RSS

Tragedi Di Majapahit

26 Des

TEORI DAN SKANDAL DI BUBAT

Ibukota Majapahit dihias semarak. Tamu-tamu dari berbagai kerajaan kecil dan para utusan telah bersiap-siap. Walaupun acara puncak yang ditunggu-tunggu masih beberapa hari lagi. Acara pernikahan kali ini memang direncanakan besar-besaran dan akan menjadi yang termegah di seantero Nuswantara. Pernikahan Sang Prabu Hayam Wuruk (HW) dan Putri Dyah Pitaloka (PDP) dari Kerajaan Pajajaran.

Namun, Ibunda Raja – Gusti Putri Tribuana (GPT) pagi itu tampak tengah bersitegang dengan Sang Perkasa – Mahapatih Gadjah Mada (MGM).

GPT : “Wahai Mahapatih. Apa maksudmu dengan dampak sistemik? Jelaskan kepadaku agar aku bisa mengerti yang kau mau.”

MGM terdiam berpikir keras, “Bukankah sudah jelas maksud hamba, Gusti Putri…. Maksud hamba dengan dampak sistemik, yaitu efek berantai yang besar kemungkinan akan terjadi, seandainya Pajajaran tidak takluk di bawah Payung Kebesaran Majapahit. Para Raja kecil yang telah kita taklukan akan mengejek. Mereka akan mengira, Majapahit gentar dan tak punyanyali melawan Raja dari Tanah Pasundan. Sedikit-demi sedikit mereka tidak lagi menghormati kita. Majapahit takkan dipercaya sebagai penguasa Nuswantara. Yang jelas, sinar matahari di langit Wilwatikta tidak akan komplit dan sempurna.”

GPT : “Jadi, maksudmu bagaimana?”

MGM : “Pajajaran harus menjadikan PDP sebagai persembahan. Putri yang cantik jelita itu merupakan tanda takluknya Pajajaran kepada Kebesaran Wilwatikta.”

GPT: “Oh, Jagad Dewa Bathara! Itu menyinggung kehormatan. Hal yang tak mungkin diterima Paman Prabu Maharaja Siliwangi dari Pajajaran! Mereka pasti takkan mau kehormatan mereka diinjak. Ambisimu terlalu berlebihan dan sepihak.”

Prabu HW yang sejak tadi diam dalam kegelisahan, akhirnya ikut angkat bicara, “Jadi, kau anggap apa perkawinanku? Ingatlah, gadis tercantik di kolong langit itu calon Permaisuriku!”

MGM tetap low profile dan tersenyum dingin, “Benar, Baginda Prabu Yang Mulia. Namun hamba hanya mengingatkan, Panji Matahari yang terbesar di Nuswantara. Sedangkan Pajajaran hanya sebuah Kerajaan kecil saja.”

Perdebatan terus berlangsung. Dan, pada akhirnya PDP dan HW dengan hati penuh bimbang menyetujui “draft” yang diajukan Sang Mahapatih.

Keesokan harinya sejarah mencatat, strategi dan ambisi MGM ternyata berdampak runyam. Kesalahan prosedur dalam mengambil tindakan. Niat suci berbuah Skandal Bubat.

Seluruh rombongan pengantin dari Pajajaran habis dibantai. Sang Prabu Siliwangi dan para Panglima terbunuh, setelah bertempur menyabung nyawa; Permaisuri Raja dan Si Jelita – Dyah Pitaloka – bunuh diri berikut seluruh dayang-dayangnya.

**

Wilwatikta berkabung.
Langit Majapahit dirundung mendung.

MGM menjadi buah cibiran seluruh ibukota.
Niat mulia MGM menjadi sasaran cemooh dan sumpah serapah.
Para utusan dan Raja-raja kecil terperangah.
Para pendeta segera menyiapkan dupa.

Dalam balairung dibuka sidang darurat.
GPT dan HW yang masgul merasakan hawa amarah.
Para petinggi keraton dan keluarga raja terbelah.
Raja Wengker bergembira melihat isyarat
menjadi besan GPT adalah niat pribadi.
Cakradara terhanyut dalam emosi.

GPT : “MGM sudah keterlaluan. Kepedihan ini apakah dia mampu merasakan?”

HW : “Wahai bunda, hatiku hancur kehilangan tumpuan. Tragedi ini telah memusnahkan segala impian…”

GPT : “Anakku, HW. Tindakan MGM amat keji dan tidak bisa diabaikan. Akankah kau berdiam, MGM menyakiti rasa keadilan seluruh rakyat Nuswantara. Dengan menabrak seluruh ajaran etika dan kehormatan?”

HW : “MGM telah berjasa besar untuk Kejayaan Wilwatikta, tetapi aku merasa sepertinya kini ia telah terlalu tua.”

GPT : “Apa tindakanmu?”

HW : “MGM harus menon-aktifkan dirinya.”

Cakradara : “Maaf, Ananda Prabu HW. Jangan tergesa-gesa. Hal ini akan menimbulkan dampak sistemik yang tak terkira.”

GPT : “Dampak sistemik lagi yang kudengar! Apa maksudmu, paman luar?”

Cakradara : “MGM adalah pengikat persatuan seluruh Kerajaan di Langit Majapahit. Jika dirinya tak lagi aktif, dampak sistemiknya akan luar biasa. Para bangsawan akan berebut muka. Kendali negeri akan bagai benang terlilit.”

HW : “Aku tidak setuju! Perbuatan MGM itulah yang telah menimbulkan terjadinya Skandal Bubat. Kini, Raja-raja lain tidak lagi akan menghormat. Satu-persatu mereka akan menjauhkan diri. Jika kita tetap berdiam diri.”

Perdebatan berlangsung dalam suasana penuh gusar dan emosi. Namun, Isu non-aktifnya MGM telah tersebar di seantero wilayah.

MGM sama sekali tak disertakan. MGM adalah tertuduh, penanggung jawab skandal dan tragedi. Dan memang, MGM tidak pernah meminta maaf, karena MGM selalu merasa benar dalam tindakan.

Jatuhlah keputusan Sri Baginda. MGM menerima saran untuk beristirahat dan non-aktif hingga situasi tenang seperti sediakala. Itulah keputusan terbaik. Kesalahan prosedur di lapangan ditanggung MGM sendiri. Karena memang anak-buahnya tak pernah salah mengikuti perintah.

Sejak saat itu, berangsur matahari Majapahit menjadi redup bersinar.
Banyak kerajaan kecil memisahkan diri.
Para pangeran mulai berhati makar.
MGM hilang tak tentu dikuburkan.
Kebesaran Armada Nala pun menghilang dari catatan Mpu Tantular.

    Tetapi apakah benar, kemerosotan Majapahit akibat dampak sistemik dari Skandal Perang Bubat???

    ***

    (Laman ini terinspirasi oleh Humaira dengan style Melayu Poem-nya yang jenaka)
     
    12 Komentar

    Posted by pada 26 Desember 2009 in Cerita Miring

     

    Kaitkata: , , , , ,

    12 Respon untuk Tragedi Di Majapahit

    1. bundadontworry

      26 Desember 2009 at 16:27

      yang jelas dampak sistemik, ada pada dunia perblogan , yaitu saling memberi komentar dari satu tulisan ke tulisan lain, atau Blowalking..he…he..
      salam.

       
      • wardoyo

        26 Desember 2009 at 17:00

        Terimakasih bunda, saya ikut merasakan dampak sistemik versi bunda…

         
    2. Dangstars

      26 Desember 2009 at 20:57

      Terimakasih atas sejarah tragedi Majapahitnya :P

      ______________________

      sejarah tinggal sejarah, yang memberi makna adalah kita sendiri… terimakasih

       
    3. Kakaakin

      29 Desember 2009 at 08:26

      Sejarah yang ditulis dengan bahasa modern :)

       
      • wardoyo

        29 Desember 2009 at 09:25

        Sejarah “apapun” menjadi media belajar untuk menghadapi masa depan.

         
    4. Kang Nur

      16 Januari 2010 at 16:34

      Mencoba memahami kosa-kata “dampak sistemik” melewati lintas-batas ruang dan waktu.

       
      • wardoyo

        17 Januari 2010 at 11:05

        Terimakasih sudah berkunjung @ Kang Nur. Ayo kita buat sejarah menjadi lebih menarik dan kontekstual.

         
    5. kumbang99

      17 Januari 2010 at 11:05

      apakah akan terulang lagi “Banjir Darah di Bubat”…

       
      • wardoyo

        17 Januari 2010 at 11:08

        sudah sering sekali berulang… ketika yang berkuasa memaksakan kehendak kepada yang lebih lemah – dengan cara apapaun, itu artinya mengulangi sejarah Bubat.

         
    6. ferry

      25 Februari 2010 at 21:36

      saya senang membaca blog ini…..saya dulu ingin tahu kebesaran majapahit…sampai saya pergi ke mojokerto trowulan tahun 2005.
      Oke banget tempatnya…dari caringin lawang hingga….kolam renang raja2nya…
      semua sudah saya jelajahi..hingga ke makam prabu hayam wuruk hingga makam tribuana tunggal dewi dll…
      Apa yang kita alami negara ini ngak jauh dari rebutan kakuasan……

       
    7. DiAniQue

      4 Maret 2010 at 20:46

      Mksh bgt tas blogY,
      BtW,it bNern g?
      Cob dUnk tUlis sej tTg khdupn dlm mAjapahit lampAu…

       

    Tinggalkan Balasan

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

    Connecting to %s

     
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: