RSS

SPICE ISLANDS (1)

12 Mei

Di masa pendidikan pada era ORBA dulu, sebutan Maluku selalu identik dengan Ambon Manise. Bukan yang lain. Meski pulau yang terbesar di Kep. Maluku adalah Halmehera. Dan sejarah tertua merujuk ke Ternate dan Tidore.

Untunglah ada pemekaran wilayah. Propinsi Maluku Utara berdiri tegak dengan beban sejarah masa lalunya; kota bersejarah TERNATE adalah ibukota mula-mula, namun kini ibukota propinsi telah dipindahkan ke SOFIFI, sebuah kota kecil di bahagian barat P. Halmahera.

Saat menginjakkan kaki pertama kali di bumi Ternate (- kurang lebih dua bulan yang lalu -), kilasan sejarah berkelebat menarik semangat saya menelusuri kembali sensasi cengkeh, pala dan rempah lainnya yang menggantung di awan dan pucuk nyiur, menghantarkan hidung para petualang Eropa menuju “Surga” dari Timur ini.

Nama “Maluku”, “Moluccas” atau “Pulau Rempah-rempah – Spice Islands” sudah terkenal di kalangan masyarakat kelas atas Romawi, bahkan hingga ke era Babylonia.

Giorgio Buccellati, arkeolog yang melakukan penggalian situs d Terqa – Efrat Tengah, dengan kagum mengamati sebuah wadah dari masa 1700 SM dan iapun menuliskan :

Sisa-sisa tanaman yang kami sebut cengkih itu sekilas tidak seperti cengkih yang sesungguhnya, dan kesan yang sama juga dikemukakan oleh Kathlyn Galvin, ahli paleobotani (botani purbakala) kami ketika itu.

Penemuan yang luar biasa, sebuah benda “mirip cengkih” di puing Babylon dari era 1700 SM!! Bahkan semua peneliti kebingungan dengan temuan ini; karena hanya ada satu tempat saja di muka bumi tempat di mana cengkeh berasal yakni Spices Islands / Pulau Rempah-rempah atau Maluku.

Pada abad ke 15 dan 16, nama Kepulauan Maluku sudah begitu terkenal dalam dunia perdagangan Eropa. Seiring dengan bangkitnya semangat explorasi dan penaklukan, berbondong-bondong para pedagang Eropa mencari jalan ke timur – jalan menuju sumber rempah-rempah. Rute laut menuju India dan Cina sudah dikenal, tetapi rute menuju Maluku amatlah rahasia.

Ludovico de Varthema, seorang penjelajah dan penulis berkebangsaan Italia, adalah orang pertama yang memberikan laporan tentang “Pulau Rempah-rempah dan penduduknya.” Varthema menceritakan kisahnya di Goa – India, di markas besar Armada Portugis.

Segera setelah mendengat kisah Varthema, Jendral Alfonso d’Albuquerque menugaskan Antonio d’Abreu membawa rombongan yang terdiri dari 120 prang awak dengan tiga buah kapal meluncur menuju timur. Rombongan bertolak dari Goa (1511 M) dengan memakai jasa pelaut Melayu – Nahkoda Ismail.

1512.

Sauh kapal Portugis pertama ditambatkan di lepas pantai Lonthor (pulau terbesar di Kep. Banda). Di sinilah d’Abreu bisa memperoleh pala secara langsung dari pohonnya, dan juga cengkeh (yang didatangkan dari Ternate dan Tidore).

Kekaguman orang-orang terhadap benda yang menjadi obsesi semua negara Eropa, dituliskan dengan baik oleh Jan Huygen van Linschoten, seorang pelaut Belanda yang ikut dalam rombongan Portugis itu.

Pohon-pohon yang membuahkan Pala dan Bunga Pala itu tidak berbeda dengan pohon buah Pir, tetapi daunnya lebih pendek dan bundar, baik untuk penyembuh sakit kepala, untuk ibu dan untuk syaraf. Pala terbalut oleh tiga jenis kulit. Yang paling utama dan paling luar mirip kulit hijau buah Arcon dan jika sudah masak kulit ini mengelupas lalu kita lihat kulit tipis seperti daging kelapa yang membalut buahnya, dan kita namakan Buah Pala, yang untuk dimakan maupun untuk pengobatan sangat berguna dan sehat. Kulit ketiga lebih keras dan lebih mirip kayu daripada yang pertama, dan seperti Arcon, yakni lebih hitam, yang jika dibuka akan memperlihatkan buah Pala di dalamnya.

Jika buah sudah masak, dan jika kulit pertama mengelupas, maka bunga Pala itu berwarna merah cerah dan jika buahnya kering, Bunga Pala pun berubah warna menjadi kuning emas.

Ada dua enis Pala, satu panjang, pala jantan namanya, lainnya bulat, lebih baik mutunya dan lebih keras.

Buah Pala menenangkan otak, menajamkan daya ingat, menghangatkan dan menguatkan tenggorokan, mengusir angin dari tubuh, menyegarkan nafas, melancarkan kencing, menghentikan mencret-mencret? dan akhirnya buah pala juga baik untuk sakit di kepala, di tenggorokan dan pada luka-luka.

Minyaknya lebih baik dari pada bagian yang lain, bagi semua penyakit yang telah disebutkan di atas.

Bunga pala terutama baik untuk salesma dan untuk pria yang lemah, bunga pala baik untuk pencernaan daging, menghilangkan rasa marah dan meudahkan buang angin.

Pala tumbuh pada pohon seperti pohon “Bay” baik dalam bentuk maupun jumlahnya, hanya saja daunnya tidak serindang pohon “Almond” atau pohon “Willows”.

Pohon cengkeh banyak dahannya dan bunganya tidak sedikit, yang kemudian menadi buah-buah yang dinamakan “Cloves” karena bentuknya mirip “Claws” atau cakar.

Cengkeh tumbuh seperti bunga “Mirtle” pada dahan yang paling ujung. Cengkeh banyak digunakan baik untuk memasak daging maupun untuk meramu obat……. Cengkeh emperkuat Hati, Tenggorokan, Jantung, melancarkan perncernaan, cengkeh emudahkan keluarnya kencing, dan menghentikan mencret-mencret dan bila ditaruh di ata, dapat emelihara penglihatan. dan empat dram yang diminum dengan susu, akan mendatangkan gairah.

(Linschoten, selain menjadi pelaut biasa juga menyelidiki peta navigasi dan jalur pelayaran Portugis – hal yang sangat berharga bagi negaranya di kemudian hari – Belanda.)

Dengan penggambaran seperti itu, dan pemasaran rempah-rempah yang nilainya selangit di Eropa, maka berbondong-bondong Spanyol, Inggris dan akhirnya Belanda (melalui VOC) datang menyusuri pantai Nusantara sambil menyusun strategi untuk menguasai Spices of Islands.

Peta Maluku Utara Saat ini

Namun, Portugislah yang beruntung dalam kompetisi ini. Setelah d’Abreu kembali ke Malaka dengan membawa banyak dagangan rempah, ekspedisi berikutnya diberangkatkan menuju Maluku. Dipimpin oleh Kapten Francisco Serrao, Portugis untuk pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Ternate.

Disambut oleh Sultan Bolief, Serrao bahkan diangkat menjadi penasehat pribadi Raja, dia dan rekan-rekannya diadikan sebagai warga kehormatan istana kerajaan.

Tahun 1513. Armada dagang Portugis tiba di Ternate, di bawah pimpinan Kapten Antonio de Miranda de Azevado. Mereka membuka pos dagang pertama di Ternate dan sebuah pos kecil di Bacan.

Sebuah gambaran lukisan kota Ternate dan perairannya yang dibuat sekitar tahun 1700 M. Latar belakang Gunung Gammalama menjadi ciri khas kota ini.

Maka muncullah istilah “Abad Portugis” yang dimulai sejak 1512 M hingga akhir abad. Kepulauaan Maluku menjadi terkenal ke seluruh Eropa dan Asia.

Patut diperhatikan, bahwa yang disebut Maluku pada Abad-16 adalah 5 buah pulau kecil yang terdiri atas P. Ternate, P. Tidore, P. Motir, P. Makian dan P. Bacan. Pusat peradaban Maluku adalah Ternate dan Tidore bukan Ambon atau Banda.

________

Sumber bacaan :
1. Ternate dan Tidore, Masa Lalu Penuh Gejolak; Williard A. Hanna & Des Alwi, SH-1996
2. Penjelajah Bahari, Robert Dick-Reed, Mizan-2008
3. Sumber digital dari situs : http://www.digitale-sammlungen.de/

 
17 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2010 in Catatan Sejarah

 

Tag: , , , , , , , ,

17 responses to “SPICE ISLANDS (1)

  1. kopral cepot

    12 Mei 2010 at 18:51

    oleh-oleh yg menarik ;)

    _________________


    thank you …. mudah-mudahan suka…

     
  2. kopral cepot

    12 Mei 2010 at 19:00

    knp 1512 M digeneralisasi sebagai masa Portugis menjajah Indonesia? dr paparan diatas ternyata Portugis itu emang maksudnyah “berdagang” … mungkin istilah “abad Portugis” itu krn emang Portugis yg menguasai perdagangan pd masa itu. Sekarang itu klo negara asing menguasai perdagangan tdk disebut sebagai “menjajah”..

    Pencerahan menarik, sy minim mengenal “abad Portugis” .. hatur tararengkyu ;)

     
    • wardoyo

      12 Mei 2010 at 22:55

      Memang ada konflik yang bersifat dilematis. Portugis datang memang sebagai pedagang – sekaligus menyebarkan misi agama. Begitu juga Spanyol dan berikutnya Belanda. Walaupun yang datang adalah pedagang, namun mereka bukan sembarang pedagang melainkan “pedagang bersenjata”. Situasi saat itu memang mengharuskan demikian, karena bisa saja terjadi – armada dagang Portugis dirampok armada Spanyol atau Inggris di tengah jalan. Dan itu mungkin terjadi di masa itu (abad 15-17).
      Jadi, misi dagang – yang mengharuskan untung sebesar-besarnya – dilindungi oleh prajurit bersenjata. Celakanya lagi VOC datang dengan gaya yang berbeda – monopoli!! Mudah-mudahan update selanjutnya bisa segera sampai ke sana kang Cepot!
      Thank you juga.

       
  3. jk

    12 Mei 2010 at 20:59

    wow… tulisan yang sangat lengkap

    ___________________

    terimakasih…

     
  4. Asop

    12 Mei 2010 at 22:14

    Bagus.. :)
    Rempah2 di sini semacam apa ya?

    ____________________

    Sepengetahuan saya (dari literatur lho..), yang menjadi primadona rempah-rempah adalah CENGKEH dan PALA. Selain itu adapula KAYUMANIS dan LADA.
    Khusus untuk Cengkeh dan Pala hanya dijumpai di Maluku (hingga abad 18 kalau gak salah).

     
  5. sedjatee

    13 Mei 2010 at 14:54

    kekayaan bumi nusantara adalah magnet bagi para kolonialis…
    banyak kisah masa lalu tak terpublikasi secara adil..
    pencerahan baru tentang zaman portugis..
    thanks infonya… sukses selalu

    sedj

     
    • wardoyo

      14 Mei 2010 at 07:34

      sukses jugs bung…
      thsnks.

       
  6. bundadontworry

    14 Mei 2010 at 07:54

    artikel yg mantap sekaligus oleh2 yg bagus banget Mas.
    Pantas saja orang2 eropa (belanda) betah banget , gak mau pergi dari negeri kita ya, salah satunya krn ada si spicy island ini rupanya.
    Alhamdulillah, kita diberi negeri yg kaya raya.
    namun, kenapa negeri yg kaya, rakyatnya malah banyak yg miskin.
    terimakasih utk oleh2 yg menarik ini Mas.
    salam

     
  7. sunarnosahlan

    15 Mei 2010 at 04:20

    adakah kaitannya nama Maluku berasal dari bahasa arab yang artinya raja (mungkin berupa kerajaan yang makmur) dari kata mulk

     
    • wardoyo

      17 Mei 2010 at 11:02

      Bisa jadi betul, tetapi bisa juga tidak. Saya belum tahu sejarah awal kata Maluku itu sendiri. Sejarah telah mencatat bahwa perdagangan cengkeh sudah terjadi sejak sebelum Masehi, sementara konsep wilayah Nusantara muncul di era Majapahit, jadi kemungkinan itu tetap terbuka.
      Tetapi dalam Sumpah Palapa disebut nama Seram untuk menunjuk kepulauan di wilayah timur. Sementara itu sebuah syair kuno menyebutkan sbb :

      Muwah tang i Gurun sanusa mangaram ri Lombok Mirah
      lawan tikang i Saksakadi nikalun kahaiyang kabeh
      muwah tikang i Batangan pramuka Bantayan len Luwuk
      tekeng Udamakatrayadhi nikanang sanusaapupul

      Inkang sakanusa Makasar Butun Banggawi
      Kuni Ggaliyao mwang i(ng) Salaya Sumba Solot Muar
      muwah tikang i Wandan Ambwan athawa Maloko ewaning
      ri Sran in Timur makadi ning angeka nusatutur

      (Tertulis dalam Kitab Negarakertagama (karangan Prapanca – sekitar tahun 1364 M); SYAIR 14 , bait 3 dan 4)

      Syair ini melukiskan wilayah geografi Nusantara yang sudah dikenal di masa Majapahit. Prof. Moh Yamin, S.H. menafsirkan nama-nama geografis itu seperti :
      Luwuk adalah Luwu
      Udamakatraya berarti kep. Talaud
      Muar adalah Kep. Kei (Maluku sekarang)
      Wandan adalah Kep. Banda
      Ambwan merujuk pada Ambon
      Maloko berarti Maluku (Ternate, Tidore dll)

      Jadi, sebutan Maluku sudah sejak dulu ada (di era Majapahit disebut Maloko) yang merujuk ke wilayah Maluku Utara sekarang. Lihat saja sebutannya dipisahkan dengan Kei, Seram, Ambon dan Banda. Apakah Prapanca mengambil istilah dari Arab?? Wallahu ‘alam.

       
  8. Kakaakin

    15 Mei 2010 at 06:56

    Pulau bumbu yang menjadi bagian sejarah Indonesia dan negara2 Eropa.
    Jadi sekarang cengkeh dan pala tumbuh juga di negara lain ya…

     
    • wardoyo

      17 Mei 2010 at 11:15

      Betul Kakaakin. Cengkeh terbaik dahulu hanya ada di “Maluku”. Bahkan terdapat kisah yang seru bagaimana bangsa-bangsa Eropa berupaya mencuri bibit cengkeh yang perdagangannya dimonopoli oleh VOC – Belanda. Orang Belanda terkenal pelit, sampai-sampai mereka mengeluarkan ancaman hukuman mati bagi siapapun yang ketahuan menjual bibit cengkeh ke luar wilayah. Apa yang berlaku untuk cengkeh, berlaku juga untuk pala.

      Inggris dan Perancis berusaha untuk menembus aturan ini. Mereka sembunyi-sembunyi mencari dan membeli bibit rempah-rempah dari para penyelundup. Dibutuhkan lebih dari seratus tahun usaha untuk membawa bibit “tanaman paling berharga” ke luar wilayah Maluku dan membiakkannya.

       
  9. ascejessicVop

    17 Mei 2010 at 03:51

    Just want to say what a great blog you got here!
    I’ve been around for quite a lot of time, but finally decided to show my appreciation of your work!

    Thumbs up, and keep it going!

    Cheers
    Christian, http://www.iwatchsouthparkonline.net

     
    • wardoyo

      17 Mei 2010 at 11:32

      Thank you for your appreciation, Christian.

       
  10. Ifan Jayadi

    18 Mei 2010 at 04:42

    Ih…fotonya keren banget. Btw, ternyata saya baru tahu kalau ibukota maluku utara ternyata telah pindah ke SOFIFI. Kayanya asing deh bagiku, karena aku lebih familiar dengan berita2 sekitar TERNATE

     
    • wardoyo

      18 Mei 2010 at 14:12

      Betul sekali. Bahkan nama SOFIFI belum tercantum dalam Atlas Umum tahun 2008-2009. Kota Sofifi adalah kota baru, posisinya di pantai dekat OBA. Sofifi menjadi daerah baru berkembang setelah ibukota propinsi dipindahkan. Meski demikian, kota Ternate tetap menjadi sorotan karena bandara udara komersial ada di kota ini.

       
  11. Salsabila

    15 Oktober 2012 at 19:14

    tanks ya infona

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: