RSS

50 Tahun Pengakuan Kedaulatan RI 27-12-1949

27 Des

27-12-1949 : Pengakuan Kedaulatan atau Penyerahan Kekuasaan

Untuk lebih memahami latar belakang Peristiwa Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda 50 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 27 Desember 1949 berikut ini kronologis peristiwa dalam versi sejarah resmi :

(Foto Lubang Bundar, bukan Meja Bundar)

Antara tahun 1946 hingga 1948 Pemerintah Belanda yang tetap ingin kembali menikmati manisnya gula tebu Indonesia menggelar politik pecah-belah. Mereka mendirikan federasi – negara kecil berikut ini :

  • 15 Juli 1946, di Sulawesi Selatan Belanda menyelenggarakan Konferensi Malino, dengan agenda membentuk Negara Indonesia Timur. Konferensi ini dilanjutkan di Denpasar, 18-24 Desember 1946, dan berhasil membentuk NIT dengan presidennya, Sukawati.
  • 12 Mei 1947, membentuk Negara Borneo Barat dengan Kepala Negara, Sultan Hamid Algadri II.
  • 23 Januari 1948, mendirikan Negara Madura. Gubernur Jendral Van Mook melantik P.A.A Tjakraningrat sebagai penguasa Madura.
  • 24 Maret 1948, Belanda mendirikan Negara Sumatra Timur dengan mengangkat Dr. Tengku Mansyur sebagai penguasa NST.
  • 4 Mei 1947, van Mook membujuk Soeria Kartalegawa mendirikan Negara Pasundan, tetapi akhirnya gagal. Pada konferensi ke-2, tanggal 16 Oktober 1947 dan 20 Desember 1947, Negara Pasundan kembali gagal dibentuk. Akhirnya pada konferensi ke-3 di Bandung pada tanggal 16 Februari hingga 5 Maret 1948 barulah Negara Pasundan berhasil dibentuk dengan R.A.A. Wiranatakusumah sebagai Wali Negara.
  • 3 Desember 1948, di kota Bondowoso diadakan konferensi untuk mendirikan Negara Jawa Timur. Van der Plas berhasil mengangkat R.T.P Achmad Kusumonegoro sebagai Wali Negara.
  • Sebagai pemersatu negara-negara federal tersebut, Belanda mendirikan Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) atau Badan Permusyawaratan Federal, pada tanggal 24 Mei 1948, dengan ketuanya Sultan Hamid II.

    Republik Indonesia saat itu adalah wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah serta sebagian Sumatra dengan Pjs Presiden Mr. Asaat. Kecilnya wilayah RI adalah akibat Perjanjian Renville (Agustus 1947).

    Dalam adu kesabaran, orang Indonesia memang lebih unggul. Belanda dengan penuh percaya diri melanggar Perjanjian Renville pada tanggal 19 Desember 1948, pukul 23.30 WIB, melalui pernyataan pejabatnya Dr. Beel. Belanda melancarkan Agresi Militer II. Presiden Soekarno, Moh. Hatta dan beberapa mentri ditawan dan diasingkan.

    Akhirnya, dengan melancarkan perang gerilya, Indonesia memaksa Belanda ke meja perundingan. Pada 17 April – 7 Mei 1949 diadakanlah Perundingan Roem-Royen. Salah satu point penting dari hasil perundingan ini adalah : Belanda maupun Indonesia akan mengadakan perundingan lebih lanjut dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.

    KMB inilah yang merupakan sasaran akhir perjuangan saat itu. Pengakuan Kedaulatan RI. Pimpinan delegasi dari Indonesia adalah Drs. Moh. Hatta. Sedangkan Sultan Hamid Algadri II mewakili BFO. Belanda diwakili oleh Mr. van Maarseveen.

    Sebuah perundingan yang alot. Sumitro Joyohadikusumo salah satu saksi sejarah yang ikut sebagai anggota delegasi saat itu.

    Akhirnya, sesuai dengan hasil persetujuan KMB, pada tanggal 27 Desember 1949 berlangsunglah acara Pengakuan Kedaulatan. (Sejarah versi Belanda menyebutnya Penyerahan Kedaulatan… beda gak sih?)

    • Acara di Negeri Belanda : Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Drees dan Mentri Seberang Lautan Mr. A.M.J.A. Sassen menyampaikan pengakuan Belanda terhadap kedaulatan RI kepada Drs. Moh. Hatta.
    • Acara di Indonesia : bertempat di Jakarta, Wakil Tinggi Mahkota Belanda A.J.H. Lovink pada hari itu menyerahkan kekuasaaan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang mewakili pemerintah RIS.

    Jadi, jika bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus, sebenarnya pemerintah Belanda mencibir. Karena mereka mengakui Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 Desember.

    Tapi, benarkah kita sudah benar-benar MERDEKA??

    About these ads
     
    17 Komentar

    Ditulis oleh pada 27 Desember 2009 in Catatan Sejarah

     

    Tag: , , , , , , ,

    17 responses to “50 Tahun Pengakuan Kedaulatan RI 27-12-1949

    1. kopral cepot

      27 Desember 2009 at 21:22

      27 Desember 1949 .. pengakuan kedaulatan RIS (Republik Indonesia Serikat) jd yg diakuinya banyak al RI-Yogya diwakili oleh M.Hatta dan BFO.
      Jasa M.Natsir dengan Mosi Integrasi yg melahirkan nama NKRI 17 Agustus 1950.
      Banyak hal yg menarik disekitar peristiwa ini.

      Semoga kita kenal dengan MERDEKA

       
      • wardoyo

        28 Desember 2009 at 10:28

        Terimakasih kang untuk pandangannya. Memang sejarah negeri ini menarik, terutama dalam semangat para pimpinan nasional saat itu yang bahu-membahu dalam menghadapi kolonialisme Belanda dan mempertahankan keutuhan NKRI. Tidak tahu siapa yang paling berjasa, karena semua tidak mengharapkan jasa.
        Soekarno sebagai simbol pemersatu dan penyemangat, Hatta sebagai pemikir dan diplomat, Sudirman bergerilya di hutan-hutan, Syafrudin dan Natsir dengan Pemerintahan Darurat. Rasanya cuma PKI yang sibuk sendiri di Madiun (1948).

         
    2. sedjatee

      28 Desember 2009 at 08:44

      dokumentasi sejarah yang akurat.. semoga terus berkibar di 2010… Mas Wardoyo klop banget dengan kepakaran Kopral Cepot… diskusinya nyambung terus, hehehe… salam sukses…

      sedj

       
      • wardoyo

        28 Desember 2009 at 10:31

        Terimakasih bung sedjatee…
        Masalahnya saya gak punya bendera, jadi gak tahu apa yang mau dikibarkan di 2010…ha..ha..

         
    3. peri01

      28 Desember 2009 at 09:45

      salam kenal :)

       
      • wardoyo

        28 Desember 2009 at 10:32

        Salam kenal juga @peri01

         
    4. Kakaakin

      29 Desember 2009 at 08:38

      Sepertinya kita tidak akan pernah bisa benar-benar merdeka…
      Karena kehidupan kita masih memerlukan orang lain atau negara lain… :)
      Tinggal kualitas “memerlukan” orang lain ini yang bagaimana. Jika disertai dengan “berhutang”… yang jangan heran jika hal ini berarti kita kembali terjajah, karena pihak yang berutang itu yang paling gampang diinjak-injak ‘kan???
      Angka 50 tahun, seperti tak bermakna apa-apa :(

       
      • wardoyo

        29 Desember 2009 at 09:28

        Merdeka ada dalam jiwa.
        Kedaulatan ada dalam sikap.
        Pengakuan hanya sampah sejarah.

        Terimakasih untuk pandangannya.

         
    5. alfarolamablawa

      29 Desember 2009 at 16:43

      apalah artinya merdeka(real) jika kita belum merdeka dari buta huruf, kemiskinan, kepincangan sosial…

      salam..

       
    6. Djoko Sableng

      31 Desember 2009 at 09:35

      Salam Kenal Mas, Saya suka banget sama Blog sampeyan ini. banyak info sejarahnya. Saya suka sejarah. Lebih mantap kalo disertai gambar ato foto jadulnya.

       
    7. Fitri

      31 Desember 2009 at 09:37

      Merdeka!

       
    8. katakatalina

      31 Desember 2009 at 14:48

      Merdeka…,
      saya setuju sama bung wardoyo.
      tergantung dari sisi mana memaknai kemerdekaan,

       
      • wardoyo

        2 Januari 2010 at 15:36

        @ alfarolamablawa : setuju sekali dengan pandangan sampeyan…

        @ Djoko Sableng : menarik sekali usulannya, patut untuk dipertimbangkan..

        @ Fitri : Merdeka juga!

        @ katakatalina : sejarah memang seperti dua sisi mata uang.

         
    9. sedjatee

      31 Desember 2009 at 15:51

      Kami menyampaikan selamat tahun baru, semoga senantiasa sukses dalam menjalani kehidupan… tetap semangat…

      sedj

      http://sedjatee.wordpress.com

       
      • wardoyo

        2 Januari 2010 at 15:37

        Selamat Tahun Baru juga bung sedjatee…

         
    10. zipoer7

      3 Januari 2010 at 19:04

      Salam Takzim
      Selamat tahun baru 2010
      Maap telat, jangan didamprat
      apalagi dihujat, maklum padat
      Semoga tetap sehat, dan selalu semangat
      memberikan sajian yang selalu bermanfaat
      Salam Takzim Batavusqu

      ______________

      salam sudah dibalas kang, langsung di sasaran

       
    11. cerita novel

      6 Juli 2011 at 13:21

      Memang pengakuan 1949 itu terhadap RIS bukan terhadap RI, Tapi hal itu menjadi momentum untuk tetap eksisinya RI dan menjadi RI lagi dengan UUDS 1950

       

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

     
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d blogger menyukai ini: