirakan jumlah populasi kuburan mencapai lebih dari 10.000 buah. Situs ini membutuhkan kajian lebih lanjut.

Informasi mengenai hasil penelitian OXIS ini tersimpan di dalam tembok LIPI. Hingga saat ini bahkan jika kita mengakses via gugelpun akan kesulitan menemukannya.

Penemuan tim OXIS di atas patut menjadi bahan pemikiran kita semua. Terbuktilah bahwa di masa lalu LUWU telah memiliki tempat terhormat dalam sejarah kerajaan-kerajaan besar di Jawa.

Zaman Sriwijaya dan Majapahit

Kalau hasil-hasil penemuan OXIS dikembangkan lebih lanjut bukan tidak mungkin sejak zaman Sriwijaya lokasi tambang bijih besi di wilayah Luwu ini sudah dikenal, walaupun tidak tercatat. Mengapa? Sebab tidak mungkin Sriwijaya yang gemar berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan lain tidak membutuhkan besi untuk pembuatan senjata dalam jumlah besar (massal).

Kebutuhan akan senjata (tombak, parang, dll) apalagi dalam jumlah massal tentunya memerlukan pasokan bahan baku bijih besi dalam jumlah yang tidak tangung-tanggung. Dalam sebuah inkripsi yang ditemukan dekat Palembang misalnya dikatakan bahwa Raja Sriwijaya pada 23 April 683 M berusaha mendapatkan siddayatra –  sebuah proses menuju kekuatan supranatural – dengan 20.000 prajurit yang mengelu-elukannya, yang ditugaskan di atas kapal untuk menaklukkan Kerajaan Melayu (sekarang Jambi).

Mempunyai pasukan sejumlah 20.000 orang di abad ke-7? Bisa dibayangkan kehebatan Sriwijaya saat itu, terutama persenjataannya. Berapa ton besi yang dibutuhkan untuk itu? Asumsikan saja jika setiap prajurit ‘dibekali’ besi seberat 3 kg dalam bentuk tombak, pedang, pisau dan tameng maka akan dibutuhkan 60 ton besi!!

Dan jangan lupa, bersamaan dengan masa Sriwijaya di Indonesia barat, di Jawa Tengah ada kerajaan Syailendra dan Mataram Hindu, di Jawa Barat ada kerajaan Galuh, dan pada masa itu pula Borobudur dibangun dengan ribuan tenaga kerja, mengukir patung-patung dengan pahat besi pula.

Bagaimana dengan Majapahit? Jika Sriwijaya pada abad ke-7 dengan 20.000 prajurit hanya bisa menguasai sepertiga Nusantara, maka kerajaan Majapahit di abad 13-15 telah menancapkan panji-panjinya di seluruh wilayah Nusantara, sebagian besar dengan melalui peperangan. Belum ada perkiraan berapa jumlah prajurit Majapahit saat itu? Hitunglah, berapa kebutuhan akan besi untuk persenjataan para prajuritnya? Bagaimana dengan kerajaan-kerajaan lainnya di seluruh Nusantara? Dengan asumsi bodoh saja, bisa diperkirakan bahwa pada abad ke-14 kebutuhan akan besi di seluruh wilayah Nusantara lebih dari 100 ton!

Penelitian sejarah jangan hanya terpaku pada jatuh-bangunnya kerajaan dan turun naiknya penguasa. Masih banyak bahan kajian dalam sejarah Indonesia masa lalu. Diantaranya tentang besi itulah. Terimakasih untuk OXIS yang tulisannya telah memberi inspirasi dan membuka mata.


 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2009 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , ,

4 responses to “LUWU dalam Kajian OXIS

  1. mazdink

    27 September 2009 at 08:53

    Mas, mungkin “luwu” dan “luwuk” perlu dibedakan. Luwu adalah nama sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang juga terkenal dengan sejarah2 masa lalunya. Kalau “Luwuk” itu di sulawesi Tengah. Saya dari tana Luwu.

    _______________

    wardoyo : terimakasih untuk informasi yang Anda sampaikan, bisa menambah perbendaharaan kamus saya.
    Seringkali timbul kerancuan mengenai perbedaan konotasi makna Luwu dan Luwuk sebagai dua tempat yang berbeda. Tentu saja yang dimaksud dalam artikel adalah Luwuk yang di Sulawesi Tengah Selatan. Terimakasih sekali lagi.

     
  2. fayyad

    8 Desember 2009 at 05:44

    bener mas. seharusnya hasil penelitian oxis ini lebih dipublikasikan lagi ketengah2 masyarakat Indonesia. dan melanjutkan penelitian lebih mendalam lagi.

     
  3. fayyad

    9 Desember 2009 at 21:25

    untuk membedakan kedatuan luwu(k) dengan luwuk banggai maka ejaan sekarang dibelakangnya diberikan tanda koma, luwu’ atau luwuq dengan huruf q. atau cukup luwu. kalau sejarah keris dan luwuk maka yg dimaksudkan adalah luwu. kerajaan besar dahulu yg usianya sangat tua, berpuluh abad. karena dinasti pemerintahannya yang sangat kuat dan stabil. dan kerajaan ini berhenti karena NKRI sudah terbentuk dan datu luwu yg terakhir rela meletakkan jabatan rajanya. (yg sekarang sudah diangkat jadi pahlawan nasional).

    bahkan jauh pada zaman kerajaan airlangga, terkenal kehebatan keris yang kini menjadi pusaka kerajaan airlangga. namanya keris brojol luwu.

    CMIIW

     
  4. Samsul

    6 Mei 2010 at 19:18

    Maaf mas sy hya mau bilang, klo asalx besi yg d maksud diatas itu asalx dari tanah wija to luwu/sulsel. Bkn dari luwuk.
    Lihat sj badik yg trkenal disebut badik luwu yg besix trbuat jg dari besi luwu. Bukan badik luwuk

    _____________

    terimakasih untuk koreksinya, mas Samsul.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: