RSS

Arsip Tag: del Cano

Spice Islands (Ekspedisi Magellan – Part II) — habis

Ternate dan Tidore

Dua pulau yang menjadi incaran para pedagang Eropa abad-15
Dua pulau yang rute navigasinya dilacak dan dicari ratusan tahun
Dua pulau yang bertetangga, penduduknya bersaudara, tetapi raja-rajanya selalu bertikai, bersaing dan saling menjatuhkan satu dengan yang lain.
Dua pulau yang menjadi penghasil cengkeh nomor satu di dunia berabad-abad lamanya

*

Sultan Bolief dari Ternate dan Sultan Almansur dari Tidore. Keduanya sama-sama telah meramalkan : suatu hari akan datang serombongan ‘orang besi’ dari negara yang jauh yang akan mau bekerja demi kemasyhuran kerajaan mereka masing-masing.

Sultan Bolief menikmati rasa bangga dan ketenarannya saat Francesco Serrao muncul di tepi pantai Ternate dengan rombongan berbaju zirah yang mengkilat di terpa sinar matahari. Sebaliknya, rakyat Tidore saat itu menjadi masygul dan bersusah hati.

Maka, tidak heran jika kemunculan Kapten Jan Sebastian Del Cano di pantai Tidore disambut dengan luar biasa, sebagai bagian dari pemenuhan ramalan Sultan Almansur.

Pada tahun yang sama setelah kedatangan Portugis – 1512 – Sultan Bolief dari Ternate wafat. Penguasa Ternate setelahnya adalah Pangeran Taruwese (saudara lelaki Sultan Bolief) yang menjabat Wali Raja. Selama masa jabatan Kapten Serrao, Portugis mengalami masa kejayaan perdagangan – membentuk poros Lisabon-Goa-Malaka-Ternate. Sistem monopoli ditegakkan, dan secara keseluruhan semua didukung oleh Sultan.

Dalam laporan-laporannya kepada Raja Muda di Goa, Serrao dengan jelas menceritakan adanya pertentangan yang terjadi antara dua kerajaan – Ternate dan Tidore serta keinginan kedua raja agar Portugis eksis di wilayah mereka. Namun Serrao lebih memilih Ternate. Ia mendirikan kantor dagang – bukan benteng (Benteng Portugis di Ternate dibangun oleh penguasa berikutnya Kapten de Britto!!). Hal ini berlangsung hingga Serrao meninggal pada tahun 1520.

Sementara itu armada Spanyol – sisa ekspedisi Magellan – disambut dengan meriah di Tidore. Mereka dengan cepat dan gembira bisa mengumpulkan cengkeh sebanyak-banyaknya. Bahkan Sultan Tidore tidak segan-segan pergi ke Batjan untuk menambah persediaan Spanyol. Sementara menyediakan rempah-rempah untuk armada Spanyol, Sultan mengirimkan hadiah berupa kambing, unggas, ikan dan buah-buahan kepada Del Cano. Sebagai imbalannya, Sultan Almansur yang muslim meminta kepada armada Spanyol untuk memusnahkan babi yang dibawa dari Filipina dan disimpan sebagai persediaan makanan di dalam kapal mereka.

Orang-orang Spanyol menjalin hubungan baik dengan rakyat Ternate dan wilayah lain. Sultan Batjan dan Sultan Jailolo bahkan mengadakan kunjungan resmi ke kapal Spanyol. Mereka berpesta dan menari – hampir setiap malam.

Selama menunggu perbaikan kapal yang rusak, Pigafetta memuaskan rasa keinginan-tahunya dengan mencatat dan terus mencatat. Apa saja!!

Ia menghimpun semua informasi tentang adat istiadat, budaya, tanaman, binatang, pertanian dan pengolahan makanan, dan yang terutama adalah tentang budidaya cengkeh. Selama di Tidore, ia telah menghimpun kamus yang terdiri dari 1000 kata dasar.

