RSS

Sepenggal Kisah Mahabarata

07 Jan

Alkisah, pada satu kesempatan Duryudana dan para Kurawa mengundang Pandawa Lima untuk berpesta di Hastinapura. Dalam pesta pora itulah Pandawa terkena rayuan Sengkuni, hingga mabuk dan ikut berjudi.

Inilah awalnya.

Akibat kalah berjudi, Pandawa Lima dan Dewi Drupadi harus menjalani pengasingan selama 12 tahun di hutan ditambah 1 tahun dalam penyamaran.

Setelah masa pengasingan 12 tahun di hutan Kamiaka, Pandawa keluar dan pergi ke negeri Wirata. Para penggemar wayang tentu paham mengenai Lakon Wiratapurwa, kisah tentang Pandawa yang tengah menyamar dan bersembunyi di Hutan Wirata.

Agar identitas mereka tidak ketahuan, Puntadewa atau sering disebut Yudhistira – menyamar sebagai ahli sejarah dan tatanegara dengan nama Wijakangka, Bima sebagai Jagal/penyembelih hewan dengan nama Jagal Abilawa, Harjuna sebagai guru tari yang kebanci-bancian dengan nama Kandhi Wrahatmala, Nakula dan Sadewa sebagai pelatih dan pemelihara kuda dengan nama Darmagranti dan Tantripala. Dewi Drupadi menjadi dayang istana dengan nama Sailandri atau Salindri. (Cerita rujukan klik di sini)

Saat Wirata diserang balatentara Kurawa, para Pandawa membela Wirata. Begitu perang usai, penyamaran itupun terbongkar.

Maka berkumpulah Pandawa, Kurawa, Kresna dan Bhisma dalam sidang khusus di Hastinapura. Dan terjadilah perdebatan sengit.

Pihak Kurawa menuduh bahwa Pandawa telah mencederai janji, tidak memenuhi kesanggupan untuk mengasingkan diri selama 12 tahun dan 1 tahun menyamar tanpa ketahuan.

Sebaliknya, pihak Pandawa menolak. Mereka telah memenuhi janji. Bahkan telah lewat empat bulan dari yang seharusnya mereka jalani. Dalam hal ini, Resi Bhisma mendukung Pandawa.

Masalahnya  : mengapa ada perbedaan dalam perhitungan Pandawa dan Kurawa ?

Tentu saja berbeda! Inilah sisipan Wali Songo ketika menggagas wayang sebagai celah dalam dakwah budaya. Kisah Mahabarata versi Indonesia sarat dengan simbol ajaran Islam, salah satunya adalah dalam hitungan kalender.

Tersirat jelas bahwa Kurawa menggunakan kalender India yang berbasis lunisolar (lihat ARTIKEL sebelum ini). Sementara Pandawa menghitung dengan kalender (lunar) Hijriyah. Dengan selisih 11 hari per tahun, wajar saja jika dalam 13 tahun ada perbedaan sekitar 4 bulan.

Jadi, untuk apa heboh kalau semua ada penjelasannya?
Jangan sampai terjadi perang Baratayudha hanya karena persoalan kalender yang berbeda.

About these ads
 
29 Komentar

Posted by pada 7 Januari 2010 in Opini

 

Tag: , , , , , , , ,

29 responses to “Sepenggal Kisah Mahabarata

  1. Kakaakin

    7 Januari 2010 at 18:17

    Ya…karena semuanya hanya diatas kertas :)

     
  2. wardoyo

    7 Januari 2010 at 18:29

    Betul juga @ kakaakin…
    Mahabarata juga hanya di atas kertas.

     
  3. Dangstars

    8 Januari 2010 at 04:59

    Kisah beginian gak luntur walau zaman berubah.. :P :P
    Mantep Mas :D

     
    • wardoyo

      8 Januari 2010 at 16:22

      Betul sekali bung Dangstars. Kisah Mahabarata tidak berubah.
      Hanya penafsiran kisahlah yang selalu berubah sesuai zaman.

       
    • Anonymous

      9 April 2014 at 20:47

      iya yg mantap apaa nya sih

       
  4. alfarolamablawa

    8 Januari 2010 at 21:06

    wah baru tahu…penjelasan yang logis…hehehe

     
    • wardoyo

      11 Januari 2010 at 11:23

      Logis ato tidak diterima saja ya… Yang jelas masih masuk akal daripada sebuah mobil mentri seharga 1 milliar lebih haha..

       
  5. kopral cepot

    11 Januari 2010 at 10:16

    sejarah butuh penjelasan supaya dimengerti .. pak Wardoyo tlah mengajari saya untuk memahaminya …. hatur tararengkyu ;)

     
    • wardoyo

      11 Januari 2010 at 11:33

      Ha..ha… terimakasih kang.
      Cuma gerundelan sejarah, belum pantas dijadikan referensi…

       
  6. sedjatee

    13 Januari 2010 at 07:29

    Salam hangat untuk para sahabat
    Semoga kita selalu bersemangat
    Merangkai kata menyusun kalimat
    Persaudaraan bloger indonesia semakin kuat

    sedj

     
    • wardoyo

      13 Januari 2010 at 12:47

      Salam sejahtera juga untuk sahabat sedjatee.

       
  7. mas tyas

    13 Januari 2010 at 11:12

    *pandhawa kali penyamarannya sampai ke saudi ya, trus belajar penanggalan hijriah.. :mrgreen: *

     
    • wardoyo

      13 Januari 2010 at 13:08

      Cerita mahabarata berasal dari India, jadi gak punya urusan untuk jalan-jalan ke Saudi. Tapi Sunan Kalijogo yang didukung para wali yang lain telah menyaring nilai-nilai dalam cerita mahabarata dan memasukkan unsur-unsur Islam di dalamnya. Seperti adanya jimat Kalimosodho (dari dua kalimah syahadat) yang paling ampuh dan bisa mengalahkan semua kesaktian tokoh lain. Jimat ini dimiliki Yudistira – tokoh nomor 1 dari pandhawa.

      Juga munculnya punokawan yang bernafas Islam. Dan yang saya ungkap dalam artikel ini adalah penggunaan kalender Islam oleh pandawa. Asalnya dari mana? Untuk menjawab itu musti tanya ke Sunan Kalijogo… ha..ha.

      Trims ya mas @tyas.

       
  8. Teguh Iman Prasetya

    13 Januari 2010 at 20:11

    Sinkretisme atau Nabi yang Tak Terhitung ?

    Luar biasa ternyata anda gemar cerita pewayangan juga. Cerita Kalender yang mengasyikan secara filosofi juga mengandung makna yang dalam bagi saya dan pernah mengupas makna tersebut. Bulan yang mengitari bumi (Kabisat) dan bumi yang mengitari Matahari (Masehi). Kalender masehi sesungguhnya sudah sejak lama ditemukan oleh para astronom bangsa Mesir Kuno kira-kira 4500 SM. Sedangkan Bulan yang mengitari bumi merupakan sebuah petanda dari tanda manusia bumi yang diagungkan dan dihormati.

    Kisah Islamisasi kebudayaan Jawa yang dahulu Hindu-Budha, patut diacungkan jempol untuk Walisongo. Sinkretisme yang cantik mengalir dan menyejukan membwa misi damai.

    Sebetulnya bukan hanya dimasa Islam saja terjadi Sinkretisme, tetapi juga dimasa sebelumnya ketika terjadi penyebaran agama Hindu abad ke 1 masehi di Nusantara. Kisah Wayang Purwa (Wayang Tua) adalah contohnya, Kisah Punakawan tidak dikenal dalam literatur kuno Kitab Veda Valimiki dan Vyasa, tersiar kemudian menjadi pakem baru yang diadakan masyarakat Jawa sebagai simbol yang mengiringi ” jalan para ksatria” membawa misi suci.

    Barngkali sebagai peringatan dan pelesetan yang aneh juga, bukan hanya mental budak [pembantu, pengiring) yang tercermin, namun juga dapat malih rupa dan mengadakan pemberontakan dan lebih sakti dibandingkan para Dewa yang ada di kahyangan Suralaya.

    Nabi yang tak terhitung

    Mengenai Wayang Purwa saya pernah membaca kisah tersebut dari komikus terkenal RA. Kosasih. Sangat menarik sekali bahkan dikaitkan mengenai asal muasal manusia dewa (avatar) mereka yang sesungguhnya merupakan turunan dari salah satu nabi juga yaitu Nabi SIS nabi yang gemar akan ilmi ghaib dan sihir.

    Dalam banyak hal patut dicurigai juga bahwa kisah orang-orang suci dalam kitab Hindu (Sri Kresna) dan Budha Sidharta Gautama adalah para nabi juga, dimana ajarannya ada tentang ketuhanan. Wallahu a’lam

    Dalam Islam jumlah yang dihitung adalah 25 nabi namun diakui adanya jumlah yang sangat banyak dimasa lalu dan Islam adalah agama terakhir yang menyempurnakan peradaban manusia.

    Namun barangkali sejarah adalah sejarah yang berangkat dari jejak perjalanan dari peradaban manusia.

     
    • wardoyo

      14 Januari 2010 at 11:32

      Terimaksih untuk pencerahannya.

       
  9. batavusqu

    18 Januari 2010 at 13:24

    Salam Takzim
    Kembali ending yang mengharukan kalender india dengan Hijriah yang memiliki perbedaan 11 hari, menjadi cerita yang dimaklumi, sukses kang dengan mahabaratanya
    Salam Takzim Batavusqu

     
    • wardoyo

      18 Januari 2010 at 15:51

      hatur nuhun kang, semoga dimaklumi juga keterbatasan penafsiran ane

       
  10. bundadontworry

    18 Januari 2010 at 13:54

    baca tulisan ini, jadi ingat kalau dinegeri kita, tiap kali hari raya selalu ada yang berbeda, gak serempak seperti natal atau tahun baru.
    lalu mulailah diperdebatkan, namun makin kesini, akhirnya reda sendiri.
    Salam.

     
    • wardoyo

      18 Januari 2010 at 15:20

      butuh kedewasaan untuk menghadapi perbedaan ya, bunda

       
    • Slamet Sukirbumen

      9 Januari 2014 at 12:24

      Bunda, natalpun dan perbedaannya ada yang Desember ada juga januari, kan

       
  11. gd arya sukrawan

    15 November 2012 at 13:15

    kenapa kurawa dan pandawa harus bertarung?

     
  12. mepo

    15 April 2013 at 13:59

    si pandawa ini memang hobi nya suka berjudi ya? :\

    Jasa SEO

     
    • Slamet Sukirbumen

      9 Januari 2014 at 12:32

      baca dong ceriteranya, yang menajak judi dan jelas dengan diseratai minum yang memabokan atas rajuan Sangkuni dari korawa, pandawa sadar itu tidak baik, tetapi karena kena rasa menjaga harga diri, shg hilang lah kewaspadaaanya itu sebagai peringatan kpd kita jugi jadi miskin, minum cukrik menuju kematian, seperti di surabaya (manyar dan wonokromo) dan mojokerto barusan thn baru, ya kan, dan pandawa juga bukan anak anak pandu dengan madrim dan kunthi anak apa itu, korawa juga bukan main mistisnya, ceceran daging jadi bayi seratus. ini ken ceritera kan !

       
  13. properti semarang

    22 Mei 2013 at 11:07

    harusnya kisah2 yang seperti ini di bikin film layar lebar nya nih. sekalian melestarikan cerita2 asli dongeng indonesia. heheh

     
  14. Slamet Sukirbumen

    9 Januari 2014 at 12:23

    memang judi itu kejam akibatnya, dan ceritera alasan perbedaan waktu memang hanya mahabarata di jawa saja aslinya di india bukan itu, memang kurawa yang tidak mau mengembalikan indraprasta, walaupun cuma mita lima desa saja tetap tidak diberikan, dan pada waktu itu Durjudana belum jadi raja masih Pangeran, Maharajanya adalah Destrarastra sebagai wali untuk anak Pandu. yaitu hebatnya para pujangga.

     
  15. Anonymous

    7 Maret 2014 at 12:12

    Untung di jaman sunan kalijogo belum ada undang2 hak cipta, kalo jman sekarang bisa dituntut tu mas sunan, apa lagi sudah menyangkut agama yg berbeda’.

     
  16. Suryodianto Suryodianto

    12 Maret 2014 at 10:11

    Memang Mahabrata hanya karya sastra bukan realita. Tapi karya tersebut hampir menjadi realita kehidupan sepanjang budaya manusia

     
  17. Km Mongil

    31 Maret 2014 at 15:23

    Mahabarata sdh berupa cerita dan terjadi di India. Sekarang sedang terjadi Peristiwa Maha Dahsyat di Bumi Nusantara dengan judul “Kembalinya Kejayaan Majapahit”. Selamat menikmati. (skenario ada pada Eyang Antakusuma)

     
  18. huda

    13 April 2014 at 21:29

    Mahabarata bagus filem nya .tambah jam tayang lebih lama lgi

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: