ASAL USUL KATA INDONESIA
Kepulauan Indonesia pernah disebut dengan beberapa nama diantaranya :
- Nan-hai (kepulauan laut selatan) – sebutan bangsa Cina
- Dwipantara (Kepulaun Tanah Sebrang) - sebutan dalam catatan India
- Indische Archipel, Indian Archipelago, Archipel Indian – sebutan bangsa Eropa
- Malay archipelago
- Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) - sebutan dari VOC
- Tio – Indo (Hindia Timur) – sebutan bangsa Jepang
Selain itu sebutan lain yang juga dikenal seperti :
- Swarnadwipa (pulau emas) – dalam lakon Ramayana
- Jazair al-Jawi (Kepulauan Kemenyan) – sebutan bangsa Arab
Sebutan lain oleh bangsa Arab seperti sumathrah, sholibis atau sundah juga dikenal tetapi semuanya disebut kulluh jawi (semuanya Jawa). Bagi bangsa Eropa semua yang terbentang antara Persia dan China adalah HINDIA. Maka dikenal sebutan Hindia Muka untuk anak benua India dan Hindia Belakang untuk kawasan Asia Tenggara.
Multatuli mengusulkan nama INSULINDE yang berarti Kepulauan Hindia tetapi tidak dipakai oleh banyak orang dan kurang populer.
Dr. Setiabudi menggunakan nama NUSANTARA yang diambil dari kitab Pararaton.
George Samuel Windsor Earl, seorang etnolog asal Inggris menulis dalam Journal of The Indian Archipelago And Eastern Asia vol IV, 1850, halaman 66-74 sebuah artikel berjudul On the Leading Characteristic of the Papuan, Australian and Malay Polybesian Nations. Ia mengajukan pilihan nama untuk menyebut negara kepulauan ini denga sebutan Indunesia atau Melayunesia. Earl lebih cenderung menggunakan yang kedua yaitu Melayunesia.
Sementara itu, redaktur majalah tersebut Richardson Logan menulis artikel pada halaman 252-347 dalam jurnal yang sama, The Ethnology of The Indian Archipelago. Ia memakai istilah Indonesia meminjam istilah Indunesia dari tulisan Earl.
“Mr. Earl suggest the etnographical term Indunesian, but reject it in favour of Melayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia which is merely shorter, synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.”
Jadilah istilah Indonesia digunakan dalam buku-buku sarjana Belanda untuk menyebut kawasan Hindia Belanda secara geografi. Jangan salahkan para ‘founding father’ kita kalau ikut memakai sebutan itu.
Lha wong Sukarno, Yamin, Hatta dll itu sekolah di sekolahnya Belanda. Tidak perlu heran kalau yang sesuatu yang berbau Belanda diterima dengan senang hati.








kyuutaro
20 Juli 2009 at 16:30
Artikel yang bagus, tapi kurang satu hal.
Kapan nama Indonesia ditetapkan secara resmi untuk menyebut negara kepulauan ini???
wardoyo
29 Juli 2009 at 16:19
Saya sudah cari-cari di berbagai sumber. Kalau istilah “resmi” yang Anda maksudkan adalah seperti peresmian jembatan Suramadu, jelas gak ada referensinya. Semua bertahap dan berjalan alamiah. Bastian, penulis Belanda di akhir abad-19 sering menggunakan istilah Indonesia. Ki Hajar juga sering pake istilah Indonesia. Tinggal Soekarno/Hatta/Yamin yang sibuk mencari reference dan legitimasi sejarah untuk penggunaan istilah ini dan batas teritorinya.
Salam dan terimakasih.
fahmi
17 Oktober 2009 at 18:30
…………………………………………………………….ha ha ha hahaha…………………….