Sekembalinya ke Eropa – Pigafetta menulis dan menerbitkan karya klasik besar mengenai studi wilayah. Contoh gaya tulisannya yang cermat dan detil bisa disimak seperti berikut :

    “… Mereka makan roti “kayu” yang didapat dari pohon seperti palem, yang dibuat dengan cara sebagai berikut. Mereka ambil sebatang kayu lunak dan sisihkan duri-durinya yang hitam panjang. Kemudian mereka tumbuk kayu itu dan dari bahan itu dibuatlah roti. Mereka menggunakan roti yang mereka namakan sago itu hampir sebagai satu-satunya makanan mereka kalau sedang berlayar…”

Read the rest of this entry »

 
5 Komentar

Posted by pada 19 Mei 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Spice Islands (Ekspedisi Magellan – Parts I)

Ferdinand Magellan lahir di utara Portugis pada tahun 1480. Dalam usia 10 tahun, Magellan telah ditinggal mati orang tuanya. Untunglah pada usia 12 tahun ia bisa bekerja di istana Ratu, sebagai pengantar surat di lingkungan istana. Magellan memanfaatkan waktu untuk belajar dan bertemu dengan para explorer. Cita-citanya berkembang, ambisi dan semangatnya terpompa karena ia memiliki teman dekat yang selalu berkorespondensi dengannya, seorang Kapten Portugis yang terkenal – Francisco Serrao.

Di abad 15, Kerajaan Portugis adalah salah satu dari dua Kerajaan Katolik yang mendapat mandat dari Paus Alexander VI untuk menyebarkan misi Kristus ke seluruh dunia.  “…. Sebagai pemimpin gereja Katolik, Paus telah membagi bola bumi ini menjadi dua belahan…. Paus yang tentunya lebih ahli dalam bidang teologi daripada dalam bidang geografi itu telah memutuskan bahwa kepulauan Maluku tercakup dalam belahan barat yang merupakan wilayah Portugis ketimbang belahan timur, yang merupakan wilayah Spanyol dengan garis batas yang samar-samar di Samudra Pasifik…” (Kutipan dari buku ‘Ternate dan Tidore’, hal. 16)

Magellan karena tertarik dengan temuan kawannya Francisco Serrao, (lihat di tulisan sebelum ini – Spice Islands bag.1) menjadi sangat terobsesi. Sebagai pemuda cerdas dengan kemauan baja, akhirnya Magellan meninggalkan Portugis dan mengabdi kepada Raja Carlos dari Spanyol. Semangat explorer terus digembar-gemborkan Magellan, padahal tujuan sesungguhnya adalah menghindari Paus Alexander dan mencari kekayaan. Magellan terobsesi dengan Spice Islands. Ia ingin menuju ke Timur, tetapi dengan berjalan ke arah barat. Magellan bermaksud menemukan rute baru melalui perairan yang dikuasai Spanyol menuju sumber rempah-rempah. Ia bahkan menunjukkan surat-surat Serrao secara pribadi kepada Raja Carlos – yang mendeskripsikan dengan jelas route navigasi dan keberadaan Spice Islands (Ternate) – sebagai dasar rencananya.

Akhirnya, Raja Carlos dan bankir-bankir pribadinya mempertaruhkan L 4.800 (dalam mata uang Spanyol, Lyra) untuk ekspedisi Magellan. Jumlah itu cukup untuk membeli, memperbaiki, melengkapi dan mempersenjatai suatu armada laut yang terdiri dari 5 kapal lengkap dengan bahan makanan maupun barang dagangan, serta pengeluaran-pengeluaran lain selama 18 bulan perjalanan yang direncanakan. Meski demikian, Magellan mengalami kesulitan mencari awak kapal yang baik. Para pelaut Spanyol berkeberatan bergabung – karena Magellan selain masih terhitung muda – belum lagi 30 40 tahun usianya – juga seorang Portugis. Namun pada akhirnya iapun berhasil mengumpulkan sekitar 250 awak, separuhnya adalah orang-orang kriminal atau para penjahat musuh kerajaan yang diampuni asal bersedia turut dalam ekspedisi.

Perjalanan laut ke ujung dunia saat itu masih merupakan perjalanan yang menakutkan. Ekspedisi ini berhasil melampaui ujung selatan Amerika dan memasuki lautan luas yang ‘teduh’, Magellan menamakannya Pacific. Selama empat minggu, rombongan ini berlayar di Lautan tak dikenal tanpa melihat tanda-tanda adanya daratan. Semua orang kepayahan, bahkan Magellan dan anak buahnya hanya bisa makan daging tikus yang dijumpai di kapal.  Di tengah keputusasan, Kapal San Antonio melakukan desersi, berbalik arah. Para awak San Antonio yang ketakutan memilih untuk kembali ke Sepanyol – meski niat itu pun tidak pernah kesampaian.

Bulan Maret 1521, tibalah armada ini di Guam. Mereka beristirahat dan memulihkan perbekalan seadanya, lalu meneruskan perjalanan menuju SPICE ISLANDS. Read the rest of this entry »

 
9 Komentar

Posted by pada 17 Mei 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.